Gembala Berjiwa Pemaaf: Kenangan Bersama Rm. Lukas Nong Baba, Pr

oleh -365 views
Almarhum Rm. Lukas Nong Baba, Pr

SOSOK, suluhdesa.com – Bajawa, Januari  1994. Suhu politik pemilihan Bupati Ngada periode 1994-1999 terasa hangat. Gelombang dukungan terhadap bupati aktif  periode 1989-1994 Drs. Yoachim Reo terus disuarakan oleh masyarakat Ngada. Ketika itu Ngada belum mekar menjadi dua kabupaten. Demikian juga gelombang protes bergulir menyusul isu yang berhembus bahwa Gubernur NTT Herman Musakabe  tidak merestui Yoachim Reo untuk maju sebagai Calon Bupati Ngada periode 1994-1999.

Alasan  Gubernur Herman Musakabe tak merestui Yoachim Reo maju lagi sebagai calon Bupati Ngada adalah karena tenaga dan keahlian Yoachim Reo lebih dibutuhkan oleh Provinsi. Kelak setelah Pemilihan Bupati Ngada berlalu, alasan Herman Musakabe memang terbukti  karena Yoachim kembali ke habitatnya sebagai Kepala Dispenda NTT.

Protes  masyarakat terus bergulir menyusul  fraksi-fraksi di DPRD Ngada menetapkan calon Bupati Ngada periode 1994-1999 yakni Drs. Johanes Samping Aoh dan dua nama lainnya yang tidak populer. Nani Aoh saat itu menjabat Ketua DPRD Ngada. Protes penolakan terhadap calon definitif terus bergulir.

Baca Juga:  OMK St. Familia Wae Nakeng, Kaum Muda yang Tidak Lupa Rumah

Saat itu terjadi pengkotakan masyarakat pendukung. Setengah penduduk Ngada mendukung Nani Aoh dan setengahnya lagi menolak. Namun palu Dewan sudah diketuk yakni Nani Aoh menjadi calon kuat.

Di tengah situasi dukung mendukung  seringkali logika  sudah tak berlaku lagi. Yang ditonjolkan adalah rasa kedaerahan, suku dan asal serta rasa kekaguman atas prestasi dan kinerja kepemimpinan seseorang.  Bahkan pers saat itu pun kehilangan netralitas. Di kondisi inilah saya mempunyai pengalaman khusus dengan Romo Lukas Nong Baba, Pr.

Saya lupa entah dari siapa saya mendapat  copy surat permandian  calon bupati Nani Aoh. Saya lupa. Tapi saya ingat dua copy surat permandian  itu dengan tanggal lahir yang berbeda dan ditandatangani oleh Romo Lukas yang kala itu adalah Pastor Paroki MBC Bajawa. Saya menganggap  surat permandian itu adalah sebuah permainan  politik yang melibatkan pastor paroki.

Dari copy surat permandian dan isu-isu lainnya  yang saya pandang melanggar demokrasi Ngada  maka saya menerbitkan sebuah  buku kecil berjudul Tangisan Demokrasi Ngada 1994. Salah satu yang saya tulis dalam buku itu adalah copy surat permandian atas nama Johanes S Aoh. Buku kecil itu menjadi heboh.

Baca Juga:  Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (6); Kini dan Masa Depan

Pemilihan Bupati Ngada pun berakhir dengan terpilihnya Bapak Yohanes S Aoh sebagai Bupati. Saya sendiri sadar bahwa sebagai jurnalis saya tidak netral. Bahkan saya merasa berjalan di jalan sesat. Karena itu setelah Bapak Johanes S Aoh dilantik sebagai Bupati Ngada, saya bertemu beliau di  rumah jabatan  dan meminta maaf. Ini ungkapan pak Nani Aoh: “Agus, inilah politik. Saya sudah makan garam di politik. Jadi saya biasa saja. Cuma saya pesan, jurnalis harus netral,” itu pesan pak Bupati Nani Aoh yang saya ingat sampai saat ini.

Dua Minggu setelah pelantikan Pak Nani Aoh, saya diminta bertatap muka dengan Romo  Lukas Nong Baba. Saat itu saya sendiri, sedangkan bersama Romo  Lukas adalah Almarhum Bapak Dominikus Ngao mantan guru saya di SMP Sanjaya Bajawa dan Bapak Drs. Thomas Dolaradho almarhum. Setelah saling mengungkapkan isi buku, saya menyampaikan permohonan  maaf yang sedalam-dalamnya. Saya tahu telah melakukan kekeliruan dalam kapasitas saya sebagai jurnalis.

Yang mengharukan Romo Lukas merangkul saya dan berkata: “Agus saya ini Imam, saya gembalamu. Saya harus memberi contoh berani memaafkan. Saya memaafkanmu,” Dan ia memberkati saya dan tersenyum. Hati saya damai, sungguh damai karena beban saya terangkat. Memang tidak enak hidup dalam konflik sekali pun bermuatan politis yang mungkin orang memandangnya hal yang biasa.

Baca Juga:  Idul Fitri 1441 H, Momen Tumbuhkan Solidaritas dan Persaudaraan Antar Agama

Dari status Facebook saya mengetahui bahwa Romo Lukas Nong Baba telah pulang ke rumah Bapa. Saya bersyukur pada Desember 2019 lalu saya berkesempatan mengunjunginya, menemaninya makan siang, berpelukan dan mendapat berkat darinya saat ia dirawat di RSU Wangaya Denpasar . Terima kasih Romo Lukas. Engkau memang  gembala yang murah hati, murah senyum dan pemaaf sejati. Bahagialah di Surga bersama para pejuang kemanusiaan Wolokoro. Terima kasih untuk sahabatku Romo Gerardus Janga,Pr yang memungkinkan pertemuan berharga ini. (*)

Oleh: Agust G Thuru, Mantan Jurnalis SKM DIAN

Denpasar 20 Januari 2020