Banyak Kasus Kematian Tidak Wajar Warga NTT, Menjadi “Dark Number” di Polda NTT

oleh -160 views
Petrus Selestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia dan Advokat Peradi.

OPINI, suluhdesa.com – Akhir-akhir ini berita tentang peristiwa kematian tidak wajar yang dialami oleh warga NTT di beberapa Kabupaten/Kota di NTT yang tidak tertangani dengan sungguh-sungguh bahkan dipetieskan menjadi “dark number” karena tidak diungkap, jumlahnya semakin banyak bahkan ramai diperbincangkan oleh publik hingga diangkat dalam Forum Group Diskusi (FGD) kalangan Akademisi, sebagai bentuk kontrol publik terhadap kinerja Polri sekaligus memberikan legitimasi kepada profesionalisme polri  melalui kontrol publik.

Diangkatnya kasus-kasus kematian tidak wajar beberapa warga NTT yang tidak dapat diungkap dalam proses penyelidikan dan penyidikan oleh Polda NTT, sebagai protes sekaligus ungkapan keprihatinan atas pelayanan Penegakan Hukum yang setengah hati dan tidak profesional dari Penegak Hukum Cq. Polda NTT. Kasus kematian tidak wajar alm. Anselmus Wora di Ende, alm. Markus Nula di Nagekeo, alm. Nimrod Tameno, Mikael Louis Alhan, Heribertus Uskono di Kupang dan sekitarnya, dalam wilayah hukum Polda NTT, menambah panjang daftar kasus-kasus kematian tidak wajar yang jadi “dark number” alias gagal diungkap tanpa pertanggung jawaban ke publik.

Kasus kematian tidak wajar alm. Nimrod Temeno, 78 tahun, yang meninggal tanggal 28 Oktober 2018, akhirnya baru dilaporkan oleh  pihak Keluarga almarhum, ke Polda NTT pada tanggal 23 Januari 2019 setelah menunggu sekitar 3 bulan pihak Polres Kabupaten Kupang tidak mengambil langkah penyelidikan atas dugaan pembunuhan terhadap alm. Nimrod Tameno, Warga Desa Tunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, NTT, akhirnya dilaporkan ke Polda NTT, begitu juga kasus kematian alm. Anselmus Wora di Ende, yang meninggal tanggal 30 Oktober 2019 dengan lubang berdarah di kepalanya ikut ditangani Penyidik Polda NTT, namun hingga saat ini tidak jelas hasilnya.

Baca Juga:  KAMI Adalah Kumpulan Tokoh yang Memiliki Nafsu Besar Tetapi Tenaga Kurang

Publik menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap Polri seiring dengan fasilitas tercukupi dan gaji yang tinggi diterima oleh anggota Polri, fasilitas kerja dengan ruang ber AC, kendaraan dan alat komunikasi yang canggih bahkan Polda NTT dipimpin oleh seorang Jenderal Polisi bintang dua, mestinya pelayanan hukum menjadi jauh lebih baik, namun yang dirasakan oleh publik NTT ternyata jauh dari harapan, jauh panggang dari api sebagaimana yang dirasakan oleh Keluarga alm. Anselmus Wora dan Nimrod Tameno yang menunggu hasil otopsi dan/atau akan otopsi tetapi tidak kunjung datang.

Rendahnya Tanggung Jawab Profesi

Keluarga alm. Nimrod Tameno selaku pihak yang melapor menyatakan kekecewaan atas penanganan kasus kematian tidak wajar alm. Nimrod Tameno, penanganannya berlarut-larut. Juga Keluarga alm. Anselmus Wora di Ende, sangat kecewa karena jenazah alm. Anselmus Wora telah digali dan diotopsi tetapi hasilnya tidak kunjung diumumkan. Beredar isu tidak sedap bahwa otopsi akan dimanipulasi dan kasus ditutup, menambah panjang daftar kasus-kasus kematian tidak wajar warga NTT yang menjadi “dark number” semata-mata karena Polisi NTT setengah hati atau tidak sungguh-sungguh bekerja secara profesional, sebagai pertanda rendahnya tanggung jawab profesi.

Baca Juga:  Bangun Mall, Isi Perut Pemda Sikka Tergadaikan Dengan PT. YKI

Yang lebih tragis adalah Tempat Kejadian Perkara (TKP) kematian alm. Nimrod Tameno yang diduga akibat pembunuhan itu, tidak jauh dari segala akses yang tersedia di Kabupaten Kupang karena tidak jauh dari markas Polda NTT, namun penanganan kasus ini sangat menyedihkan, ini ada apa? Sebab sudah sudah 1 (satu) tahun lebih Laporan Polisi diterima Polda NTT dan janji akan dilakukan otopsi, tetapi otopsi yang dijanjikan pun tidak dilaksanakan hingga saat ini.

Padahal berdasarkan investigasi yang dilakukan oleh pihak Keluarga, diperoleh sejumlah fakta yang memberi keyakinan kepada keluarga bahwa alm. Nimrod Tameno meninggal karena pembunuhan. Karena itu setelah menanti cukup lama tidak ada penanganan dari Polres Kabupaten Kupang, akhirnya Keluarga melaporkan sendiri ke Polda NTT guna mendapatkan penanganan yang lebih profesional namun kekecewaan yang didapat oleh keluarga korban.

Baca Juga:  Dalang Kaburnya Tahanan Polresta Malang Ditembak Polisi

Diperlukan Kontrol Publik yang Meluas

Upaya non litigasi yang dilakukan oleh Keluarga korban dan Penasehat Hukum Keluarga melalui kegiatan FGD bekerja sama dengan Unwira di Kupang, NTT membahas penanganan kasus kematian tidak wajar alm. Nimrod Tameno, yang sudah tergolong “dark number” sebagai langkah yang sangat bagus, sebagai bentuk partisipasi Praktisi Hukum dan Akademisi Kampus membangun opini publik guna memperluas kontrol publik dan membuka mata pimpinan Polri terhadap penanganan kasus-kasus “dark number” di NTT.

Sementara perjuangan Garda NTT di Bareskrim Mabes Polri Jakarta mendesak Kapolri untuk memerintahkan Kapolda NTT untuk segera menangkap pelaku pembunuhan terhadap alm. Anselmus Wora, juga Mahasiswa PMKRI Kupang mendesak Polda NTT menetapkan tersangka pelakunya namun Polda NTT tetap bergeming tidak memberi signal akan segera menangkap pelaku malah berlindung dibalik hasil otopsi yang tidak kunjung diumumkan. Saat ini Garda NTT sedang mengidentifikasi beberapa nama yang diduga kuat sebagai pelaku pembunuhan terhadap alm. Anselmus Wora dan rencananya akan dilaporkan kepada Bareskrim Mabes Polri karena Polda NTT dinilai tidak mampu dan tidak Promoter. (*)

Oleh; Petrus Selestinus, Koordinator TPDI & Advokat Peradi