Dukungan Psikososial Kembalikan Asa Anak Wamena

oleh -554 views
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melaksanakan kegiatan Dukungan Psikososial Bagi Anak Korban Kerusuhan Wamena dengan tema “Putra Putri Wamena Mengurai Asa” pada Minggu (24/11/2019).

JAYAWIJAYA, suluhdesa.com – Kerusuhan yang terjadi di Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Provinsi Papua pada 23 September 2019 lalu menyisakan trauma mendalam bagi anak – anak.

Kerusuhan memang sudah tidak terjadi lagi, namun masih banyak anak-anak yang belum kembali masuk sekolah karena masih merasa takut apabila tiba-tiba kerusuhan terjadi lagi pada saat mereka belajar di kelas seperti insiden kerusuhan sebelumnya. Oleh karenanya, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) melaksanakan kegiatan Dukungan Psikososial Bagi Anak Korban Kerusuhan Wamena dengan tema “Putra Putri Wamena Mengurai Asa” pada Minggu (24/11/2019).

“Ketika konflik sosial terjadi, perempuan dan anak menjadi korban yang paling rentan merasakan akibatnya. Selain keterbatasan pemenuhan kebutuhan dasar seperti pangan dan pelayanan kesehatan, mereka juga mengalami keterbatasan terhadap akses pendidikan dan perolehan informasi yang di akses melalui media sosial belum tentu valid,” tutur Asisten Deputi Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat dan Pornografi Kemen PPPA, Ciput Eka Purwianti.

Dalam sesi Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 15 anak di Wamena, terungkap masih adanya anak – anak di Wamena yang masih khawatir dan takut akan terjadi kerusuhan kembali, pengalaman melihat temannya menjadi korban kerusuhan, dan merasa sedih karena banyak teman – temannya yang pindah sekolah dan sebagian besar guru-gurunya belum kembali mengajar.

Baca Juga:  Anak Belajar di Rumah Selama COVID-19, Dampingi Penggunaan Internetnya

“Anak – anak harus tetap belajar. Wamena memang baru saja mengalami kejadian luar biasa pada 23 September 2019 lalu. Namun, pemerintah terus memberikan motivasi dan dukungan kepada anak – anak agar terus belajar untuk menggapai cita – cita mereka. Kami tahu belajar baik saja tidak cukup, tapi harus didukung dengan kondisi yang aman agar pembelajaran tersebut menjadi maksimal. Kami berharap dengan adanya kegiatan Dukungan Psikososial Bagi Anak Korban Kerusuhan Wamena anak – anak dapat lebih rileks dan menikmati hidup serta mempunyai motivasi dan keinginan untuk melepaskan beban. Sehingga memiliki konsentrasi belajar yang besar,” tutur Plt. Sekretaris Daerah Pemerintah Kab. Jayawijaya, Tinggal Wusono.

Ciput berharap kegiatan ini dapat mengembalikan semangat anak – anak Wamena untuk terus belajar dan menjadi tangguh.

Baca Juga:  Kemen PPPA Mengecam Kasus Penganiayaan Anak oleh Ibu Tirinya

“Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan bisa menjadi wadah bagi anak – anak untuk menyampaikan rekomendasi kepada pemerintah agar mereka tidak lagi trauma, serta mengembalikan semangat mereka untuk belajar dan dapat kembali memiliki ketangguhan dalam menghadapi masalah sehingga dapat menjadi produktif dan berdaya guna,” tutup Ciput.

Pemberian dukungan psikososial yang dilakukan Kemen PPPA lebih difokuskan bagi anak usia remaja karena di lapangan, aktivitas anak usia remaja menjadi berkurang karena masih mengalami trauma. Selain pembelajaran terkait stabilisasi emosi, Kemen PPPA juga memberikan bantuan berupa perlengkapan sekolah dan peralatan olahraga (volley dan badminton) untuk mengembalikan semangat dalam menjalankan aktivitas anak – anak Wamena.

Kegiatan Dukungan Psikososial Bagi Anak Korban Kerusuhan Wamena dengan tema “Putra Putri Wamena Mengurai Asa” menghasilkan beberapa rekomendasi:

1) Pemda perlu memetakan anak-anak yang terpisah dari orangtua untuk melangkapi pendataan siswa dan guru yang belum kembali yang dilaksanakan saat ini.

2) Pemda wajib memastikan anak-anak yang terpisah dari orang tuanya mendapatkan pengasuhan pengganti, agar anak tidak telantar;

Baca Juga:  Covid-19 Picu Terjadinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga

3) Dibutuhkan joint secretariat/sekretariat bersama untuk melakukan family tracing/reunification;

4) Disusun data terpilah yang terdiri dari kategorisasi usia, jenis kelamin untuk menjalankan point 3);

5) Koordinasi antar dinas dan stakeholders terkait untuk pemenuhan kebutuhan dasar bagi anak, khususnya masalah pendidikan;

6) Menyediakan aktivitas waktu luang khususnya bagi anak remaja untuk menghilangkan trauma, dapat bekerjasama dengan lembaga-lembaga keagamaan.

7) Kemen PPPA diharapkan mengaktivasi Forum Anak sebagai salah satu wadah untuk adanya aktifitas waktu luang bagi anak – anak penyintas.

8) Diberikannya afirmasi terkait masalah ujian di sekolah bagi anak-anak yang belum kembali ke sekolah karena trauma pasca kerusuhan;

9) Sosialisasi dan advokasi bagi seluruh masyarakat juga tokoh agama serta tokoh adat untuk mencegah terjadinya kerusuhan kembali;

10) Orang dewasa juga memerlukan dukungan psikososial karena masyarakat masih mengalami keresahan terkait isu – isu akan terjadi kerusuhan dan trauma telah mengalami kerusuhan. (Kementrian PPA RI/vrg)