Polres Nagekeo Pasif dan Santai Terhadap Kasus Kematian Kakek Markus Nula

oleh -470 views
Petrus Selestinus, Koordinator Tim Pembela Demokrasi Indonesia dan Advokat Peradi.

NAGEKEO, suluhdesa.com – Sudah 2 (dua) bulan sejak Rabu, 11 Desember 2019 lalu, alm. Kakek Markus Nula (83 tahun), warga Boasabi, RT 011, Kelurahan Dhawe, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo, ditemukan tewas mengapung di sungai dangkal Aesesa, tidak jauh dari kampung tempat tinggal dan kebun milik alm. Kakek Markus Nula. 

Petrus Selestinus, Koordinator TPDI dan Advokat Peradi kepada Media SULUH DESA pada hari Minggu (09/02/2020) pukul 18.00 wita lewat pesan Whatsapp mengatakan, meskipun berita kematian alm. Kakek Markus Nula cukup menggetarkan Masyarakat Nagekeo, akan tetapi pihak Polres Nagekeo pasif, apatis bahkan santai menyikapi berita kematian alm. Kakek Markus Nula. Polres Nagekeo bahkan menganggap sebagai kematian yang wajar, sehingga tidak perlu dilakukan tindakan pertama di TKP atau olah TKP sesuai SOP, KUHAP dan terlebih-lebih prinsip Polisi Promoter.

Lebih lanjut Petrus Selestinus mengatakan bahwa, awalnya masyarakat Nagekeo dan keluarga korban alm. Kakek Markus Nula menerima kematian alm. Markus Nula sebagai kematian yang wajar, karena pihak Kepolisian-pun tidak melakukan tindakan pertama di TKP, sehingga masyarakat dan keluarga alm. Kakek Markus Nula pun, hanya fokus pada persiapan memandikan jasad alm. Kakek Markus Nula untuk ritual adat dan agama menuju persiapan pemakaman.

“Namun dua bulan kemudian setelah korban dikubur, keluarga alm. Kakek Markus Nula mulai berkonsultasi dengan pihak Penasehat Hukum, menganalisa sejumlah tanda fisik alm. Kekek Markus Nula saat dimandikan di rumah, di situ ditemukan beberapa tanda mencurigakan pada fisik alm. Kakek Markus Nula dan tanda-tanda lain di sekitar TKP,” ucap Petrus.

Baca Juga:  Nagekeo Dapat Opini WTP, Bupati; Prestasi yang Dikawal Wakil Bupati Marianus Waja

Petrus Selestinus pun membeberkan beberapa fakta temuan antara lain;

1. Di Tempat Kejadian Perkara (TKP) diperoleh informasi bahwa korban jatuh terpeleset lalu tenggelam dan mati terbawa arus. Tetapi fakta di lapangan menyatakan sangatlah tidak masuk akal, sebab kedalaman air sungai tidak sampai selutut, dan di sana tidak ada bebatuan, lokasinya rata, tidak ada tebing dan di kebun korban ditemukan dua bilah parang.

2. Saat ketika korban dimandikan oleh keluarga, ditemukan tanda-tanda mencurigakan, yakni: ada luka memar di bahu belakang bagian kanan; ada benjolan pada pelipis sebelah kanan; ada luka memar pada pipi bagian kanan; ada darah yang keluar lewat hidung dan telinga; ada luka di bagian dalam bibir bawah; ada luka goresan di lengan atas sebelah kanan; ada gumpalan darah yang sudah mengering pada kepala bagian belakang.

3. Terdapat orang bertingkah aneh dan mencurigakan pada hari penemuan mayat alm. Kakek Markus Nuli di TKP, yaitu sebelum korban ditemukan meninggal, ada yang mengancam akan membakar rumah korban, ada telpon dari tetangga kepada anak korban yang meminta anak korban segera datang ke TKP, karena ada mayat yang ditemukan sudah meninggal (artinya si penelpon sudah tahu siapa mayat yang mengapung di sungai), sebelum diidentifikasi oleh masyarakat.

