SMAK St. Kristoforus Pali: Menciptakan Generasi Unggul, Beriman dan Bermoral

oleh -819 views
Longginus Beso (bertopi) Kepala Sekolah Menengah Agama Katolik St. Kristoforus Pali saat foto bersama para siswanya

PALI, suluhdesa.com – Mungkin masih banyak yang bertanya mengapa pendidikan di sekolah itu penting, selain itu masih ada banyak orang tua yang enggan untuk menyekolahkan anaknya karena mereka beranggapan lebih baik anaknya bekerja dibandingkan sekolah yang hanya menghambur-hamburkan uang.

Dengan fakta di lapangan tersebut sudah sepatutnya orang tua dibekali pedoman yang kuat tentang pentingnya pendidikan di sekolah. Begitu pula ketika menjelaskan kepada sang anak yang tidak mau sekolah, orang tua harus memiliki alasan yang kuat untuk membuat anak mau pergi bersekolah. 

Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa pendidikan sekolah itu penting:

Memberikan Pendidikan Dasar dan Menengah Kepada Anak

Salah satu alasan pentingnya pendidikan untuk anak adalah memberikan pendidikan dasar dan menengah kepada anak.  Anak akan diajarkan tentang dasar dari semua ilmu pengetahuan, oleh sebab itulah disebut dengan sekolah dasar atau SD, SMP, dan SMA. Jika tidak mau sekolah di tingkat dasar ini maka anak tidak akan mendapatkan dasar dari ilmu pengetahuan baik Ilmu Geografi, Sejarah, membaca, menulis, Ilmu Pengetahuan Sosial, pengetahuan alam, dan masih banyak lagi lainnya.

Menciptakan Jiwa Nasionalisme

Semakin sedikit generasi yang mengenyam pendidikan di sekolah maka semakin sedikit generasi yang memiliki jiwa nasionalisme. Oleh sebab itu dengan mengenyam pendidikan di sekolah, jiwa nasionalisme generasi muda akan terbentuk. Nasionalisme adalah rasa memiliki bangsa dan negara ini. Jika rasa nasionalisme semakin sedikit bisa menyebabkan generasi muda menjadi cuek akan nasib bangsa dan negara ini ke depannya.

Memberantas Kebodohan

Pentingnya pendidikan sekolah selanjutnya adalah memberantas kebodohan. Kebodohan ini disebabkan oleh ketidaktahuan dan sempitnya wawasan. Kebodohan adalah musuh yang nyata sehingga harus diberantas dan diantisipasi. Dengan mengenyam pendidikan di sekolah, maka wawasan akan menjadi luas, pikiran menjadi terbuka, dan ilmu yang didapatkan semakin bertambah.

Membangun Karakter

Pendidikan sekolah bisa membangun karakter bagi generasi muda. Pendidikan karakter ini sangat penting karena mengajarkan norma kesopanan, norma keagamaan, dan norma yang lainnya. Dengan mengikuti semua norma tersebut generasi muda akan memiliki karakter yang kuat untuk membangun dan memajukan bangsa.

Sudah sepatutnya orang tua memberikan pendidikan terbaik untuk anak-anaknya sebab pendidikan berguna bagi masa depannya kelak. Semakin banyak generasi muda yang sadar akan pentingnya pendidikan sekolah diharapkan nantinya nasib bangsa indonesia ini semakin maju dan lebih baik lagi.

Sekolah Menengah Agama Katolik St. Kristoforus Pali

Menjawabi tuntutan-tuntutan di atas, maka Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Santu Kristoforus telah dibangun di Pali, Desa Warupele II, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Longginus Beso, Kepala SMAK St. Kristoforus Pali saat ditemui Media SULUH DESA di ruang kerjanya pada tanggal 8 Oktober 2019 silam menjelaskan bahwa berdirinya SMAK St. Kristoforus ini didasarkan pada Peraturan Menteri Agama RI Nomor 1 Tahun 2013 yang memberikan kesempatan kepada Gereja Katolik untuk membuka dan mendirikan sekolah yang bercirikan keagamaan.

Baca Juga:  Garam Dapur Dan Teknologi Pertanian

Baca Juga: https://suluhdesa.com/2019/10/24/kelas-inspirasi-di-smak-pali-arnoldus-wea-anak-sma-jangan-hanya-gaya/

“Memang kita Katolik terlambat untuk ini, dibandingkan dengan teman-teman agama lain yang lebih dahulu menanggapi Peraturan Menteri Agama ini. Peraturan Menteri Agama ini kemudian diedarkan ke seluruh Kabupaten/ Kota yang ada di seluruh Indonesia dan kita di Kabupaten Ngada khususnya di Kecamatan Inerie pun menanggapi ini,” jelas Longginus.

Longginus mengatakan, untuk pendirian SMAK St. Kristoforus di Pali ini, Kementerian Agama RI meminta untuk tidak terlepas dari peran serta Gereja Katolik dan syaratnya harus ada yayasan, tanah, ijin serta rekomondasi dari Uskup sebagai pemimpin Gereja Lokal.

