Remaja Putri Menstruasi di Sekolah, Para Guru Diimbau Siapkan Toilet yang Nyaman

oleh -529 views
Asisten Pemerintah dan Kesejahteraan Rakyat Setda Malaka (Asisten I) Zakarias Nahak membuka workshop sanitasi total berbasis masyarakat manajemen kesehatan menstruasi di sekolah di aula hotel Ramayana Betun pada hari Rabu (04/03/2020).

MALAKA, suluhdesa.com – Asisten Pemerintah dan Kesejahteraan Rakyat Setda Malaka (Asisten I) Zakarias Nahak membuka workshop sanitasi total berbasis masyarakat manajemen kesehatan menstruasi di sekolah di aula hotel Ramayana Betun pada hari Rabu (04/03/2020). Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari hingga kamis (05/03/2020) dan diselenggarakan oleh Yayasan Plan International Indonesia (YPII). 

Pelaksanaan workshop ini dihadiri oleh kepala Dinas PKPO Malaka, seluruh Kepala Puskesmas, para Kepala Sekolah serta menghadirkan narasumber dari Kementerian Kesehatan.

Target dalam kegiatan ini untuk mewujudkan Sanitasi Berbasis Masyarakat (STBM) di setiap kampung sekaligus mengaplikasikan perilaku hidup sehat di masyarakat yang dapat mencegah penyebaran penyakit.

Asisten I Zakaria Nahak yang mewakili Bupati Malaka Stefanus Bria Seran (SBS) menyampaikan bahwa pemerintah terus melakukan sosialisasi dan kampanye untuk mewujudkan program hidup sehat sehingga bisa diterapkan oleh seluruh masyarakat dan menghasilkan generasi yang kuat secara mental dan fisik.

Baca Juga:  Kades Mbobhenga Dilantik: Akan Bangun Desa dengan Iman

“Para Kepala Puskesmas dan para Kepala Sekolah saya minta agar selalu gencar mengampanyekan Sanitasi Berbasis Masyarakat (STBM) ini kepada masyarakatnya,” pinta Nahak.

Dalam menjaga kesehatan di masyarakat, ia mengharapkan agar para Kepala Sekolah dan para Kepala Puskesmas bisa melakukan pembenahan kepada generasi muda sejak dini.

Hal ini untuk mempersiapkan generasi yang kuat dan cerdas serta selalu menjaga kebersihan.

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (PKPO) Malaka Petrus Bria Seran Kepada media ini mengatakan, “kalau ada masyarakat yang kurang mampu dan sedang hamil, kepala sekolah Kepala puskesmas bisa memberikan perhatian penuh. Karena yang akan dilahirkannya nanti merupakan penerus dari kita. Jadi sejak dini sudah bisa diperhatikan generasi yang akan lahir di kampung masing-masing. Tentu harapannya, setiap kampung bisa memiliki generasi yang kuat dan cerdas,” jelasnya.

Dalam penerapan STBM ini, kata Petrus, ada lima pilar yang harus diterapkan. Yaitu stop buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum-makanan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Diharapkan agar lima pilar ini bisa diaplikasikan untuk mempermudah upaya peningkatan akses sanitasi masyarakat yang lebih baik serta mengubah dan mempertahankan keberlanjutan budaya hidup bersih dan sehat.

Baca Juga:  Stef Bria Seran: Mengenai Calon Wakil Bupati, Bukan Kewenangan Saya

“Begitu juga dengan target mewujudkan perilaku masyarakat yang higienis dan saniter secara mandiri bisa terlaksana,” tukasnya.

Terpisah ECCD & Wash National Project Manager Semuel A. Niap dari Yayasan Plan International Indonesia menjelaskan bahwa kegiatan ini masih dalam rangkaian kegiatan Sanitasi Berbasis Masyarakat (STBM). Kegiatan saat ini juga merupakan Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) yang adalah bagian dari sanitasi sekolah.

Baca Juga:  Satgas Pamtas RI-RDTL, Pasang Pipa Saluran Air Bersih Untuk Masyarakat Tasinifu

“Kegiatan hari ini kami lebih banyak mengundang guru-guru Sekolah Dasar (SD), para Kepala Puskesmas  se-Kabupaten Malaka. Tujuan kita berupaya pengelolaan kebersihan dan kesehatan pada saat anak perempuan datang bulan. Sekarang ini banyak anak perempuan kelas lima hingga kelas enam mengalami menstruasi. Itu kadang terjadi di sekolah,” imbuhnya.

Semuel berharap para guru memberikan imbauan kepada anak dan remaja putri agar dapat menggunakan pembalut yang bersih, dapat diganti sesering mungkin selama periode menstruasi, dan memiliki akses untuk pembuangannya, serta dapat mengakses toilet, sabun, dan air untuk membersihkan diri dalam kondisi nyaman dengan privasi yang terjaga.

“Toilet sekolah harus berfungsi baik, dengan pintu yang dapat dikunci dari dalam dan terpisah antara perempuan dan laki-laki, serta mempunyai wadah untuk membuang pembalut bekas. Bicara soal sanitasi, kebersihan menstruasi, itukan terkait dengan perilaku kalau kita sama-sama bekerja berperilaku yang baik kepada stakeholder yang ada untuk membangun perubahan perilaku kemudian sarananya akan menyusul,” tegasnya. (edi.s/edi.s)