Mahasiswa FKM Undana Kupang dan Panti Asuhan Sonaf Maneka Lakukan Ketahanan Pangan

oleh -375 views
Suasana saat mahasiswa FKM Undana berada di Panti Sonaf Maneka Kota Kupang beberapa waktu lalu.

KUPANG, suluhdesa.com – Panti Asuhan Katolik Sonaf Maneka yang ada di Kota Kupang memiliki lahan yang cukup luas, namun lahan yang luas tersebut masih belum digunakan secara maksimal.

Hal ini bisa dilihat dari banyaknya lahan kosong yang masih dibiarkan begitu saja.

Dengan melihat sumber daya lahan yang ada pada panti asuhan Katolik Sonaf Maneka dan dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan, salah satu upaya yang dapat di tempuh adalah dengan memanfaatkan lahan tersebut dengan cara menerapkan pola tanam tumpang sari.

Pola tanam tumpang sari adalah bentuk pola tanam yang membudidayakan lebih dari satu jenis tanaman dalam satuan waktu tertentu.

Oleh karena itu, Kami mahasiswa dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana Kupang dalam penerapan mata kuliah Aplikasi Promosi Kesehatan mengajukan Program Pemberdayaan Masyarakat khususnya untuk memanfaatkan lahan kosong yang dimiliki agar menjadi sumber ketahanan pangan.

Dalam program ini kami membantu anak-anak panti asuhan Katolik Sonaf Maneka untuk mengolah lahan mereka dengan cara menanam berbagai jenis tanaman seperti jagung dan labu.

Program “Pemanfaatan Lahan Dengan Metode Tumpang Sari Untuk Ketahanan Pangan Dan Peningkatan Produktivitas Pada Panti Asuhan Katolik Sonaf Maneka” selain untuk meningkatkan kreatifitas Anak-Anak panti asuhan dalam memanfaatkan dan mengelolah lahan yang belum digunakan secara optimal, program ini juga dapat meningkatkan produktifitas pada panti asuhan Sonaf Maneka tersebut.

Sehingga lahan pekarangan mereka yang belum digunakan secara optimal tersebut dapat mereka manfaatkan untuk menanam tanaman pangan yang dapat menghasilkan nilai produktif untuk mencukupi kebutuhan anak-anak panti asuhan Sonaf Maneka.

Pada metode pelaksanaannya hal-hal yang harus dilakukan adalah:

  1. Melakukan pendekatan dengan Kepala Panti Asuhan dan Anak-anak Panti Asuhan yang menjadi sasaran program yang akan dilaksanakan.
  2. Observasi wilayah panti asuhan Katolik Yayasan Sonaf Maneka secara menyeluruh untuk melihat sumber daya yang tersedia dan menemukan masalah apa yang ada di panti asuhan tersebut.
  3. Konsultasi dengan Kepala Panti asuhan dan meminta persetujuan mengenai program yang akan dijalankan untuk mengatasi masalah yang ada dengan memanfaatkan potensi sumber daya yang tersedia.
  4. Melakukan sosialisasi terlebih dahulu sebelum melaksanakan program agar masyarakat menjadi paham maksud dan tujuan dari program tersebut sehingga tidak terjadi kesalahpahaman di masa mendatang.
  5. Lokasi pelaksanaan program adalah lahan pekarangan panti yang berada di belakang gedung panti asuhan Sonaf Maneka.
Baca Juga:  3 OKP Nasional Soroti Kasus Proyek Awololong di Polda NTT

Pelaksanaan Program

Pertama, dilakukan pemberian materi kepada seluruh masyarakat panti baik Kepala Panti, Pengasuh maupun anak-anak tentang bagaimana cara pemanfaatan lahan dengan metode Tumpang Sari untuk ketahanan pangan dan peningkatan produktivitas panti asuhan, proses penanaman dengan menggunakan metode tumpang sari, alat dan bahan apa saja yang harus disiapkan serta bagaimana pemeliharaan dan pengolahannya.

Hal ini bertujuan agar mereka memiliki bekal pengetahuan yang cukup sebelum melakukan praktek menanam tanaman pangan dengan metode tumpang sari tersebut.

Seminggu setelah proposal pengajuan program kami disetujui, kami melakukan berbagai persiapan dan turun ke lapangan untuk melaksanakan program.

Persiapan yang kami lakukan yaitu menyiapkan bibit, pupuk, serta snack untuk anak-anak panti, peralatan yang kami butuhkan dan lain sebagainya.

Hari Minggu tanggal 10 November 2019 tepatnya pukul 14.00 wita, kami tiba di Panti Asuhan Sonaf Maneka di kelurahan Lasiana dan bertemu dengan kepala panti, pengurus, pengasuh dan anak-anak panti sekitar 50-an anak.