“Pada awalnya kami para guru Agama Katolik yang berada di gugus I (Aimere, Inerie, dan Jerebuu) sebenarnya menginginkan sekolah ini didirikan di Pomasule (Desa Sebowuli) namun karena tanah yang akan kami proses itu masih memiliki masalah sehingga dalam beberapa waktu, wacana itu sempat didiamkan dan dibatalkan khusus untuk wilayah Pomasule,” tutur Longginus.

Menurut Longginus, akibat tanah yang belum ada sertifikat, impian untuk mendirikan sekolah itu kandas, dan di Riung pun oleh para guru agama Katolik yang ada, telah didirikan sebuah Sekolah Menengah Agama Katolik pada Tahun 2015. Baru pada Bulan Desember 2017 SMAK St. Kristoforus Pali didirikan.

“Berkat inisiatif Bapak Yosef Madha dan Bapak Nadus Ma’u mengumpulkan lagi guru-guru agama Katolik, tokoh masyarakat, dan pejabat desa untuk membahas bagaimana mendirikan yayasan untuk Sekolah Menengah Agama Katolik, maka disepakati bahwa Yayasan Linariwu yang mengelola SMAK St. Kristoforus ini. Dari hasil pembahasan bersama, kemudian diajukan ke Mgr. Sensi Potokota Uskup Keuskupan Agung Ende. Ya kita bersyukur semua proses berjalan cepat sehingga tanggal 11 Februari 2017 Uskup keluarkan rekomendasi dan pada Bulan Maret 2017 dikirim ke Kanwil dan diteruskan ke Dirjen Bimas Katolik. Pada tahun 2018 Dirjen Bimas Katolik datang mengecek lokasi pendirian dan pembangunan sekolah, dan pada tanggal 15 Oktober 2017 dikeluarkan ijin operasionalnya,” ungkap Longginus.

Tanggal 16 Oktober 2018 SMAK St. Kristoforus menerima siswa angkatan pertama 67 orang yang berasal dari Desa Waebela, Desa Kelitei, Warupele I, Desa Warupele II Desa Sebowuli, Desa Inerie, Desa Paupaga tetapi yang terbanyak dari Pomasule (Desa Sebowuli) dan Malapedho (Desa Inerie).

Angkatan kedua jumlah siswa adalah 43 orang. Jadi jumlah keseluruhan siswa ada 107 orang. Dengan tenaga guru 21 orang yang terdiri dari Guru Mata Pelajaran Agama Katolik 5 orang diambil dari guru PNS yang mengajar di SD, serta guru umum 15 orang ditambah 1 orang pegawai.

Visi dan misi SMAK St. Kristoforus Pali adalah terciptanya generasi yang unggul dalam bidang intelek tetapi juga beriman dan bermoral dan misinya adalah terciptanya kader Gereja Katolik yang beriman dan bermoral.

Saat ditanya Media SULUH DESA mengapa harus menjadi Sekolah Menengah Agama Katolik?

Baca Juga:  Babinsa Koramil 0820/15 Pajarakan Bantu Warga Bangun Rumah Burung Hantu Pembasmi Tikus Sawah

Longginus menjawab, ada 6 alasan dalam benak Pendiri dan Penyelenggara.

Pertama, dalam bingkai NKRI, kita umat Katolik pun mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan negeri yang berciri khas Katolik sebagaimana yang diperoleh warga negara atau umat beragama lainnya.

Kedua, siswa/siswi pada SMAK St. Kristoforus Pali pada umumnya berasal dari masyarakat kelas bawah/miskin yang tinggal di pedesaan di Ngada Selatan. Mereka kurang mampu membiayai pendidikan. SMAK St. Kristoforus Pali didirikan untuk kelangsungan pendidikan mereka. Karena anggaran penyelenggaraannya disediakan oleh pemerintah.

Ketiga, SDM (Guru dan Pegawai) pada SMAK akan dapat ditata dengan baik, gaji terstandar, kualifikasi akademik terjamin, pengurusan kenaikan jenjang kepangkatan (karier) teratur dan kesejahteraan memadai. Dengan kondisi seperti itu maka peningkatan kualitas lembaga pendidikan menyangkut pemenuhan 8 standar nasional pendidikan akan lekas tercapai.

Keempat, penambahan satuan kerja dalam bentuk Sekolah Menengah Agama Katolik, akan membuka peluang kerja bagi orang Katolik sebagai PNS/ASN di Kementerian Agama RI.

Kelima, Sekolah Menengah Agama Katolik akan memberikan kontribusi besar dalam mengokohkan iman masyarakat Katolik. Karya pastoral Gereja Katolik akan sangat didukung oleh lembaga pendidikan ini. SDM di dalamnya akan menjalankan tugasnya dengan tenang guna menghasilkan output handal bagi masa depan Gereja Katolik.

Keenam, peran hierarki Gereja Katolik tetap terjaga dalam membina dan mengarahkan, karena seluruh materi kurikulum yang bernafaskan agama Katolik, baik ajaran iman, moral maupun tradisi-tradisi, tetap menjadi kewenangan Magisterium Gereja Katolik.

