Natal Bersama SMPN 10 Kupang: Peristiwa Solidaritas dan Ekspresi Cinta Dalam Perbedaan

oleh -1.072 views
Para guru dan staf SMPN 10 Kota Kupang foto bersama Pater Abdul, OCD usai mengikuti perayaan Ekaristi bersama di Kapela Hati Kudus Yesus Bimoku pada hari Sabtu (11/01/2020)

KUPANG, suluhdesa.com – Memaknai hari raya Natal 25 Desember 2019 dan Tahun Baru 1 Januari 2020 yang baru saja dilewati, serta untuk mengeratkan hubungan keluarga besar SMPN 10 Kota Kupang yang berada di Jl. Prof. Dr. Herman Johannes, Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengadakan Perayaan Ekaristi Natal Bersama di Kapela Hati Kudus Yesus Bimoku pada hari Sabtu (11/01/2020) pukul 08.00 wita.

Perayaan Ekaristi Keluarga Besar SMPN 10 Kota Kupang tersebut dipimpin oleh Pater Sakarias Abduli, OCD (seorang Imam Katolik dan Biarawan Ordo Carmelitarum Discalceatorum atau Ordo Karmel Tak Berkasut) dan mengangkat Tema Natal Nasional 2019 yakni Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang, dengan sub temanya Yesus Kristus Sahabat Sejati “teladan” Pembentukan Karakter Bagi Keluarga Besar SMPN 10 Kota Kupang.

Pater Sakarias Abduli, OCD atau Pater Abdul, OCD dalam sapaan pembukanya mengatakan bahwa, momen Natal bersama yang dilakukan Keluarga Besar SMPN 10 Kota Kupang harus dirasakan oleh setiap orang yang percaya kepada Tuhan dan memiliki sifat universal mengingat para pendidik, para siswa, dan karyawan yang ada masing-masing menganut agama Katolik, Protestan, Hindu, dan Islam.

Pater Abdul, OCD

Pater Abdul juga menyampaikan bahwa, perayaan Natal adalah peristiwa saling bersolidaritas dan mengekspresikan cinta dalam perbedaan.

Baca Juga:  Assessment Center Provinsi NTT Diakreditasi BKN Pusat

Merefleksikan Bacaan Pertama yang diambil dari Surat Rasul Paulus yang Pertama Kepada Umat di Korintus (Bab13:1-13) dan Bacaan Injil yang diambil dari Injil Yohanes (Bab 13:31-35), dalam homilinya Pater Abdul yang menjadi Magister Filosofan Seminari Karmel OCD Indonesia San Juan Kupang mengungkapkan tentang cara manusia mengekspresikan kerinduan pada Tuhan.

Dalam mengekspresikan kerinduan kepada Tuhan ini, umat Kristiani harus tetap konsisten mencintai dan percaya kepada Allah. Natal juga merupakan peristiwa konsistensi Allah dalam mengasihi manusia.

“Sekali anda memilih menjadi Kristen, anda akan menghadapi Salib,” tegas Pater Abdul.

Memaknai pesan Natal yang dirayakan oleh Keluarga Besar SMPN 10 Kota Kupang, Pater Abdul mengajak semua guru dan siswa untuk merefleksikan tiga hal penting, yakni;

Pertama; peristiwa Kelahiran Yesus itu terjadi di Betlehem, tidak di tempat lain. Betlehem atau Bethlehem (bahasa Arab: بَيْت لَحْم‎, Bayt Laḥm, “rumah daging”; Ibrani: בֶּית לֵחֵם Bêṯ léḥem/Bêṯ lāḥem “rumah roti” Modern; bahasa Yunani: Βηθλεέμ;bahasa Latin: Bethleem; bahasa Inggris: Bethlehem. Yesus lahir di kota ini supaya menjadi rumah roti atau menjadi roti yang menghidupkan jiwa orang yang percaya kepadaNYA. Yesus juga menjadikan dirinya sebagai rumah bernaung yang nyaman dan penuh kasih sayang bagi setiap orang yang tinggal di dalamNYA. Rumah sendiri dalam bahasa Inggris memiliki dua makna yakni house dan home. House (rumah) yang berarti bangunan rumah akan hancur kapan saja. Tetapi home (rumah sebagai suasana) harus menciptakan situasi kasih, situasi cinta, dan pengorbanan untuk penghuninya. Oleh karena itu Yesus memberikan dirinya untuk menjadi rumah yang penuh dengan suasan nyaman serta kedamaian.

