Literasi Digital Menciptakan Masyarakat Dengan Pola Pikir Kritis-Kreatif

oleh -523 views
Sekretaris Daerah (Sekda) Malaka Donatus Bere membuka Seminar Literasi Digital dengan Tema Masyarakat Cakap Literasi Digital di SMA Negeri 1 Malaka Barat di Besikama, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada hari Kamis (05/03/2020).

MALAKA, suluhdesa.com – Sekretaris Daerah(Sekda) Malaka membuka Seminar Literasi Digital dengan Tema Masyarakat Cakap Literasi Digital Bekerja Sama Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dengan Dinas Kominfo Kabupaten Malaka yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Malaka Barat di Besikama, Kecamatan Malaka Barat, Kabupaten Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada hari Kamis (05/03/2020).

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (PKPO) Malaka Petrus Bria Seran, Kapolsek Malaka Barat, Tokoh Masyarakat serta diikuti oleh Kepala Sekolah dan Siswa SMAN 1 Malaka Barat.

Sekda Malaka Donatus Bere saat membacakan sambutan Bupati Malaka Stefanus Bria Seran mengatakan, konsep literasi digital sangat erat dengan penggunaan media digital, dalam hal ini penggunaan media internet. Penggunaan media internet belakangan ini menjadi kebutuhan dalam setiap aktivitas yang menuntut perolehan informasi yang begitu cepat.

Internet menyediakan akses informasi yang cepat dan senantiasa diperbaharui setiap saat. Untuk itu, akses terhadap sumber daya informasi digital sangat melimpah. Setiap orang bebas memasukkan informasi di dunia maya tanpa batasan. Istilah digital native mengandung pengertian bahwa generasi muda saat ini hidup pada era digital, yakni internet menjadi bagian dari keseharian dalam hidupnya.

Setiap individu perlu memahami bahwa literasi digital merupakan hal penting yang dibutuhkan untuk dapat berpartisipasi di dunia modern sekarang ini.

Literasi digital sama pentingnya dengan membaca, menulis, berhitung, dan disiplin ilmu lainnya. Generasi yang tumbuh dengan akses yang tidak terbatas dalam teknologi digital mempunyai pola berpikir yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Setiap orang hendaknya dapat bertanggung jawab terhadap bagaimana menggunakan teknologi untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Baca Juga:  Kepala BP4D Malaka Ikuti Vicon, Koordinasi Dokumen Perencanaan Pembangunan Daerah

Teknologi digital memungkinkan orang untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan keluarga dan teman dalam kehidupan sehari-hari.

Sayangnya, dunia maya saat ini semakin dipenuhi konten berbau berita bohong, ujaran kebencian, dan radikalisme, bahkan praktik- praktik penipuan. Keberadaan konten negatif yang merusak ekosistem digital saat ini hanya bisa ditangkal dengan membangun kesadaran dari tiap-tiap individu. Menjadi literat digital berarti dapat memproses berbagai informasi, dapat memahami pesan dan berkomunikasi efektif dengan orang lain dalam berbagai bentuk.

Dalam hal ini, bentuk yang dimaksud termasuk menciptakan, mengelaborasi, mengomunikasikan, dan bekerja sesuai dengan aturan etika, dan memahami kapan dan bagaimana teknologi harus digunakan agar efektif untuk mencapai tujuan.

 Termasuk juga kesadaran dan berpikir kritis terhadap berbagai dampak positif dan negatif yang mungkin terjadi akibat penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Memacu individu untuk beralih dari konsumen informasi yang pasif menjadi produsen aktif, baik secara individu maupun sebagai bagian dari komunitas. Jika generasi muda kurang menguasai kompetensi digital, hal ini sangat berisiko bagi mereka untuk tersisih dalam persaingan memperoleh pekerjaan, partisipasi demokrasi, dan interaksi sosial. Literasi digital akan menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis-kreatif.

Mereka tidak akan mudah termakan oleh isu yang provokatif, menjadi korban informasi hoaks, atau korban penipuan yang berbasis digital.

