Kebijakan Politik dan Pendidikan Saat Ini

oleh -330 views
Ilustrasi

OPINI, suluhdesa.com – Politik diartikan sebagai proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat antara lain berwujud pembuatan keputusan, kebijakan, dan kepentingan dalam suatu negara.Teori klasik Aristoteles berpandangan bahwa politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Dalam pandangan yang lain politik sering diartikan sebagai sebuah seni dalam mencapai tujuan tertentu. Maka dapat dikategorikan pelbagai aspek tentang makna substansial politik  yang diantaranya adalah bidang ekonomi, sosial, budaya, bahkan dalam dunia pendidikan.

Proses pengejawantahan dan tuntutan pertanggungjawaban dari orang dewasa ke yang belum dewasa adalah suatu bentuk tindakan pendidikan itu sendiri. Pada kondisi ini, tidak terlepas pada sebuah sistem dan tujuan  yang sesuai dengan konsep berbangsa dan bernegara. Sebuah sistem untuk mencapai harapan itulah yang dinamakan strategi politik pendidikan (the political strategi education).

Keterikatan Antara Politik dan Pendidikan

Pendidikan dan politik adalah dua elemen penting dalam sistem sosial politik di setiap negara. Keduanya sering dilihat sebagai bagian yang terpisah.  Padahal, keduanya terdapat hubungan dalam proses pembentukan karakteristik masyarakat negara. Lebih dari itu, keduanya saling menunjang dan mengisi lembaga – lembaga dan proses pendidikan dan adanya keterikatan yang  erat dan dinamis antara pendidikan dan politik di setiap negara. Hubungan tersebut adalah realitas empiris yang telah terjadi sejak awal perkembangan peradaban manusia dan menjadi perhatian para ilmuwan.

Plato mendemonstrasikan bahwa dalam budaya Helenik, sekolah adalah salah satu aspek kehidupan yang terkait dengan lembaga – lembaga politik. Ia menggambarkan adanya hubungan dinamis antara aktivitas kependidikan dan aktivitas politik. Keduanya seakan dua sisi dari satu koin, tidak mungkin terpisahkan. Analisis Plato tersebut telah meletakkan fundamental bagi kajian hubungan politik dan pendidikan di kalangan generasi ilmuwan, ke generasi berikutnya.

Baca Juga:  Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (5); Penduduk Kampung Yang Turun Gunung

Dalam ungkapan Abernethy dan Coombe (1965 : 287), education and politics are inextricably linked (pendidikan dan politik terikat tanpa bisa dipisahkan). Hubungan timbal balik antara politik dan pendidikan dapat terjadi melalui tiga aspek, yaitu pembentukan sikap kelompok (group attitudes), masalah pengangguran  (employment),  dan peranan politik kaum cendikia (the political role of the intelligentia).

Oleh karena itu, politik dan pendidikan memiliki persamaan dalam menentukan karakter dan kewibawaan suatu bangsa di masa yang akan datang. Jika Politik di salah artikan, sebagai suatu yang tabu dalam dunia pendidikan, akan terjadinya destruktif pendidikan itu sendiri. Begitu pun sebaliknya, sistem politik harus sesuai dengan pengajaran yang tertuang dalam hukum perundang-undangan berlaku.

 Sistem Pendidikan yang Dinamis Kepentingan

Sebuah sistem yang tidak pernah diubah adalah sistem pendidikan kepentingan. Adanya keberpihakan yang kentara terhadap persoalan pendidikan di bangsa ini. sebut saja kasus jual beli ijazah, kesamaan di depan hukum pendidikan di kesampingkan, dan masih banyak lagi yang menjamur dalam ruang kebebasan hak hidup cerdas.

Dalam sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 tentang pendidikan nasional, dengan jelas menyebutkan bahwa setiap anak bangsa berhak mendapatkan pendidikan yang layak serta upaya untuk mencapai tujuan bangsa dan negara. Hal ini berbanding terbalik secara realita, pembuktian ketimpangan telah dihadapi berulang kali, tetapi pihak penyelenggara nasional seolah apatis terhadap merosotnya nilai kepekaan yang serius terhadap situasi yang ada.

Keberpihakan terhadap dinamika bangsa dalam dunia pendidikan akan terus berlanjut, tanpa adanya atensi dan permufakatan proporsinal yang dilandasi dengan beratnya hukuman terhadap pelanggaran, jika terjadi hal demikian. Salah satu penguatan sistem pendidikan adalah melalui konsep di atas. Sebab, kadangkala keegoisan manusia akan berleluasa, seiring pengelolaan dan ketegasan belum yang terealisasi.