Dalam proses kurikulumnya SMAK St. Kristoforus Pali memberlakukan 70 persen mata pelajaran Agama Katolik dan 30 persen pelajaran umum. untuk program wajib kelas 1 ada 10 jam keagamaan yaitu: Katekese, Doktrin, Kitab Suci, Liturgi, Sejarah Gereja Katolik. Mata pelajaran umum bagian A itu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan PKN. Sedangkan mata pelajaran umum bagian B itu Seni Budaya, Prakarya, dan Olahraga.

“Karena keterbatasan guru dan ruang maka hanya terima jurusan IPS/Ilmu-Ilmu Sosial, sedangkan IPA/MIA/ilmu alam belum bisa. Ke depan juga akan kami lakukan jika tenaga pendidik dan ruang belajar telah ada dan memadai,” tukas Longginus.

Longginus Beso yang telah puluhan tahun mengabdi sebagai Guru Agama Katolik di Ngada selatan menuturkan jika semangat dan antusiasme anak-anak untuk sekolah itu sangat tinggi tetapi terkendala sebab orang tua tidak sanggup membiayai.

Kata Longginus, semoga dengan hadirnya SMAK St. Kristoforus di Pali ini memberikan pelayanan secara total kepada umat Katolik di Ngada Selatan serta memutus mata rantai anak-anak yang hanya tinggal di rumah setelah tamat SD.

“Ini juga membantu orang tua yang mau menyekolahkan anak-anaknya untuk tidak perlu pergi jauh ke kota. Kami hadir untuk mengurangi biaya mereka yang tinggi jika harus berada di tempat yang jauh dari rumah. Kalau di sini, anak-anak masih bisa untuk tinggal bersama orang tua. Kami juga hendak membina anak-anak untuk menjadi 100 persen Katolik dari Paupaga sampai Waebela,” kata Longginus.

Baca Juga:  Lakukan Penghinaan, Gadis Asal Langa Laporkan Anggota Polres Sikka ke Polres Ngada

Longginus Beso juga menghimbau kepada seluruh masyarakat yang ada di Kecamatan Inerie bahwa SMAK St. Kristoforus Pali sangat terbuka untuk umum karena sekolah ini di bawah Kementerian Agama RI. Dirinya menegaskan jika pihaknya siap mendidik anak-anak dengan total untuk menjadi manusia Katolik yang cinta tanah air, cinta orang tua dan cinta sesama sesuai pesan Injil Kristus.

Longginus mengakui kendala yang dihadapinya adalah biaya karena memang sekolah ini diberi kesempatan berjuang dan bertumbuh sendiri baru diintervensi Kemenag.

“Mengenai peran pemerintah, kami sudah ajukan untuk pembangunan gedung. Kami membutuhkan sarana prasana. Dana BOS sudah diproses dan kita tinggal menunggu. Sebagai pengelola, saya berharap walau pun secara regulasi di bawah Kemenag tetapi tidak menutup kemungkinan kami disupport dana dari Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, dan Desa,” tukasnya.

RD. Albert Yunialdus Ninung atau yang lebih dikenal dengan Romo Ayub (Pastor Paroki St. Martinus Ruto) di tempat yang sama memberikan komentarnya.

“Kehadiran SMAK St. Kristoforus di Pali ini sangat membantu umat Paroki Ruto. Di sekolah ini anak-anak dibimbing, dididik, dibina sesuai dengan nafas Iman Katolik sehingga anak-anak akan menjadi pribadi yang kuat dalam Iman serta memegang teguh nilai moral dan cerdas secara intelektual. Selain itu SMAK St. Kristoforus Pali membantu beban biaya pendidikan umat sebab sekolah yang ada ini biaya sekolahnya sangat murah. Intinya di tempat ini, anak-anak kita dididik supaya memiliki kepribadian yang berintergritas 100 persen Katolik 100 persen Indonesia,” imbuh Rd. Ayub.

RD. Ayub di akhir pembicaraan mengaku sangat prihatin dengan kondisi dan cara berpikir umat yang di Paroki Ruto.

“Selama empat tahun saya bertugas di sini, saya banyak temukan anak-anak yang tidak bisa sekolah karena orang tua mereka tidak mau sekolahkan dengan alasan uang sekolah itu mahal. Sehingga banyak anak-anak yang yang hanya tamat SD langsung pergi merantau ke Kalimantan dan Malaysia. Ada lagi orang tua yang punya pikiran begini, intinya kami sudah lahirkan mereka, sekolahkan mereka sampai SD itu sudah cukup. Selebihnya mereka (anak-anak, red.) mencari dan menentukan hidupnya sendiri. Ini sangat memprihatinkan. Oleh karena itu saya minta dengan sangat, supaya para orang tua yang memiliki anak-anak yang telah tamat SMP untuk disekolahkan di SMAK St. Kristoforus Pali ini. Jangan takut, uang sekolahnya murah dan sangat membantu,” tutup Romo Ayub yang suka bermain musik ini. (frids w lado/fwl)