Baca Juga:  Anak Belajar di Rumah Selama COVID-19, Dampingi Penggunaan Internetnya

Dengan demikian, kehidupan sosial dan budaya masyarakat akan cenderung aman dan kondusif. Membangun budaya literasi digital perlu melibatkan peran aktif masyarakat secara bersama-sama.

Menjadi literat digital berarti memahami kapan dan bagaimana teknologi harus digunakan agar efektif untuk mencapai tujuan positif.

Perlu disadari bahwa pengguna Internet di Indonesia saat ini terus bertumbuh dan meningkat jumlahnya dari tahun ke tahun.

Berdasarkan survey dari APJII diawal tahun 2019, pengguna Internet di Indonesia pada tahun 2018 telah mencapai 171,17 Juta Jiwa dari total 256 juta jiwa atau dengan kata lain, penetrasi Internet telah mencapai 64%. 171,17 Juta Jiwa bukanlah angka yang kecil, jumlah tersebut menempatkan Indonesia sebagai pengguna Internet ke-4 di dunia berdasarkan data dari We Are Social. 171,17 Juta jiwa tersebut akan riuh riang di dunia siber setiap saat dan setiap dengan rata – rata penggunaan Internet per orang mencapai 8 jam 36 menit sehari.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa masyarakat masih belum memahami norma dan aturan yang berlaku di Internet yaitu Undang – Undang nomor 19 tahun 2018 tentang perubahan atas Undang – Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Oleh karena itu pembinaan dan sosialisasi terhadap norma dan aturan tersebut perlu digencarkan agar dalam memanfaatkan teknologi, masyarakat tidak menyalahi norma dan aturan yang berlaku. (Sumber : UU Nomor 19 Tahun 2018).

Berdasarkan hal tersebut, Literasi Digital adalah sebuah urgensi di era digital. Dengan adanya literasi digital, maka setiap orang akan lebih kritis terhadap penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan sehari – hari. Dengan kata lain, seseorang akan mampu memfilter mana yang baik dan mana yang buruk dengan memilih dan memilah positif-negatifnya sehingga bisa mendapatkan manfaat penggunaan teknologi informasi dan komunikasi sebesar – besarnya.

Baca Juga:  Kunjungi Kecamatan Kobalima, Bupati Malaka Minta Para Kades Hindari Korupsi

Mengedukasi masyarakat khususnya pelajar dalam memanfaatkan teknologi dan komunikasi dengan menggunakan teknologi digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, mengelola, dan membuat informasi secara cerdas, kreatif dan produktif.

Sasaran dari kegiatan ini adalah meningkatkan wawasan dan pengetahuan masyarakat khususnya pelajar dalam menggunakan teknologi digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, mengelola, dan membuat informasi secara cerdas, kreatif dan produktif.

Manfaat Umum

Memberikan wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat khususnya kepada pelajar terkait penggunaan teknologi digital dan alat-alat komunikasi atau jaringan untuk menemukan, mengevaluasi, menggunakan, mengelola, dan membuat informasi secara cerdas, kreatif dan produktif.

Kepala Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (PKPO) Kabupaten Malaka, Petrus Bria Seran, dalam arahannya menegaskan bahwa, siswa-siswi harus banyak membaca karena membaca akan memudahkan informasi.

“Gunakan media digital pada tempatnya jangan digunakan untuk hal yang tidak pada tempatnya seperti melihat video dan gambar yang kurang senonoh, kalian belum saatnya menuju kesana. Tugas kalian cukup belajar hingga pintar dan menjadi pengganti kami pada saatnya nanti,” tegasnya.

Petrus menjelaskan, siapa yang menguasai informasi, maka dia akan mengontrol apa saja yang diinginkannya sehingga mampu menguasai dunia. Hal ini merupakan sebuah fakta yang tidak dapat dibantah dan memang seperti itulah kenyataanya.

“Dalam konteks hari ini globalisasi sudah nyata terjadi, serta teknologi sudah tidak mengenal lagi batasan. Dimana sebuah informasi dishare di media massa, maka seluruh belahan dunia dapat menjangkaunya baik di desa maupun di kota jadi pada intinya kalian rajin belajar,” tutup Petrus. (edi.s/edi.s)