Peran Milenial NTT Menuju Bonus Demografi dan Respon Pemerintah

oleh -499 views
Erdus Anggal, Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang

OPINI, suluhdesa.com – Indonesia dalam beberapa tahun terakhir dikabarkan akan dihadapkan dengan bonus demografi di tahun 2028-2045, juga di tambah lagi dengan peralihan revolusi 3.0 dan memasuki Revolusi 4.0. Tentu kedua hal ini cukup membuat Negara harus ekstra mempersiapkan diri untuk bersaing dengan perkembangan ini.

Waktu tidak akan menunggu kita karena ia akan berjalan terus tanpa jeda apalagi berhenti. Maka dengan itu negara harus mampu menuntut masyarakat dan mensupport pemuda untuk bisa bersaing agar tidak ketinggalan.

Bonus demografi adalah di mana negara didominasi oleh usia produktif yang menjadi inti penggerak kehidupan ekonomi di Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di ASEAN dengan jumlah penduduk sebesar 255 juta jiwa. Tentu kondisi ini membuat Indonesia memiliki potensi pasar yang besar dan mengungguli negara ASEAN lainnya.

Namun harapan baik ini akan menjadi wacana semu jika tidak diindahkan oleh negara pada umumnya dan khususnya pemerintah Daerah.

Bonus demografi akan menjadi peluang atau ancaman apabila tidak disertai dengan adanya investasi pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dan karakter penduduk. Namun kunci yang terpenting bagi saya adalah meningkatkan Sumber Daya Manusia dalam hal ini adalah perhatian khusus terhadap Pendidikan.

Yang namanya bonus adalah kesempatan dan hanya datang satu kali saja pada suatu negara, kemungkinan untuk datang kedua kalinya sangat minim. Inilah yang menjadi peluang kita untuk memanfaatkan hal ini.

Baca Juga:  ODP Dari Malang Meninggal di Kabupaten Malaka

Pemerintah Nusa Tenggara Timur harus lebih cepat menanggapi hal tersebut dan mempersiapkan serta mendorong pemudanya untuk mau bersaing dalam kondisi ini. Paling tidak diberikan pemahaman, pelatihan juga pengontrolan khusus terhadap perkembangan milenial.

Menurut Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2015 jumlah penduduk Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 5,4 juta jiwa, terdiri dari 2,69 juta laki-laki dan 2,73 jiwa perempuan.

Berdasarkan data berita resmi statistik (BRS) Februari tahun 2019, jumlah penduduk NTT saat ini 5.454.140 jiwa, terdiri dari penduduk usia kerja (15 tahun) 3.543.119 jiwa, angkatan kerja 2.486.281 jiwa, bekerja 2.411.533 jiwa, dan pengangguran terbuka 78.584 jiwa (3,01%).

Baca Juga:  Manusia Tidak Diukur Dari Gelar Tetapi Karakter

Jumlah ini menunjukkan bahwa NTT memiliki cukup banyak pengangguran yang harus diperhatikan secara khusus dan didorong untuk lebih kreatif melakukan sesuatu. Karena pengangguran terbanyak itu adalah sarjana baru yang tentunya paham akan teknologi yang sebenarnya lebih akrab dengan generasi milenial.

Berdasarkan literatur dari artikel Hitss.com, diketahui ada beberapa macam karakteristik dari generasi Milenial yaitu : Milenial lebih percaya User Genrated Content (UGC) dari pada informasi searah, Milenial lebih memilih ponsel dari pada TV, Milenial lebih wajib punya media sosial, Milenial lebih kurang suka membaca secara konvensional, ‌Milenial cenderung tidak loyal namun bekerja efektif, Milenial cenderung melakukan transaksi secara cashles, Milenial lebih tau teknologi dari pada orang tua mereka, Milenial cenderung lebih malas dan konsumtif.

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional tahun 2017, generasi milenial lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Sehingga hal ini mendorong pemerintah untuk bisa membaca arah gerak para generasi Milenial. Apalagi NTT masih pada posisi rata-rata sehingga perlu didorong secara masif angkatan kerja generasi milenialnya.

Baca Juga:  Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Beri Penyuluhan PHBS di SD Karang Paiton

Revolusi 4.0 telah mendorong usaha-usaha star up untuk memasuki babak baru dunia bisnis. Tentu ini semestinya menjadi hal yang bisa dipandang oleh generasi milenial untuk mengembangkan ide-ide segar, kreatif dan inovatif untuk menciptakan sesuatu yang baru bagi dunia industri.

Sehingga teknologi yang telah dikuasainya bisa dijadikan ladang bisnis sampingan atau mungkin tetap dengan melakukan bisnis via online.

Mengutip resume makalah PMKRI Cabang Malang Modul Hasil Konferensi Studi Regional (KSR) PMKRI Sanctus Thomas Aquinas Komisariat Daerah III tahun 2019 di Mataram merekomendasikan kepada pemerintah agar memberi ruang dan pelatihan berupa kursus untuk mengedukasi dan mempersiapkan komponen masyarakat khususnya organisasi kemahasiswaan sebelum terjun ke dalam lingkungan masyarakat.

Apa yang menjadi Peran Pemuda Milenial NTT Menuju Bonus Demografi?

Pemuda milenial harus mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak, dimanfaatkan secara baik untuk kepentingan membangun diri, bisnis online yang legal, dan selalu siap menjemput kesempatan.

Oleh : Erdus Anggal, Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian Universitas Tribhuwana Tunggadewi Malang.