Baca Juga:  Bhabinkamtibmas Polsek Tongas Hadiri Musdes Terkait Dana Desa

4. Juga ada latar belakang sengketa tapal batas tanah antara korban dengan tetangganya  yang berlokasi dekat dengan TKP, ditemukan korban meninggal. 

“Atas dasar fakta-fakta di TKP dan tanda-tanda yang melekat pada fisik korban, maka diperoleh petunjuk awal di pihak Keluarga dan Masyarakat Nagekeo bahwa korban mati tidak wajar, dan untuk itu satu-satunya jalan Polres Nagekeo harus melakukan tindakan Kepolisian berupa penyelidikan dan penyidikan dengan memeriksa sejumlah orang sebagai saksi, sambil meminta otopsi terhadap jasad korban, atas biaya negara,” tegas Petrus.

Petrus Selestinus yang merupakan advokat kenamaan NTT ini meminta Polres Nagekeo yang baru dibentuk itu guna memenuhi kebutuhan pelayanan penegakan hukum, ketertiban dan keamanan masyarakat di Kabupaten Nagekeo, maka Polres Nagakeo telah menampilkan sikap abai terhadap visi KAPOLRI yaitu Polisi yang profesional, moderen dan terpercaya (PROMOTER) sebagai implementasi terhadap visi Presiden Jokowi tentang Polsi yang profesional dalam melindungi rakyat secara cepat dan tepat.

“Polres Nagekeo telah menempatkan kasus kematian tidak wajar alm. Kakek Markus Nuli sebagai “delik aduan” tanpa ada langkah-langkah proaktif di TKP terutama olah TKP, mempoliceline TKP, mencurigai seseorang atau lebih, memeriksa keluarga korban dan saksi-saksi fakta di lapangan. Polres Nagekeo tidak merespons ratapan suara publik, tentang sejumlah kejanggalan di TKP, malah ikut nimbrung dalam gosip-gosip seputar kematian alm. Markus Nula tanpa langkah pro justitia,” tandas Petrus.

Hal Inilah yang disesalkannya, mengapa Polres Nagekeo mengabaikan tanggung jawab hukumnya? apakah Polres Nagekeo akan mengulangi hal serupa yang pernah terjadi di Ngada pada tahun 2008 saat alm. Romo Faustinus Sega ditemukan di semak-semak dalam kondisi fisik penuh tanda-tanda mencurigakan tetapi Polres Ngada langsung menyimpulkan sebagai mati wajar dan langsung dikubur?

“Masyarakat menuntut Kapolres Nagekeo proaktif, membuka penyelidikan, penyidikan memanggil saksi-saksi, lakukan olah TKP meskipun sudah 2 (dua) bulan berlalu. Jadikan tersangka beberapa orang yang dicurigai, karena semangat pembentukan Polres Nagekeo yang belum lama diresmikan, tidak boleh mati suri, apalagi tidak merespons kematian tidak wajar alm. Kakek Markus Nula. Mestinya  kasus kematian tidak wajar alm. Kakek Markus Nula, harus menjadi prestasi pertama Polres Nagekeo memenuhi rasa keadilan masyarakat Nagekeo yang sudah bertahun-tahun menjadi Kabupaten tanpa punya Polres sendiri,” pinta Petrus.

Petrus Selestinus menyampaikan jika, Kapolres Nagekeo AKBP Agustinus Hendrik Fai, SH, M., Hum dan Timnya tidak mampu bekerja, tidak mampu mewujudkan program Kapolri yaitu Polisi yang PROMOTER, maka segera angkat kaki dari Nagekeo agar Kapolri dan Kapolda NTT segera mengganti dengan Kapolres dan Timnya yang lebih profesional sehingga dapat mewujudkan pemenuhan hak masyarakat Nagekeo di bidang pelayanan hukum dan penegakan hukum. (ps/fwl)