Uskup Denpasar Suarakan Gereja yang Mandiri

oleh -777 views
Uskup Keuskupan Denpasar Mgr. Dr. Silvester San

DENPASAR, suluhdesa.com – Uskup Keuskupan Denpasar Mgr. Dr. Silvester San menyuarakan pentingnya Gereja yang mandiri. Tema ini ditegaskan Uskup San dalam surat gembalanya yang bertajuk “Gereja Yang Mandiri.” Surat gembala ini diterbitkan dalam rangka prapaskah dan paskah 2020.

Uskup San tegaskan tema Pastoral Keuskupan Denpasar tahun 2020 adalah Gereja Yang Mandiri yang merupakan amanat Sinode IV Keuskupan Denpasar. Ini merupakan tema tahun ketiga dari hasil kesepakatan Sinode IV Keuskupan Denpasar yang  diadakan pada November 2018 lalu. Uskup San katakan dalam praksis pastoral di berbagai keuskupan di Indonesia ramai diperbincangkan tentang Gereja Mandiri dalam wilayah Gereja lokalnya masing-masing. Uskup tegaskan Gereja yang mandiri dimengerti sebagai berdikari, tanda kedewasaan dan kematangan. Gereja yang mandiri berarti  menjadi Gereja yang telah dewasa dan matang, sudah teruji karena mampu mengurus diri sendiri, tidak tergantung pada pihak luar dan bisa menghidupi diri sendiri secara material dan spiritual.

Dalam surat gembala tersebut Uskup San menyoroti  kemandirian dalam tiga kebutuhan Gereja Lokal yakni mandiri dalam bidang iman spiritual, mandiri dalam bidang spiritual dan mandiri dalam bidang finansial.

Baca Juga:  WKRI Keuskupan Atambua Bagikan Sembako untuk Warga

Disampaikan Uskup San, iman yang dimiliki umat di Keuskupan Denpasar  adalah sungguh iman mereka, bukan iman yang ditempelkan atau dilekatkan pada mereka. Iman itu harus dihayati dalam konteks situasi  dan budaya setempat sehingga berakar, bertahan dan tidak tergoyahkan.

Uskup San  menghendaki agar Imam dan semua tenaga pelayan yang membaktikan diri dalam wilayah Keuskupan Denpasar  adalah orang-orang yang berasal dari Keuskupan sendiri dan diambil dari umat setempat. Karya pastoral  bukan monopoli kaum tertahbis melainkan tanggung jawab  seluruh umat.  Melalui baptisan umat turut mengambil bagian dalam tri tugas Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja. Uskup San mengakui mandiri dalam tenaga tampak belum terpenuhi. Ia mengajak para orangtua untuk mendorong putra putri menjadi Imam dan Biarawan-Biarawati. Juga meminta agar awam terlibat dalam berbagai tugas Pastoral.

Baca Juga:  Tingkatkan Solidaritas, Satgas Pamtas RI-RDTL Yonif 132/BS Renovasi Gereja

Terkait dengan kemandirian bidang finansial, Uskup  mengharapkan agar semua sarana pelayanan pastoral, gedung, alat-alat  komunikasi serta pelayan pastoralnya dibiayai oleh umat atau Gereja Lokal dan bukan dengan tergantung  dari orang lain atau donatur. Prinsipnya Gereja harus menghidupi diri sendiri dari sumbangan para anggotanya . Umat sendiri harus bertanggung jawab atas kelangsungan kehidupan Gerejanya.

Baca Juga:  Bupati SBS Senang, Ibadat Minggu di Malaka Sesuai Protokol Covid-19

Uskup San juga tegaskan kemandirian secara finansial harus tampak pula dalam diri keluarga -keluarga Katolik. Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi telah mengadakan sosialisasi  program pemberdayaan ekonomi umat ke paroki-paroki dengan memanfaatkan dana dari APP dan HPS. Uskup San harapkan gerakan pemberdayaan ekonomi umat mendapat sambutan positif dari paroki-paroki dan umat dengan membentuk komunitas-komunitas usaha untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi umat. (Agust G Thuru/Gus)