Program kami awali dengan melakukan pendekatan dengan anak-anak panti beserta para pengasuh terlebih dahulu, agar ketika melaksanakan program dapat lebih mudah dalam interaksi dan juga komunikasi.

Kami berkenalan dan bermain bersama, kami juga melihat kondisi panti mulai dari kamar tidur, dapur, hingga kebun yang dijadikan lahan tanam menanam oleh pihak panti.

Baca Juga:  Bupati Jawa Timur Sambut Baik Program Bantuan Yayasan STAPA Center Tangani Corona

Anak-anak panti menerima kedatangan kami dengan sukacita, begitu pula para pengasuh yang menemani kami ketika melakukan program.

Setelah melakukan pengenalan dan pendekatan, kami kemudian membuka acara dengan doa bersama. Lalu kami memulai dengan memaparkan beberapa hal terkait tujuan kami dan juga bentuk kerja sama yang akan kami jalin dengan mereka.

Sesudah itu dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh salah satu mahasiswa Fakultas Pertanian yang kami ajak bekerja sama.

Pemateri memaparkan materi dengan sangat baik karena sudah terbiasa melakukan sosialisasi terkait metode tumpang sari dalam bertani, bahkan hingga ke berbagai tempat di luar kota kupang.

Bahasa yang digunakan untuk memberi materi kepada anak-anak sangat mudah dipahami. Dia juga menjelaskan budaya-budaya bertani di berbagai tempat yang juga sebenarnya sudah sering melakukan metode tumpang sari ini. Namun jika ingin hasil yang lebih efektif dan efisien maka tanaman yang ingin digunakan haruslah sesuai kriteria dan juga umur tanaman apa saja yang cocok untuk ditanam bersama. Misalnya tanaman jagung dapat ditanam bersama labu karena adanya perbedaan cara tumbuh.

Jagung tumbuh ke atas dan labu tumbuh menjalar, yang terpenting juga dalam tumpang sari yaitu harus ada perbedaan umur atau masa tanam dari tumbuhan yang ingin diterapkan metode tumpang sari.

Dapat juga ditambah kacang panjang yang nantinya dapat tumbuh merambat di badan batang jagung namun itu dapat dilakukan setelah jagung berumur 2 bulan, jagung pun dapat semakin kokoh berdiri.

Usai pemaparan materi, kami melakukan sedikit permainan, dengan membuat teki-teki dan beberapa pertanyaan terkait materi yang disampaikan untuk melihat sejauh mana pemahaman anak-anak panti.

Antusias anak-anak panti sangat luar biasa, dengan penuh semangat mereka menjawab semua pertanyaan dan kami pun memberi hadiah seperti buku tulis baru untuk mengapresiasi semangat mereka.

Baca Juga:  Reses di Pulau Tengah, Anggota DPR Lampung Selatan Diminta Kawal Aspirasi Masyarakat

Untuk menguatkan ingatan mereka terkait penjelasan pemateri tentang metode tumpang sari kami bergegas menuju kebun mereka dan mengajak mereka untuk melakukan praktek bersama agar mereka dapat benar-banar paham apa yang disampaikan.

Jagung dan labu yang dijelaskan oleh pemateri, itu juga yang kami siapkan untuk ditanam bersama dalam praktek kali ini.

Praktek menanam dengan metode tumpang sari kami mulai dengan membersihkan rumput-rumput kecil di lahan yang disiapkan pihak panti. Setelah itu kami menggembur tanah yang ada dan kemudian disiram air agar siap utuk ditanami benih.

Benih jagung dan labu ditanam bersama tapi dengan cara: 3 bibit jagung ditanam, kemudian 30 cm jarak berikut ditanam 3 bibit jagung dan 2 bibit labu dalam lubang yang sama, lalu 3 bibit jagung lagi, begitu seterusnya hingga selesai.

Langkah berikut setelah menanam benih yaitu memberi pupuk ke dalam setiap lubang yang sudah ditanami benih. Setelah semua lubang terisi pupuk maka selanjutnya disiram dengan sedikit air dan dipercik.

Praktek menanam pun selesai dilakukan dan dilanjutkan dengan pemberian arahan dari pemateri terkait bagaimana menjaga dan merawat tanaman yang ada dan juga pesan untuk memberikan pupuk pada satu bulan setelah penanaman.

Kegiatan kami usai pada pukul 17.00 wita. Kami kembali ke dalam ruangan lalu bersama mereka menyantap snack yang sudah kami sediakan, tak lupa kami menjanjikan untuk 2 minggu setelahnya kami akan kembali untuk melakukan monitoring. Kami menyampaikan kepada mereka jikalau kami akan terus melihat dan merawat tanaman yang sudah ditanam. (*)

Oleh: Anastasia Ening Bulen dan Maria Karolina Manek (Mahasiswa Semester V Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana Kupang)