Baca Juga:  100 Tahun SDK Inerie-Malapedho: Pendidikan Sebagai Panggilan

Pembentukan diri secara sosial adalah berawal dari kreativitas pribadi yang taat terhadap suatu nilai. Seorang individu yang sering kali melakukan tindakan pelanggran terhadap nilai, akan terpengaruh dengan adanya kebijakan yang terstruktur dan sistematis. Oleh karena itu, ketegasan yang serius dari pihak penyelenggra, harus dilakukan segera mungkin. Jika tidak, harapan menjadi suatu bangsa yang bersaing, akan tidak terlunasi oleh perlakuan ketidaktaatan terhadap norma. Suatu bangsa yang tidak taat terhadap peraturan yang berlaku, maka ketimpangan akan terus merajalela dan tidak akan pernah maju.

Peran Orang Tua Dalam Membentuk Karakter Anak

Elemen penting dalam meningkatkan capaian pendidikan adalah keluarga. Keluarga di samping memiliki fungsi utama sebagai tempat pengembangan keturunan (fungsi reproduksi), juga memiliki fungsi utama lainnya yang amat penting, yaitu sebagai tempat menumbuhkan nilai-nilai akhlaqul karimah (moralitas) bagi anak dan keturunan (fungsi edukatif dan religius). Pasal 10 ayat (4) Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 2/1989 menyebutkan: “Pendidikan keluarga merupakan bagian dari  jalur pendidikan luar sekolah, yang diselenggarakan di lingkungan keluarga dan yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan ketrampilan.”

Kecenderungan orang tua membiarkan perlakuan anak yang tidak sesuai, akan memengaruhi perkembangaannya. Anak juga akan menjadi rusak moralnya ketika orang tua meletakan kebiasaannya, menjadi sesuatu yang tidak tersembunyi. Akibatnya anak akan mengikuti apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Kebiasaan seperti itu, harus dihindari ketika anak dalam proses pertumbuhan (antara 5-10 tahun).

Baca Juga:  Kelas Inspirasi Di SDK Malapedho, Arnoldus Wea Ajak Para Siswa Jangan Minder

Anak akan tumbuh berkembang menjadi baik, jika saat masa-masa itu diberi asupan pendidikan karakter yang menunjang persepsinya terhadap situasi yang ia hadapi. Misalnya, mengajarkannya untuk taat ibadah, hormati orang tua, sayangi kakak, maupun orang-orang yang di sekitarnya.

Sebab, menjadi ukuran suatu masyarakat atau bangsa masih tegak berdiri atau hancur adalah akhlak. Syauqi Bek mengatakan: “Sebuah bangsa dapat dikatakan tegak apabila akhlaknya masih terjaga. Rusaknya bangsa, adalah berawal dari pendidikan keluarga. Bukan sekolah dan masyarakat. Karena Keluarga/orang tua adalah dominasi utama dalam membentuk kepribadian seorang anak. Sekolah dan masyarakat hanya sebagai penunjang dalam membentuk karakter anak menuju harapan orang tua dan bangsa.

Oleh karenanya, jangan dianggap sesuatu yang kecil dan tidak bermakna terhadap perkembangan anak. Keluargalah sebagai pembentukan karakter bangsa menuju apa yang dicita-citakan bersama

Tantangan Orang Tua, Terhadap Kondisi Generasi Milenial

Semakin hari, pengaruh dunia semakin berkembang hingga ke Indonesia. Teknologi informasi dan komunikasi semakin maraknya di kalangan generasi milenial. Para generasi milenial pun seolah terbawa oleh arus modernisasi tersebut.

Generasi Milenial adalah generasi yang lahir pada era industrialisasi. Di mana pada dua puluhan tahun terakhir. Banyak pendapat yang mengatakan generasi milenial terhitung dari tahun 80-an. Akan tetapi hal itu, jika kita merefleksikan orang-orang yang hidup pada tahun-tahun tersebut, berbeda pola perilaku dengan generasi yang lahir akhir-akir ini.

Generasi hari ini cenderung mengkonsumsi hal-hal yang berbau modern dan instan. Dilain sisi, ada yang berdampak pada naturalisasi pemikiran generasi (positif), tetapi yang lebih besar adalah berdampak pada menurunnya nilai pendidikan yang nyata.

Pembagaian generasi oleh budaya barat ini kemudian akan terus berkembang, seiring kemajuan zaman. Maka oleh karenanya orang tua sebagai pemeran utama dalam membendung dan melawan kondisi yang terancam untuk siap berkompetisi di ajang perubahan global ini.

Jika orang tua, lembaga penyelenggara dan pemerintah tidak dapat melakukan suatu tindakan penyempurnaan, model pendidikan barat akan menjerumuskan generasi menuju kefakiran karakter, dan mental ketaatan pada Tuhan. (*)

Oleh Ramadhan Abdullah (Mahasiswa Universitas Muhamadiyah Kupang)