Misi Kepada Umat, Kaum Religius Tidak Cukup Berdoa Dalam Biara

oleh -494 views
Para Biarawan/Biarawati atau kaum Religius Katolik Keuskupan Agung Kupang foto bersama saat mengikuti Pekan Hidup Bakti X di Aula Biara Claret Matani yang dilaksanakan selama tiga hari mulai hari Kamis (16/01/2020) sampai hari Sabtu (18/01/2020).

KUPANG, suluhdesa.com – Pada Pekan Hidup Bakti (PHB) X para kaum hidup bakti atau kaum Religius Keuskupan Agung Kupang, berkumpul untuk belajar bersama. Di bawah tema Misi Kaum Religius Bersama Keluarga, Orang Muda dan Sosial Ekonomi ini, para Kaum Religius diajak untuk mengenal dengan baik kegembiraan, kecemasan dan suka duka umat yang dilayani.

Kegiatan yang terjadi di Aula terbuka Claret Matani ini dilaksanakan selama tiga hari mulai hari Kamis (16/01/2020) sampai hari Sabtu (18/01/2020). Kegiatan ini dihadiri oleh 29 Kongregasi yang bermisi di Keuskupan Agung Kupang (KAK) dan terdiri dari 45 Komunitas. Kegiatan belajar bersama ini, 210 peserta yang hadir sungguh-sungguh merasa bahwa wawasannya dibuka untuk melihat misi dan panggilan mereka sebagai kaum religius.

Kegiatan PHB X ini dibuka pada hari pertama dengan materi yang disampaikan oleh Yang Mulia Mgr. Petrus Turang dengan menekankan pada seruan Paus Fransiskus dalam Ensiklik (surat gembala) Exultate et Gaudete. Mgr. Turang menegaskan bahwa panggilan semua orang Kristiani adalah panggilan pada kekudusan. Kekudusan adalah panggilan untuk semua keluarga, orang muda yang percaya kepada Kristus. Oleh karena itu panggilan pada kekudusan harus dijalankan dengan penuh sukacita.

Kegiatan kali ini juga menghadirkan perwakilan dari Pasangan Suami dan Istri (Pasutri) Dominggus Hyron dan Noniek Fernandez yang menjabat sebagai Koordinator Marriage and encounter KAK dan perwakilan orang muda Stefanus Christovall Bilo dan Maria Ana Kaka. Mereka membagikan pengalaman hidup mereka, kecemasan dan kegembiraan yang mereka alami sebagai keluarga dan anak muda di era globalisasi ini.

Baca Juga:  Natal Bersama SMPN 10 Kupang: Peristiwa Solidaritas dan Ekspresi Cinta Dalam Perbedaan

Hyron dan Noniek berharap kaum religius harus terus memperhatikan keluarga-keluarga Kristiani dengan cara lebih sensitif dan responsif sebab keluarga adalah dasar dalam hidup bermasyarakat dan menggereja.

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Kristo dan Nana sebagai Orang Muda Katolik. Harapan mereka adalah kaum Religius mau menghadirkan wadah-wadah agar membantu anak muda untuk menemukan jati dirinya.

Seorang Sr Postulan yang diwawancarai oleh Media SULUH DESA mengatakan bahwa, kegiatan kali ini sangat menyenangkan. Sebab selain pemateri yang berkompeten, melalui kegiatan ini ia bisa mengenal banyak Kongregasi dan mengenal banyak pribadi yang datang dari latar belakang yang berbeda.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Fr. Ferdinandus Naibobe, CMF, bahwa kegiatan PHB ini sungguh sangat luar biasa.

“Saya merasa ada wawasan baru yang saya peroleh selama mengikuti kegiatan ini. Selain itu saya merasa momen seperti ini, adalah momen untuk saling menguatkan di antara kaum religius untuk tetap setia dengan pilihan hidupnya,” ucap Fr. Ferdinandus.

Baca Juga:  Kabupaten Ende Terapkan PSBB, Marius: Harus Dikomunikasikan dengan Baik

P. Yohanes Dari Salib Jeramu, CMF selaku ketua panitia mengutarakan jikalau harapan yang diusung tema ini adalah kaum religius harus berani keluar dari kenyamanan diri sendiri dan belajar untuk mendengarkan rintihan dan mampu menyalurkan aspirasi umat yang tidak berdaya. Sehingga untuk menunjang harapan itu dihadirkan pemateri-pemateri yang sejatinya sangat berkompeten dengan bidang-bidang yang ingin dicapai dalam kegiatan ini.

Lebih lanjut dikatakan oleh Pater Yohanes bahwa, PHB kali ini, pemateri yang didatangkan lebih banyak dari kaum awam, agar kaum Religius sungguh mendengar secara langsung apa yang mereka alami sebagai kaum awam, supaya pelayanan kaum Religius itu sungguh-sungguh tepat sasaran dan bermanfaat.

Dr. Phil. Norbertus Jegalus, MA dalam materinya mengajak kaum Religius untuk kembali melihat panggilannya sebagai Nabi di tengah kemajuan dunia ini.

“Sebagai seorang Nabi, kaum Religius harus berani untuk mengeritik hal-hal yang dirasa menyimpang. Ketika berhadapan dengan ketidakadilan struktural, korupsi dan perdagangan manusia yang merupakan masalah aktual. Kaum Religius harus sungguh memberikan perhatian yang ekstra dan bekerja sama dengan kaum awam seperti yang disuarakan oleh dokumen Gereja Vita Consacrata dalam mengkritisi masalah tersebut,” tegas Norbert Jegalus.

Baca Juga:  Bulan Kitab Suci: Momen Introspeksi Diri

Dr. Dominggus Elcid, Ph. D dalam paparan materinya mengajak kaum hidup bakti untuk melihat masalah yang sungguh real dalam kehidupan umat.

“Dibutuhkan iman yang teguh dan tetap menjadikan Kristus sebagai pedoman hidup dalam pelayanan. Agar pelayanan di tempat misi dapat berbuah, tidaklah cukup hanya berdoa dari dalam tembok biara. Kaum hidup bakti diajak untuk turun langsung dan mengalami secara langsung kehidupan umat, dan berjalan bersama umat dalam mengatasi situasi yang dialami tersebut,” harap Elcid.

Menjawab pertanyaan seorang peserta tentang bagaimana mengatasi masalah yang tengah dihadapi oleh umat berkaitan dengan ekonomi, Yustin seorang fasilitator dari Komunitas Sepekita dalam materinya pada hari ketiga, menegaskan kalau sebagai awam sekaligus fasilitator, hal yang dialaminya adalah belum adanya kerjasama yang baik antara kaum Religius dengan komunitas-komunitas pemberdayaan ekonomi kreatif yang dikelola oleh kaum awam. Oleh karena itu harapannya kaum religius perlu terbuka untuk bekerjasama dengan komunitas-komunitas pemberdaya ekonomi kreatif tersebut.

Kegiatan yang merupakan agenda tahunan dari Kongregasi Misionaris Claretian (CMF) ini ditutup dengan perayaan Ekaristi bersama pada hari Sabtu (18/01/2020) dan dilakukan pelepasan balon untuk memperingati hari ulang tahun PHB yang ke X. Kegiatan Pekan Hidup Bakti X ini ditutup juga dengan makan bersama. (ebiethlonek/fwl)