DY. Bere, Tokoh Pembangunan Belu-Malaka Itu Telah Pergi

oleh -564 views
Almarhum David Yohanes Bere (tokoh pembangunan Belu-Malaka)

ATAMBUA, suluhdesa.com – David Yohanes Bere mungkin tidak dikenal banyak orang saat ini, akan tetapi sosok ini di era 70-an hingga awal 90-an sangat familiar di masyarakat Belu dan NTT.

DY. Bere, demikian sapaan akrabnya, lahir di Litamali, Kecamatan Kobalima (saat ini) pada tanggal 28 Desember 1934, merupakan anak pertama dari 7 bersaudara, buah cinta pasangan Laurensius Manek dan Agnes Tahan.

Pendidikan dasar dimulai David di SDK Kada, kemudian pindah ke SDK Betun. Tahun 1951, David melanjutkan pendidikan ke Seminari Menengah Lalian dan tamat pada tahun 1958. Tahun itu juga, David mulai bekerja di Perusahaan Swasta hingga Tahun 1971, sebelum akhirnya diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil pada Tahun 1972.

DY. Bere menikah dengan Serafina Pareira pada tahun 1962 dan dikaruniai 7 orang anak. Sebelum menutup usianya, David telah diberi anugerah untuk melihat 20 orang cucunya.

Tutup usia pada 18 Desember 2019 di usia ke 85 Tahun (sisa 10 hari merayakan hari lahir ke-85), David meninggalkan beberapa karya monumental, baik di bidang tugasnya sebagai aparatur sipil negara maupun di bidang sosial, budaya dan keagamaan.

Baca Juga:  Bupati Malaka Beri Imbauan dan Minta Masyarakat Malaka Tetap Tenang Hadapi Corona

Di bidang sosial, budaya dan keagamaan, usai tamat Seminari, bersama seorang Misionaris, yaitu Pater Sieben, SVD, David membangun Gua Maria Lourdes Tubaki Betun, yang hingga saat ini menjadi destinasi ziarah rohani terkenal di Kabupaten Malaka. Karya yang sama dilaksanakan David di Wemasa, yaitu membangun Gua Maria Wemasa pada tahun 1983, yang diselesaikan tahun 1985.

David juga membentuk kelompok Koor Sisilia pada tahun 1958, bersama beberapa pemuda di Kampung Baru, Atambua dan berhasil memberikan warna lain pada kehidupan liturgis di Gereja kala itu.

Sejak 1981, David memimpin kelompok seni Tarian Likurai dan Musik Suling Bambu dari Perwakilan Kecamatan Wemasa (sekarang Kecamatan Kobalima) untuk pementasan di berbagai tempat, termasuk di Kota Kupang, ibu kota Provinsi NTT).

Baca Juga:  Ketua ARAKSI: Terkait Laporan Stefanus Matutina ke Polisi, Saya Siap Hadir dan Didampingi 23 Kuasa Hukum

Di bidang Pendidikan, berbekal latar belakang sebagai staf Tata Usaha pada SMP Bantuan Atambua (sekarang SMPK Don Bosco) dari tahun 1958 hingga 1962, ketika melihat kebutuhan di tengah masyarakat, David membangun SMP Kristen Atambua pada tahun 1959 sekaligus menjadi guru, David juga membangun SMP Sulama Kada dan SMP Alas. Dua sekolah terakhir ini dibangun sekaligus pada tahun 1977. Banyak kendala yang dihadapi kala itu, tetapi semua dapat diatasi dan 2 sekolah tersebut berdiri kokoh hingga saat ini dan terus berkarya mendidik para generasi bangsa.

Dua kali David terpilih menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Gotong Royong (DPRDGR), yaitu padaTahun 1963 sampai 1965 (karena di-recall) dan kemudian terpilih kembali pada tahun 1967 sampai 1971.

David terlibat dalam pembangunan beberapa gedung dan infrastruktur lain, antara lain, gedung DPRD Belu tahun 1962, pada masa kepemimpinan Bupati A. A Bere Tallo dan Kantor Camat Malaka Timur di Boas serta beberapa jembatan kecil di Labur, tahun 1972.

Baca Juga:  KBM di Malaka Diberlakukan Bagi Sekolah yang Sudah Siap

Tahun 1972, David Yohanes Bere Manek diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan penempatan awal Kantor PMD Kabupaten Belu. Tahun 1976 dipercaya menjadi Kepala Desa Litamali dan membangun Kantor Desa Litamali kala itu.

Setahun kemudian, tepatnya tahun 1977, David diangkat menjadi Kepala Perwakilan Kecamatan Malaka Timur di Wemasa (cikal bakal Kecamatan Kobalima). Jabatan ini diemban hingga pensiun pada tahun 1991.

Prestasi yang digapai David selama masa kepemimpinannya di Kobalima adalah mensukseskan Operasi Nusa Makmur pada tahun 1981. Keberhasilan ini mengundang beberapa pejabat teras, baik tingkat Kabupaten, Provinsi maupun Pusat untuk datang ke Kobalima dan menyaksikan keberhasilan tersebut.

David Yohanes Bere Manek, sosok pembangun itu telah tiada. Tetapi namanya akan selalu hidup lewat karya-karyanya yang monumental. (john gs/ananda/disadur dari daftar riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh almarhum david yohanes bere)