Polemik Fiorentina: Kutukan “Santo Bati” dan Spiritualitas Remaja

oleh -565 views
Fiorentina 'didaulat' oleh Presiden Joko Widodo pada perayaan Natal Nasional 2019 di Sentul International Convention Center (SICC), Kabupaten Bogor, Jawa Barat (Foto: Antara/Firmansyah)

OPINI, suluhdesa.com – La Viola. Sebuah nama yang sangat melekat di memori penulis. Satu-satunya julukan yang hanya dimiliki oleh Fiorentina FC di kota Firenze, Italia. Klub sepak bola dimana pemain legandaris asal Argentina, Gabriel Omar Batistuta pernah mengabdi.

Di era 90-an Fiorentina sangat disegani di kancah sepak bola Italia maupun Eropa. Tak lain, tak bukan, di sana ada sosok pembunuh lapangan hijau, Batistuta.

Batistuta, sosok di balik terangkatnya Fiorentina  ke kasta teratas sepak bola Liga Seri A Italia bahkan level Eropa. Jasa besarnya, Batigol, demikian julukan sang pembunuh ini, dikultuskan sebagai “dewa kota Firenze”.

Pengkultusan Batigol berujung pada ‘pemujaan’ kepada pemain berdarah Arab ini. Patungnya dibuat dan didirikan di sudut stadion. Keberadaanya menjadi “pelindung” Stadion Artmio Franchi.  Fans Fiorentina memanggilnya “Santo Bati”.

Kisah Batigol dan Fiorentina tak berakhir manis. Hengkangnya dari Firenze ke Olimpico, markas AS Roma, Batigol kian dibenci dan dicap sebagai pembangkang. Bentuk kekecewaan warga Firenze diluapkan dengan cara merobohkan patung sang dewa itu.

Fiorentina dan Gabriel Omar Batistuta bagaikan dua sisi mata uang. Mengenang Batistuta, mengembalikan memori ke masa jaya Fiorentina. Berbicara Fiorentina tak terpisahkan dengan pembicaraan tentang sosok Batistuta.

Fiorentina tak setenar dulu. Kejayaannya bersama Batistuta adalah masa lalu. Masa lalu yang hanya bisa dikenang oleh para pencinta sepak bola yang hidup di era itu – termasuk penulis yang sangat mengidolakan Batistuta. Mengidolakan Batistuta berarti pula mengidolakan Fiorentina alias La Viola.

Fiorentina mendadak tenggelam. Tak banyak ‘berbicara’ di lapangan hijau. Jangankah kancah Eropa, di Liga Italia tak bersinar seperti dulu. 

Fiorentina tak sehebat kala Batistuta masih merumput di Firenze. Seiring dengan tenggelam klub yang melegenda ini, Fiorentina kembali mencuri perhatian publik tanah air, negeri +62, netizen menyebutnya.

Tentu saja bukan Fiorentina nama klub yang bermarkas di kota Firenze itu. Fiorentina adalah sosok remaja putri yang sempat menjadi “obyek” perdebatan masyarakat NTT. Menjadi sumber pemberitaan. Menyebar dan viral di media online, media sosial dan youtube. Ramuan judul dan ulasan bernada provokatif semata-mata menaikan traffic demi meraup pundi-pundi dari Adsense.

Sikapnya (attitudes) terhadap Presiden Joko Widodo di panggung Natal Bersama ternyata menuai pro dan kontra (Kompas, 28/12/2019). Pihak yang pro mengapresiasi dengan berbagai dalil. Sebaliknya, pihak yang kontra menyerang Fiorentina dengan dalil yang lain dan  menjurus bullying.

Fiorentina dinilai telah mencederai adat ketimuran karena tutur katanya yang tak adaptif dengan adat kebiasan masyarakat lain atau lawan bicara. Ia  tak menghargai orang yang lebih tua dan apalagi kepada orang nomor satu di Indonesia. Ia sepantasnya tidak boleh bersikap demikian. Kurang lebih seperti itu yang disoroti, dinilai dan harapan yang dikehendaki publik.

Baca Juga:  Rm. Benny Susetyo; Tidak Mudik, Kesadaran Moral Perangi Corona

Orang boleh saja berpendapat tentangnya dengan beragam alasan.  Sudut pandang orang berbeda-beda terhadap setiap peristiwa. Maka bila terjadi polemik, itu sah-sah saja. Terhadap polemik Fiorentina, penulis berada di pihaknya. Sikap Fiorentina malam itu normal dan mungkin akan dialami oleh siapa saja atau anak-anak seumurnya.

