Aku Hanya Segenggam Debu

oleh -150 views
Ilustrasi Misa Rabu Abu

PUISI, suluhdesa.com – Puisi ini adalah karya Agust G Thuru, seorang Jurnalis senior dan sastrawan yang tinggal di Denpasar. Puisi ini merupakan sebuah refleksi seorang manusia yang lemah dan rapuh di hadapan Sang Kehidupan. Secara khusus puisi ini ditujukan kepada seluruh Umat Katolik universal yang merayakan Rabu Abu (Pembukaan masa puasa sebelum Hari Raya Paskah) pada hari ini Rabu (26/02/2020). Selamat menikmati.

Aku cuma segenggam debu

Mungkin tak cukup menyemai bibit

Baca Juga:  SEMA STIPAS KAK Dilantik, Harus Bekerja Sesuai Kebenaran

Agar tumbuh menjadi kekuatan

Menghadapi  kehidupan di bawah cakrawala

Yang makin buas dan ganas

Aku cuma butir-butir debu

Yang terserak antara bongkahan

Terlindas oleh perputaran roda kehidupan

Antara Hitam dan putih sejarah

Aku selalu merasa kecil dan tak berarti

Cuma kawanan  yang dipaksa harus mengalah

Menerima saja  apa kata kawanan adidaya

Baca Juga:  Merantau ke Desa

Haruskah pasrah

Ketika segenggam debu memberi kehidupan?

Aku cuma segenggam debu

Tetapi  akar-akar  pohon kehidupan

Mengikat  jiwa dan raga

Agar tak boleh kalah

Dan merasa tak punya harga

Di mata  dunia yang fana

Aku memang segenggam debu

Di saatnya pun akan kembali menjadi debu

Tapi hari-hari yang liar

Adalah ancaman  yang mengintai

Baca Juga:  Uskup Katolik Di Roma Dukung Lelaki Menikah Jadi Pastor

Menghancurkan humus debu

Untuk tak lagi menumbuhkan

Hari ini aku segenggam debu

Dalam metanoia yang  terjaga

Ketika saatnya lonceng pertobatan

Menggaung dan  menarikku pulang

Ke dekapan Sang  Pencipta

Denpasar, Rabu Abu 2020

Oleh: Agust G Thuru