Baca Juga:  Binsiap Apkowil dan Puanter, Tingkatkan Kemampuan Prajurit Kodim 1604/Kupang

Kedua; dalam Kitab Suci dikisahkan kalau Yesus lahir dan dibaringkan di palungan. Palungan itu sendiri pada masa lalu di Yerusalem adalah tempat diletakan makanan atau rumput-rumputan untuk ternak orang-orang Yahudi. Mengapa Yesus harus dibaringkan di tempat hina yang bau dan menjadi tempat makanan hewan? Ini adalah kasih Tuhan yang sesungguhnya. IA menjadi serupa dengan manusia bahkan harus lebih terhina untuk keselamatan manusia sendiri. Yesus dibaringkan di palungan berarti Yesus menjadi makanan. Makanan untuk jiwa dan roh. Ya makanan untuk hewan yang berakal budi yang adalah manusia.

Ketiga; Natal yang terjadi mesti menjadi sahabat untuk Tuhan, sahabat untuk orang lain. Natal menjadi kisah perdamaian untuk dunia. Setiap orang  diminta untuk memaknai Natal sebagai hal yang penuh kedamaian tanpa sekat, tanpa kalkulasi, dan tanpa pertanyaan.

Baca Juga:  Ketua Pertina NTT Melepas 6 Atlit Tinju Prapon 2 ke Bogor

Sedangkan Kepala SMPN 10 Kota Kupang Yuliana Henukh, S.Pd saat menyampaikan pesan Natal di akhir perayaan Ekaristi menjelaskan demikian, peristiwa Natal harus berkesan dan harus merespon kasih Allah yang datang dalam diri Yesus. Kasih Natal menjadi teladan dan memunculkan karakter Kristus dalam diri setiap orang. Natal adalah kasih yang diamanahkan Allah.

“Natal harus diciptakan di rumah setiap hari. Di sekolah setiap hari. Di mana saja kita berada. Pertanyaan refleksinya, apakah kita telah menjadikan rumah kita dan SMPN 10 Kota Kupang tempat kita setiap hari bertemu sebagai tempat yang penuh dengan kasih Allah? Mari kita membawa kasih dan damai Natal. Mari kita menjadi sahabat bagi sesama,” ajak Yuliana.

Dalam kesempatan itu, Yuliana mengucapkan terima kasihnya untuk Pater Abdul, OCD yang telah memimpin perayaan Ekaristi Natal bersama Keluarga Besar SMPN 10 Kota Kupang, mengucapkan terima kasih untuk koor yang merupakan gabungan para siswi dari Kelas I sampai Kelas III yang dipimpin oleh Maria Surya Ferdinanda Merry Moon atau ibu Merry yang telah bernyanyi dengan merdu, dan semua pihak yang telah berpartisipasi.

Perayaan Ekaristi ini berakhir pukul 10.30 wita dan dihadiri ratusan siswa, para guru, dan karyawan SMPN 10 Kota Kupang yang juga berkeyakinan lain. Perayaan Natal bersama ini sangat khidmat dan tampak para siswa maupun guru yang beragama Islam mengenakan jilbab dan duduk di dalam gereja.

Usai perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan makan bersama dan canda ria di ruangan guru SMPN 10 Kota Kupang dalam suasana penuh kekeluargaan. (fwl/fwl)