Fiorentina ‘dibilang’ membentak Presiden Jokowi adalah bahasa presiden sendiri. Intonasi suara yang terdengar ‘kasar’ bagi Jokowi yang berlatar belakang Jawa kromo.  Sekalipun demikian, saya yakin Presiden Jokowi sadar dan tahu akan karakter orang Indonesia Bagian Timur – apalagi NTT. Jokowi telah bolak-balik NTT hingga belasan kali yang menghantarnya pada pemahaman tentang karakter orang NTT.

Jokowi tersinggung? Penulis kira tidak. Jokowi aman-aman saja. Jokowi memahami situasi yang dihadapi Fiorentina. Karena Jokowi adalah kita. Sama seperti kita pada umumnya. Berbicara apa adanya. Itu tercermin dalam kepemimpinannya. Jokowi tak membangun sekat atau batas dirinya dan rakyat. Itu pula yang ditularkan kepada menterinya. Jika tidak demikian, mengapa dia menyuruh Fiorentina untuk bertanya langsung tiga nama dari sejumlah menteri yang hadir pada malam itu?

Dalam dirinya adalah pancaran diri kita, masyarakat pada umumnya. Konteks Fiorentina, intonasinya sama sekali tak menyinggung perasaan presiden. Kata bentak adalah bahasa Presiden Jokowi. Adalah cara Jokowi berinteraksi atau bercanda dengan anak bangsa.

Malam itu, Jokowi tak sedang memposisi dirinya sebagai pejabat negara. Tanpa melepaskan atribut sebagai sosok yang pernah menjadi masyarakat biasa. Peristiwa yang dialami Jokowi tak hanya pada malam perayaan natal tersebut. Dalam berbagai kesempatan kunjungan kerja atau acara lain, Jokowi sering berhadapan dengan sikap masyarakat yang tidak formil dan penuh canda.

Jokowi adalah sosok yang anti mainstream. Tidak terpatron oleh protokoler yang kaku. Ia selalu bersikap spontan. Maka apa yang dialami oleh Fiorentina malam itu adalah spontanitas dan apa yang dilakukan Jokowi pun lahir dari sebuah spontanitas. Fiorentina pun tak pernah membayangkan akan berdiri di samping Jokowi malam itu. Apa pun ekspresi, dalam pengamatan penulis, ada kegembiraan yang luar biasa. Lihat wajahnya yang sumringah dan tingkahnya yang ‘keremajaan’. Ya, seperti itu anak remaja, ya seperti itulah anak-anak.

Bila kita semua pribadi jujur, kita mungkin sama seperti Fiorentina memiliki kebanggaan untuk berdiri dan berswa foto dengan Jokowi. Momentum seperti tak pernah datang dua kali apalagi rutinitas dan kehidupan kita jauh dari istana atau kehidupan sang presiden. Seandainya kita dalam posisi Fiorentina, kita pasti memiliki cara tersendiri untuk mengekspresikan diri sukacita perjumpaan itu.

Baca Juga:  HUT Presiden Jokowi dan Bung Karno, Solmet Doa Bersama dan Bagi Sembako

Jokowi adalah sosok yang natural. Apa adanya. Dirinya, diri kita. Tanpa polesan dan, setiap perjumpaannya dengan masyarakat ia selalu tampil apa adanya. Ia bisa bercanda. Tersenyum. Tertawa. Marah-marah. Seandainya malam itu, Fiorentina tampil kalem seperti yang diharapkan ‘netizen’, sukacita natal tak akan semeriah malam itu.

Kita mestinya berterimakasih karena Fiorentina. Ia mampu mengubah suasana malam itu penuh tawa. Tawa adalah obat yang mujarab, kata orang-orang bijak. Jokowi dan hampir seluruh panggung itu pun menikmatinya – kecuali kita di luar panggung yang hanya bisa menonton dari layar kaca dan suka melabeli orang lain dengan stigma negatif.

