Peserta Rembuk Stunting Rote Ndao Sepakat Menanam Marungga

oleh -478 views
Kegiatan Koordinasi dan Konvergensi (Rembuk Stunting) Tingkat Kabupaten Rote Ndao

ROTE, suluhdesa.com – Kegiatan Koordinasi dan Konvergensi (Rembuk Stunting) Tingkat Kabupaten Rote Ndao yang dilaksanakan pada Sabtu (21/12/2019) di Aula Videsy dibuka oleh Bupati Rote Ndao yang diwakili Asisten Perekonomian Pembangunan Setda Kabupaten Rote Ndao.

Kegiatan ini dihadiri oleh 186 peserta dari lintas sektor, diantaranya para kepala OPD, Camat, Lurah, Kepala Desa dan para Kepala Puskesmas Kabupaten Rote Ndao. Selain itu hadir pula Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Rote Ndao, Ketua Perhimpunan Rote Bersatu (PRB), dan wakil Komunitas Anak Muda untuk Rote Ndao (KAMu Rote Ndao).

Narasumber dalam acara ini adalah Kepala Bapelitbang Kabupaten Rote Ndao (Drs. Frengky J. Haning), Sekretaris III Tim Penggerak PKK Kabupaten (Maria Dolorosa Bria Haning, S.Pi., MenvSi) dan Anggota Tim Percepatan Pencegahan dan Penanganan Stunting Terintegrasi Kab. Rote Ndao sekaligus Pelaksana Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao (Sherwin M.R. Ufi, S.KM., MPH). Moderator kegiatan ini adalah Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (dr. Rina Sutjiati).

Dalam sambutan Bupati Rote Ndao disampaikan bahwa Kabupaten Rote Ndao telah menyelesaikan 5 dari 8 aksi konvergensi penanganan stunting tingkat Kabupaten. Momen koordinasi dan konvergensi ini digunakan untuk melaksanakan aksi 6 s.d 8, yakni manajemen data, pengukuran dan publikasi data stunting serta review kinerja stunting.

Bupati Rote Ndao menekankan bahwa pencegahan stunting bukan hanya urusan Dinas Kesehatan semata, tetapi juga urusan semua pihak. Kontribusi Dinas Kesehatan dalam penanganan stunting hanyalah 30%, sedangkan agar pencegahan stunting efektif, maka diperlukan 70% kontribusi dari lintas sektor.

Dalam materi yang dipaparkan oleh Kepala Bapelitbang disampaikan bahwa Rote Ndao pernah menerima penghargaan kategori terbaik dalam pelaksanaan aksi konvergensi regional III tingkat nasional dan karena itu hal baik ini perlu dipertahankan. Untuk itu diperlukan kerja sama semua pihak untuk dapat mempersiapkan aksi 6 sampai dengan 8.

Baca Juga:  Gubernur VBL: Kemiskinan Masih Jadi Isu yang Memalukan di NTT

Sekretaris III TP PKK Kabupaten memaparkan materi tentang pangan lokal untuk berantas stunting.

“Rote Ndao memiliki salah satu keunggulan pangan lokal yang telah dianugerahkan oleh Sang Pencipta, yaitu tanaman kelor. Tanaman ini cocok tumbuh pada kondisi geografis seperti di pulau Rote. Tanaman kelor ini sangat bermanfaat bagi anak Balita karena mengandung zat gizi yang dibutuhkan,” ucap Maria Dolorosa Bria Haning.

Karena itu Maria Dolorosa Bria Haning mendorong seluruh perangkat daerah untuk bersama-sama berkoordinasi untuk menanam kelor/marungga agar pangan lokal dapat diakses hingga di setiap rumah tangga.

“Kesepakatan ini tertuang dalam berita acara yang ditandatangani oleh seluruh peserta. Kesepakatan yang sama ini telah dimulai di Kecamatan Rote Timur dan Rote Selatan, di mana camat beserta kepala desa, TP PKK desa dan kader desa bersepakat untuk melakukan Gerakan Menanam Marungga. Gerakan ini dinamai dengan nama lokal, yaitu Mai Ita Fo’a Fo Sele Aifo yang artinya Mari kita bangun untuk menanam marungga,” jelas Maria.

Menurut Maria, Ini merupakan bentuk tindak lanjut dari sambutan Bupati Rote Ndao pada 17 Agustus 2019 lalu agar perlu ada aksi nyata dalam penanganan stunting di Kabupaten Rote Ndao.

Menurut Maria Dolorosa Bria Haning, melalui Gerakan Menanam Marungga ini, maka sesungguhnya potensi ekonomi desa bisa terangkat. Karena sudah ada investor yang siap untuk memasarkan marungga ke luar negeri. Jika setiap desa menanam marungga, maka BUMDes bisa diaktifkan untuk mengelola pangan lokal ini.

