Kupang, Bajawa, Ruteng, dan Waikabubak Merupakan Kota Terkotor di NTT

oleh -753 views
Komunitas Pemuda Flobamora NTT (KPF - NTT) menggelar acara Nataru (Natal dan Tahun Baru) bersama di kawasan hutan Mangrove, Oesapa, Kota Kupang, pada hari Jumat, (10/01/2020) siang.

KUPANG, suluhdesa.com –  Puluhan pemuda mahasiswa yang terhimpun dalam Komunitas Pemuda Flobamora NTT (KPF – NTT)  menggelar acara Nataru (Natal dan Tahun Baru) bersama di kawasan hutan Mangrove, Oesapa,  Kota Kupang, pada hari Jumat,  (10/01/2020) siang.

Mereka mengawali acara tersebut dengan ‘Ba’omong Lingkungan NTT”,  mengusung sub tema ‘Pengelolaan Sampah demi Mewujudkan NTT yang Bersih, Sehat,  dan Indah’ itu menghadirkan narasumber dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI NTT) .

Ketua KPF NTT, Saturminus Jawa di awal pembicaraannya mengatakan,  Komunitas Flobamora NTT dibentuk atas dasar kegelisahan dan kesadaran kritis pemuda dan mahasiswa melihat fenomena khususnya isu lingkungan yang terjadi di NTT.

Menurut Saturminus, sampah merupakan masalah serius yang sedang dihadapi oleh Indonesia dan NTT khususnya bahkan menjadi masalah global.

Ia membeberkan bahwa, di NTT terdapat empat kota yang masuk dalam nominasi kota terkotor di Indonesia yakni Kota Kupang, Bajawa, Ruteng,  dan Waikabubak. Sehingga, kata dia, NTT sedang darurat sampah.

Pria yang akrab disapa Kristian ini mengharapkan agar Pemuda Flobamora menjadi pionir penggerak dalam penanggulangan sampah organik dan anorganik minimal dimulai dari RT/RW atau kelurahan masing-masing.

Baca Juga:  Warga Kesal, Petugas Kebersihan Malaka Buang Sampah Sembarang di Desa Sanleo

Selain itu, menurutnya, Pemuda Flobamora akan  melakukan  sayembara lingkungan  bersih antarkelurahan yang akan dimulai dari Kota Kupang.

Mantan Ketua Permasna Kupang itu juga mengajak agar pemerintah,  pihak swasta, masyarakat, mahasiswa, pemuda, OKP, NGO harus bermitra dalam pengelolaan sampah secara serius demi masa depan lingkungan kita.

Dalam waktu dekat,  Ketua Komunitas Pemuda Flobamora NTT Saturminus Jawa akan  melakukan riset di  salah satu daerah di Malang karena di sana sistem pengelolaan sampahnya terbaik di Indonesia.

Hasil riset di daerah itu akan dipresentasikan di Komunitas Pemuda Flobamora NTT untuk kemudian dikampanyekan dan diterapkan di lingkungan masing-masing.

Selanjutnya,  Deputi WALHI NTT Yuvensius S. Nonga menjelaskan,  NTT hari ini sedang mengalami kebangkrutan ekologis.  Mulai dari cendana hingga kuda sandelwood.

“NTT juga mengalami kebangkrutan sosial.  Kebutuhan pangan saja diimpor dari Bima,” katanya.

Yuvensius membeberkan, di Kota Kupang, sebanyak 200-300 ton sampah dihasilkan per hari. Lanjutnya, Indonesia menempati urutan kedua penghasil sampah di dunia sebanyak 187 juta per tahun setelah negara Cina yang menghasilkan sampah 200 juta ton per tahun.

Ia menambahkan, di Indonesia, sebanyak 64 juta ton sampah telah mencemari laut. Dampaknya akan mematikan biota laut dan lain-lain. Di NTT,  sebanyak 80% sampah plastik mencemari laut.

Baca Juga:  Pemprov NTT Wajib Maksimalkan Aspek Preventif dan Promotif Tangani Corona

Alumnus Hukum Undana Kupang itu menjelaskan soal siklus sampah.  Mulai dari eksploitasi sumber daya alam, tahapan produksi, dan konsumsi.

Baginya,  sumber sampah plastik bukan berasal dari masyarakat melainkan datang dari hotel-hotel, mall,  dan toko-toko.

“Saya berharap masyarakat harus menggunakan produk-produk yang tidak sekali pakai, kantong-kantong yang ramah lingkungan,” harapnya.

Kepada Pemuda Flobamora,  Yuvensius menyebutkan ciri-ciri iklim yakni kenaikan permukaan air laut dan kurangnya curah hujan akibat dari pemanasan global.

Pria asal Ngada ini menyampaikan bahwa upaya pemerintah untuk mengatasi sampah adalah pengurangan sampah plastik 30% dan pengelolaan sampah 70%.

“Di NTT,  belum ada pelarangan eksploitasi produk plastik. Sehingga perlu adanya intervensi dari pemangku kebijakan mulai dari Pemprov hingga Pemkab. Lebih baik mengurangi sampah plastik daripada menghasilkan,” imbuhnya.

Sementara itu,  Rima Bilaut selaku anggota WALHI NTT mengapresiasi Komunitas Pemuda Flobamora  NTT yang menyoroti masalah lingkungan dalam momentum Nataru bersama.

Senada dengan Saturminus, Rima mengatakan bahwa masalah sampah menjadi masalah yang tidak akan habis-habisnya sampai dengan saat ini.

Baca Juga:  Resmi Ditutup, Sayembara Logo dan Mars Pesparani 2020 Diikuti 94 Peserta Lintas Agama

Pasalnya, sampah sangat berpengaruh pada perubahan iklim di dunia,  Indonesia dan NTT khususnya. Di Kota Kupang saja telah terjadi panas dan berkurangnya curah hujan.

Dia menceritakan pengalamannya selama 6 bulan berada di New Zealand tentang pengelolaan sampah. Di sana, kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah organik dan anorganik sangat tinggi.  Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa,” tuturnya. 

New Zealand juga telah menerapkan kurikulum pendidikan tentang pengelolaan sampah di lingkungan akademik. Selain itu,  di sana juga terdapat tujuh tempat pembuangan sampah berdasarkan jenisnya.

Di Kota Kupang, menurut Rima, manajemen sampah sangat buruk. Alasannya, TPA Alak tanpa ada pemilahan sampah organik dan anorganik.

Ia juga membeberkan hasil riset dari Fakultas Kedokteran Hewan Undana bahwa ternak-ternak warga di Alak dibiarkan bebas dan ternak itu mengonsumsi sisa sampah di TPA Alak.  Dampaknya, akan berpengaruh buruk pada kualitas daging yang akan menyebabkan kanker dan pemandulan bagi manusia yang mengkonsumsi daging ternak itu.

“Semua pihak terus melakukan edukasi, aksi, kampanye demi membangun kesadaran semua pihak tentang bahaya sampah bagi kehidupan makhluk hidup di bumi,” tutup alumni FKIP Kimia Undana Kupang itu.

Rencananya, setiap awal bulan, Komunitas Pemuda Flobamora NTT akan melakukan pembersihan sampah di beberapa titik di Kota Kupang dengan tagline #Grebek (Gerakan Bersih Kota). (Emanuel Boli/Soman Labaona)