Terkait Kematian Anselmus Wora, PMKRI Kupang Desak Kapolda Copot Kapolres Ende

oleh -1.795 views
Ketua PMKRI Kupang, Adrianus Oswin Goleng.

KUPANG, suluhdesa.com – Terkait misteri kematian Almarhum Anselmus Wora, Warga Masyarakat Kabupaten Ende yang sejauh ini masih mengendap di pihak penyidik Kepolisian Resort Ende, PMKRI Cabang Kupang melakukan gerakan ke Polda NTT pada hari Rabu (11/12/2019).

Presidum Gerakan Kemasyarakatan (Germas ), Esto Ance menilai adanya unsur pembiaran oleh Kapolres Ende dalam mengungkapkan misteri kematian saudara Almarhum Anselmus Wora.

“Kami minta kepada Kapolda NTT untuk melakukan penyidikan terhadap misteri kematian Almarhum Anselmus Wora. Kami segenap warga perhimpunan menyerukan Kapolda NTT untuk menuntaskan misteri kematian Anselmus Wora yang terindikasi tidak wajar, menuntut pihak kepolisian Provinsi NTT untuk mengambil alih dan segera menginvestigasi guna membongkar misteri kematian ini secara transparan tanpa intervensi pihak mana pun,” seru Esto.

Ketua Presidium PMKRI Cabang Kupang Adrianus Oswin Goleng, kepada wartawan menyampaikan bahwa segenap warga Perhimpunan turut berduka cita atas meninggalnya Almarhum dan menyayangkan lambannya proses hukum yang ditangani Kapolres Ende.

Baca Juga:  COVID-19; Sebuah Situasi Batas Manusia

“Kami menduga ada motif di balik kematian Anselmus Wora sehingga ini harus dibuka oleh pihak kepolisian. Kami sadar bahwa aksi ini tidak kemudian mengembalikan nyawa almarhum, namun ini tanggung jawab moril soal kemanusiaan. Kami termasuk keluarga hanya ingin mencari kebenaran atas kematian saudara kami. Melalui beberapa keterangan dan hasil investigasi internal keluarga, kami menduga kematian almarhum sudah terencana oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, dan kepada Kapolda NTT kami menaruh harapan agar dibongkarnya kasus ini. Kami juga mengecam sikap pihak penegak hukum yang lamban dan antipati dalam mengungkap fakta di balik kematian Almarhum Anselmus Wora,” pinta Oswin.

Oswin bahkan secara tegas mendesak Kapolda NTT untuk segera mencopot Kapolres Ende, karena terkesan lalai dalam menangani misteri kematian Almarhum Anselmus Wora. Ia juga memberikan mosi tidak percaya terhadap Kapolres Ende dan Tim penyidik Kapolda NTT di bawah pimpinan Wadirdireskrimum Polda NTT, Anton Christian Nugroho, yang sejauh ini dalam catatan PMKRI tidak mampu menangani beberapa kasus pembunuhan sebelumnya.

Baca Juga:  ALumni JMK3: Pemerintah Harus Distribusi APD Sampai Tingkat ke Puskesmas

“Untuk itu Kapolda NTT segera bentuk tim investigasi yang lebih kompeten dan profesional di bawah pimpinan Ipda Buang Sine, sebab orang ini kami tahu rekam jejaknya,” tegas Oswin.

Lanjut Oswin, “di sisi lain untuk memperoleh barang bukti dan petunjuk, mestinya pihak penyidik turut memeriksa Bupati Ende dalam rangka mendalami status dan keberadaan mobil DAK juga keberadaan sopir pribadinya Hasan alias Acan yang saat itu berada di lokasi kejadian. Kapasitas Acan bukan pegawai di lingkup Dishub Kabupaten Ende. Nah kehadiran dia untuk apa dan siapa yang perintahkan. Pertanyaan ini yang harus digali oleh penyidik guna membongkar misteri kematian almarhum secara terang di hadapan publik lebih khusus keluarga. Bahkan keterangan pihak kepolisian bahwa sudah menaikan status ke penyidik yang tertera dalam SP2HP Nomor: B/305/XI/2019/Reskrim yang mana disebut masuk dalam dugaan tindakan pembunuhan. Lantas tunggu apa lagi untuk menetapkan tersangka, jangan sampai takut.”

Baca Juga:  Kepala Staf AD Lakukan Kunjungan Kerja di Wilayah Korem 161/Wira Sakti

Oswin mengungkapkan jikalau menurut pengakuan keluarga Almarhum Anselmus Wora yang menghubungi pihaknya bahwa sebelum kematian, Almarhum Anselmus Wora tidak sedang dalam keadaan sakit dan tidak memiliki riwayat mengidap penyakit saat ke Pulau Ende, atau dengan kata lain dalam keadaan sehat. Rekan almarhum yang mengajak ke Pulau Ende tidak pernah menghubungi keluarga saat peristiwa terjadi sampai dengan saat ini, padahal memiliki nomor Hp istri almarhum. Rekan Almarhum juga tidak melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib atau pun pihak berwenang di Pulau Ende saat terjadinya peristiwa kematian tersebut. Rekan Almarhum tidak merasa bertanggungjawab dan terkesan menyembunyikan peristiwa kematian, dengan tidak pernah mendatangi rumah duka untuk mengklarifikasi kronologis kejadian kepada istri dan anak-anak almarhum. (valo/red.)