“Bukan hanya marungga, setiap desa dengan potensi pangan lokal yang berbeda-beda seperti kacang-kacangan (kacang mete, kacang tanah, dan sebagainya) bisa saling berkoordinasi untuk membentuk pangan lokal yang pada akhirnya bisa diproduksi untuk anak-anak gizi buruk dan stunting dan disediakan secara instan,” imbuh Maria.

Baca Juga:  UPKM/CD Bethesda Yakkum Areal Malaka Laksanakan Bimtek

Maria Dolorosa Bria Haning memaparkan bahwa ini akan menjadi pangan lokal seperti VitaMeal dan diberi nama VitaRote. VitaMeal merupakan makanan kaya gizi yang diproduksi di Amerika Serikat dan telah berhasil dalam penanganan gizi buruk di Afrika.VitaMeal pernah diujicoba di Kabupaten Rote Ndao pada tahun 2017 dan 2018 dan terbukti menurunkan angka gizi buruk, tetapi karena harganya yang mahal, maka penyediaan VitaMeal oleh donatur dihentikan untuk sementara. Menyikapi ini maka VitaRote dapat menjadi produk alternatif yang dipakai untuk anak stunting dan gizi buruk dengan mengandalkan pangan lokal di Rote.

Pemateri ketiga memaparkan tentang aksi 7, pengukuran dan publikasi data stunting. Aksi 7 ini bertujuan agar peserta dapat mengetahui tentang data prevalensi stunting anak Balita tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desa serta dapat mengambil komitmen bersama untuk mencegah stunting di tingkat desa, kecamatan dan kabupaten.

Menurut data ePPGBM, di akhir 2019 angka stunting di Kabupaten Rote Ndao adalah 36%. Jika dibandingkan dengan data Riskesdas 2018, maka terjadi penurunan angka stunting dari 44% menjadi 36% (8%), namun jika disandingkan dengan data ePPGBM pada tahun 2018 maka terjadi stagnan, karena pada tahun 2018 prevalensi stunting di Kabupaten Rote Ndao adalah 36%. Jika dibandingkan dengan target RPJMD Kabupaten Rote Ndao, yaitu menurunkan angka stunting dari 44% menjadi 40% pada tahun 2019, maka target ini telah terpenuhi.

Kabupaten Rote Ndao telah menentukan target untuk mencapai kelengkapan data pada tahun 2019 dan akurasi data pada tahun 2020. Kegiatan penimbangan pada bulan Februari dan Agustus tahun 2020 akan dilakukan dalam bentuk tim terpadu lintas sektor bekerja sama dengan tim pokja stunting provinsi NTT. Agar kunjungan di Posyandu memadai, maka Camat, Kepala Desa dan Lurah bersepakat untuk mendorong masyarakatnya menghadiri Posyandu.

Baca Juga:  Kader Posyandu Desa Kakaniuk Sosialisasi Manfaat Tanam Kelor

Berikut adalah 5 poin hasil kesepakatan seluruh peserta kegiatan koordinasi dan konvergensi (rembuk stunting) di Kabupaten Rote Ndao yang tertuang dalam berita acara kesepakatan:

Kesatu, seluruh pihak (OPD terkait, Puskesmas, Camat, Kepala Desa, Lurah, RT/RW dan Tim Penggerak PKK) akan menggerakkan masyarakat untuk hadir di Posyandu khususnya pada saat bulan operasi penimbangan (Februari dan Agustus).

Kedua, para Kepala Desa dan Lurah wajib untuk mendukung pengelolaan pangan lokal sesuai dengan potensi pangan lokal yang ada di desa/kelurahannya.

Ketiga, BUMDES Desa Lidamanu Kecamatan Rote Tengah bersedia melakukan pilot project pengelolaan pangan lokal (kelor dan air kelapa) yang dimulai pada tahun 2020.

Keempat, setiap desa/kelurahan yang memiliki lahan wajib menanam kelor. Jika tidak ada pekarangan, maka setiap desa akan menanam di Posyandu, tempat ibadah, sekolah, Puskesmas, kantor desa atau kantor camat dan setiap rumah tangga di masing-masing desa wajib menanam marungga di pekarangan melalui Gerakan Menanam Marungga (Mai Ita Foa Fo Sele Aifo).

Kelima, OPD lintas sektor, Puskesmas dan desa/kelurahan yang menangani stunting bersedia untuk bekerjasama dan menyiapkan data terkait manajemen data stunting.

Sebagai bentuk tindak lanjut dari berita acara ini tim percepatan pencegahan dan penanganan stunting terintegrasi tingkat Kabupaten akan mempersiapkan instruksi Bupati Rote Ndao. (rls/red.)