Peran yang tak sengaja dimainkan di Fiorentina diimbangi Jokowi yang tak kehilangan akal untuk tidak memadamkan semangat remaja itu.  Jokowi memerintah  Fiorentina untuk menanyakan nama mentri ke para menteri adalah di luar dugaan. Dan, pada akhirnya, suasana malam itu tampak menghibur. Tak ada suasana yang kaku. Mencair. Jokowi lebih cerdas membaca situasi daripada kita yang lebih memilih untuk mencibir Fiorentina.

Apa pun sedap suasana malam itu, Fiorentina tetap saja ‘cacat’ di mata netizen yang hanya memandang dari sudut sempit. Padahal jelas-jelas Indonesia beragam. Budaya, dialek dan sebagainya. Malam itu mungkin kegembiraan sekaligus duka bagi Fiorentina. Ia dipuji, ia pula dicibir. Tapi ingat, sukacita Natal adalah miliki semua bangsa. Semua strata sosial masyarakat.

Baca Juga:  Terbaru, Presiden Jokowi Kucurkan Bansos Tangani Dampak Corona

Lagi, Jokowi sedang menunjukkan kepmimpinan yang spontan. Hal ini tak pernah ada pada kepemimpinan Soeharto, entah para presiden sesudahnya. Era Soeharto, orang yang diundang atau dihadirkan sebagai penanya ‘diduga’ sudah ditentukan. Perhatikan dalam beberapa kesempatan dalam kegiatan tatap muka mendiang Presiden Soeharto dengan warganya, tampak di permukaan suasananya sangat protokoler dan kaku. Era itu dibalik Jokowi saat ini.

Setidak-tidaknya, malam itu Fiorentina menunjukkan jati dirinya. Identitasnya. Asal usulnya. Kepolosannya dan sebagainya. Mestinya hal ini kita apresiasi kepadanya. Ia tampil apa adanya. Tidak bisa menjawab, ya tidak bisa menjawab. Itu sebabnya, Yesus, kemudian Paus Fransiskus memilih dan membiarkan anak-anak datang kepada mereka. Paus Fransiskus beberapa kali membiar anak-anak bermain di altar. Karena apa? Ya, anak-anak atau remaja lebih polos. Mereka tak bersikap munafik. Dan, malam itu, Fiorentina menunjukkan spiritualitas remaja; polos, jujur dan apa adanya. 

Ya, Fiorentina terlanjut dijatuhi ‘sanksi’ sosial – cibiran, sinis dan bahkan bullying. Mungkin agak berlebihan, Fiorentina nasib serupa dengan Gabriel Omar Batistuta. Komparasi yang timpang antara keduanya namun keduanya bagaikan kata pepatah habis manis sepah dibuang. Batitusta menoreh kisah bersama Fiorentina. Menjadikan La Viola sebagai klub super di eranya. Kemudian dimusuhi, dihujat dan dilupakan jasa besarnya hanya karena ia berpindah ke ibukota Roma.

Begitu pula Fiorentina. Kala Jokowi memanggil “yang NTT mana?”, ia bangkit dan berjalan menuju suara Jokowi. Ia telah menunjukkan jati diri asal usulnya sehingga belahan dunia mengenal tanah kelahirannya dan segala dimensinya – budaya, dialek dan sebagainya.

Masyarakat NTT patutnya berterimakasih kepadanya sebagai anak NTT yang tampil berani, percaya diri dan apa adanya. Tak usah perdebatkan ketidaktahuannya tentang nama para menteri. Toh, pertanyaan itu bukan cerdas cermat atau kuis yang harus dijawab dengan benar.

Masyarakat NTT seharusnya melihat  sisi lain dari peristiwa ini. Bahwasanya Fiorentina adalah representasi masyarakat NTT pada umumnya. Berbicara suara lantang dikira kasar, berbisik dikira berteriak. Ya, itulah kita. Kita yang tercermin dalam gadis remaja yang bernama Fiorentina.

Penulis berharap jangan hanya karena cibiran (bullying) kita jatuhkan kepadanya, ia menjadi momok baginya dan remaja ini menjadi pribadi terkutuk dan kehilangan jadi diri serta kepercayaan dirinya. Cukup hanya Fiorentina FC menuai kutukan Batigol akibat sumpah serampah para fansnya, biarkan Fiorentina, remaja NTT itu, tumbuh dan berkembang sesuai dengan jati dirinya. ***

Giorgio Babo Moggi, Hobi menulis dan travelling.