Kepemimpinan Megawati Soekarnoputri yang Feodalistik Lahirkan Banyak Kader Benalu

oleh -350 views
Petrus Selestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia dan Advokat Peradi.

OPINI, suluhdesa.com – Nama Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, tidak hanya disebut-sebut terlibat dalam skandal suap PAW Harun Masiku untuk menggusur Anggota DPR RI Fraksi PDIP Riezky Aprilia, akan tetapi juga muncul dalam kasus Caleg PDIP lainnya seperti Marlon Simanjuntak yang merupakan caleg DPRD terpilih Kabupaten Kampar, yang kehilangan haknya menjadi Anggota DPRD karena tidak sanggup menyediakan uang menjelang dilantik.

Begitu juga nasib Caleg PDIP Aleksius Akim, Ia tidak hanya kehilangan haknya untuk menjadi Anggota DPR RI dari Dapil Kalbar I akan tetapi juga Ia harus kehilangan keanggotaannya di PDIP sebagai akibat menolak PAW yang secara sewenang-wenang dilakukan oleh Hasto Kristiyanto demi meloloskan Caleg DPR RI pada nomor urut paling bawah. Banyak pihak menduga ini bermotif uang dan budaya feodal di PDIP, sehingga PAW selalu menjadi skandal yang semakin perburuk citra PDIP di mata publik.

Pengalaman “sial” Marlon Simanjuntak, Caleg DPRD PDIP Riau sebagaimana dilansir oleh Kamarudin Simanjuntak, Kuasa Hukum Marlon Simanjuntak, bahwa Marlon Simanjuntak meski caleg DPRD terpilih, namun hanya karena tidak bisa memenuhi permintaan uang, oleh Hasto Kristyanto diberikan surat penundaan pelantikan, hingga Marlon Simanjuntak harus bolak balik Pekanbaru-Jakarta untuk menghadap  Ketua Umum Megawati Soekarnoputri, meminta tolong supaya dikeluarkan rekomendasi pelantikan, namun semua upaya itu sia-sia belaka.

Melihat pengalaman Harun Masiku, Aleksius Akim, Marlon Simanjuntak dan beberapa Caleg lainnya yang nanti akan bersuara, bahwa di PDIP modal pintar dan dipercaya rakyat saja tidak cukup untuk menjadi Anggota DPR, karena masih ada satu syarat lagi yaitu uang besar. Di sinilah budaya uang dan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri yang feodalistik, telah berdampak buruk dimana Partai hanya melahirkan banyak kader benalu yang menjadikan Partai sebagai lahan untuk tempat mencari uang.

Banyak kader pintar, berbudi pekerti baik bahkan dipercaya oleh rakyat terancam di PAW hanya karena tidak punya uang. Mereka setiap saat terancam di PAW akibat oknum PDIP yang tergoda uang dari Caleg berduit yang sering menjadi sapi perahan. Karena itu meskipun PDIP selalu tampil sebagai Parpol peraih suara terbanyak pada pemilu, namun kader yang dihasilkan sebagian berorientasi hanya pada uang dan kekuasaan, sedangkan kader yang terpilih karena dukungan rakyat, setiap saat terancam di PAW. 

Baca Juga:  Warga Baru Eks Timor Timur Sambut Paket SN-KT di Malaka dengan Tarian

Pengalaman Marlon Simanjuntak sama dan serupa dengan Aleksius Akim, Caleg DPR RI Dapil Kalbar I terpilih suara terbanyak namun dengan menggunakan senjata hak prerogatif Ketua Umum Partai, nasib kader-kader cerdas pilihan rakyat akan tergusur demi uang atas nama hak prerogatif Ketua Umum yang sering disalahgunakan. Ibarat hanya untuk membunuh seekor semut-pun Hasto Kristiyanto konon berlindung di balik hak prerogatif Megawati Soekarnoputri. (*)

Baca Juga:  Warga Nangahale yang Sholat Berjamaah di Tengah Covid-19, Melanggar Protap Kesehatan

Oleh; Petrus Selestinus, Koordinator TPDI & Advokat Peradi