Cara SMART dan SMALL untuk Cegah DBD di Kota Kupang

oleh -316 views
Foto Ilustrasi Demam Berdarah

OPINI, suluhdesa.com – Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) awal tahun 2019 di Kota Kupang berubah menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) yang ditetapkan oleh Wali Kota Kupang. Kejadian ini sangat mengejutkan kita semua, terutama bagi masyarakat umum dan kami mahasiswa kesehatan masyarakat.

Kejadian Luar Biasa Demam Berdarah Dengue (KLB DBD) terjadi pada musim penghujan awal tahun 2019 yaitu Bulan Januari hingga resmi dicabut status KLB pada bulan Maret 2019. Sebanyak 487 kasus terjadi dan 1 orang meninggal dunia akibat DBD.

Sebanyak 1,5 miliar rupiah dialokasikan oleh Pemkot Kupang untuk mengatasi masalah ini dan mencegah perkembangbiakan vektor.

Hal-hal di atas membuktikan bahwa akan lebih banyak biaya yang dihabiskan untuk menyelesaikan masalah KLB DBD ini, dibandingkan dengan melakukan program atau upaya pencegahan sebelumnya.

Kita juga akan menyadari bahwa akan lebih banyak masyarakat yang terkejut dan shock secara mental jika tiba-tiba menghadapi masalah seperti ini. Berbagai pertanyaan pun muncul dibenak kita, mengapa hal ini terjadi dalam jumlah yang besar? Apakah masyarakat telah tahu dan sadar bahwa mereka menghadapi masalah DBD bukan masalah demam biasa pada umumnya? Apakah kita sebagai pejuang kesehatan masyarakat telah memberikan informasi yang tepat dan telah membagikannya dengan baik? Lalu apakah masyarakat telah merubah perilakunya ke arah yang lebih sehat?

Baca Juga:  Pemerintah Harus Menangkal Radikalisme di Wilayah NTT

Bayangkan jika kamu terbangun di pagi hari dan mendapati bahwa anakmu mengalami demam yang naik turun, dan tanpa sadar kamu hanya mengira bahwa yang diderita oleh anakmu hanyalah demam biasa, padahal itu adalah DBD. Pada saat demamnya menurun, kamu merasa senang dan berhenti memberikan pengobatan apa pun dan mengira bahwa anakmu telah sembuh, faktanya itu adalah fase kritis dari DBD.

Hari berikutnya demamnya kembali meningkat dan kamu pun menjadi panik dan tak lama kemudian kesehatan anakmu menurun drastis dan mengalami gejala seperti bintik kemerah-merahan, nyeri pada ulu hati hingga muntah darah, lalu beberapa hari kemudian semuanya sudah terlambat dan anakmu itu meninggal dunia.

Tentu akan sangat mengejutkan jika kita menghadapi masalah yang kita kira biasa saja tetapi faktanya itu adalah masalah yang sangat serius dan berbahaya, dan kita mengambil langkah pengobatan yang salah.

Pada akhirnya, kita hanya akan menyalahkan diri kita sendiri sebab terjadi sesuatu dengan seseorang atau anak kita sendiri jika pengobatan yang diberikan dan pengetahuan tentang suatu penyakit epidemik adalah salah.
Akan sangat berguna dan bermanfaat jika kita membentengi diri kita dan mencegah terjadinya suatu penyakit, terutama DBD.

Baca Juga:  Dandim 1604/Kupang Ajak Masyarakat Waspadai Demam Babi

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya DBD yaitu act SMART for SMALL.

(1) Share, bagikan informasi sekecil apapun itu terutama tentang penyakit epidemik yang akan terjadi pada bulan-bulan tertentu.

(2) Maintenance, peliharalah dan kembangkan lingkungan tempat anda tinggal menjadi lebih baik dan lebih sehat, juga hygiene perorangan dan sanitasi lingkungan anda.

(3) Anticipating, Antisipasi atau cegahlah segala kemungkinan terjadinya DBD dengan memutuskan rantai perkembangbiakan Aedes aegypti dan langkah 3M Plus.

(4) Responsible, bertanggung jawablah atas segala intervensi anda terhadap lingkungan, seperti jagalah hutan agar vektor menetap hanya di hutan dan bukan di lingkungan anda tinggal.

(5) Teaching, mulailah mengajari keluarga anda untuk menjadi sehat dan melakukan segala tindakan pencegahan serta bersikap peduli terhadap orang lain.

Tindakan SMART ini akan (a) Sustainable, Share akan mengubah persepsi orang untuk mulai peduli terhadap banyak orang sehingga semua ini akan bekerlanjutan.

(b) Meaningful, semua tindakan pemeliharaan dan pengembangan yang dibuat terhadap peningkatan derajat kesehatan anda adalah sebuah tindakan yang akan sangat berarti dan memiliki dampak ke depannya.

Baca Juga:  Komunitas AMOR Paroki St. Fransiskus dari Assisi Kolhua Berbagi Kasih

(c) Avoid, segala tindakan antisipasi dan pencegahan seperti 3M plus tujuannya hanya satu yaitu untuk menghindari kasus DBD di keluarga anda.

(d) Lunged and Lessen, ketika kamu melakukan suatu tindakan pencegahan dengan rasa bertanggung jawab maka kamu akan memiliki semangat atau spirit untuk menerjang atau melalui semua tantangan dan hambatan dan mengurangi vektor sekitar.

(e) Loved, mengajari seseorang akan berdampak bahwa mereka dipedulikan dan disayangi sehingga mereka juga akan merasa nyaman dan tetap untuk menerima pelajaran preventif mengenai DBD tersebut.

Bukankah terlalu banyak hal-hal yang perlu diingat dan dilakukan? Satu yang perlu diingat bahwa hidup ini singkat dan terlalu berat, berhenti stress terhadap kata-kata orang, jalanilah hidup anda. Hidup sehat dimulai dari anda, keluarga anda dan masyarakat lingkungan anda tinggal. Jadilah agent of change, karena DBD akan tetap ada namun kita sudah SMART untuk hidup yang SMALL. (*)

Penulis: Jelia Wiwin Ama, Refandro Purumbawa, Simon Jordy Jibrael Lenggu, Sri Devi Musa dan Vebriani Maria Sinantong (Mahasiswa Kelas C Semester V Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Nusa Cendana Kupang)