Cinta Ala Aktivis

oleh -574 views
Balisha Ngindang

CERPEN, suluhdesa.com – Beberapa tahun silam aku mengenyam pendidikan tinggi di salah satu Universitas ternama di ibu kota.

Awalnya aku berpikir bahwa aku pasti kalah sebelum bertarung karena kondisi ekonomi keluargaku sangat terjepit. Bermodalkan semangat akhirnya aku lolos masuk ke kampus tersebut. Aku beradaptasi dengan lingkungan kampus yang tentunya banyak persaingan secara intelektual. Di kampus, kami dituntut untuk belajar dan mencoba menemukan hal-hal baru. Jika tidak maka kita ketinggalan jauh dari teman-teman lain.

Media belajar di kampus bermacam-macam yaitu perpustakaan kampus dan wifi gratis untuk kalangan kampus. Bagi orang yang komitmen dengan waktu tentunya menimba banyak ilmu pengetahuan. Selain itu di kampus ini memiliki banyak kegiatan ekstra seperti seminar-seminar, pelatihan, penelitian untuk setiap bidang ilmu yang digeluti dan pengabdian masyarakat. Hal ini memacu mahasiswa untuk berkompetisi baik itu di bidang akademik maupun sosial. Itu sekilas tentang kondisi kampus kami.

Suatu ketika saya diajak oleh teman-teman sekelas untuk mengikuti pemilihan ketua HMPS (Himpunan Mahasiswa Program Studi). Awalnya kami sekedar bereuforia belaka. Saya secara pribadi tak berniat sedikit pun untuk mengikuti pemilihan tersebut namun dipaksakan oleh teman sekelas dan dengan berat hati saya pun menurutinya.

Sebagai anak baru di kalangan kampus, saya selalu saja cari sensasi demi menarik perhatian teman-teman lain. Mengikuti proses perkuliahan turut ramai saja intinya daftar hadir jangan ketinggalan. Kira- kira begitu perilaku anak baru. Aku dan kawan-kawan segera menuju auditorium tempat pemilihan yang akan dilakukan.

Tidak lama kemudian, seksi acara mengajak mahasiswa untuk menempati kursi-kursi kosong yang telah disediakan. Saya dan teman-teman duduk pada deret kursi yang paling belakang. Seremonial pembukaan dimulai. Suasana ruangan begitu hening ketika muncul seorang pria tampan berbadan tegap, tinggi, hitam manis, rambut panjang, berambut ikal, mengambil posisi di atas podium. Tangannya meraih microphone yang ada di hadapannya kemudian mulai bicara dengan lantang. Dari isi pembicaraannya diketahui bahwa dialah pimpinan sidang. Dia salah satu senior ternama di program studi kami.

Pemimpin sidang tersebut mulai mengarahkan satu persatu sesuai dengan tata cara persidangan. Ruangan persidangan menjadi gaduh ketika forum ramai-ramai angkat bicara untuk mengusung tokoh idolanya masing-masing. Lebih gentingnya lagi pada saat memasuki kriteria pencalonan. Forum menjadi ricuh. Hujan interupsi memenuhi ruangan sidang. Sebagian anak baru lari terbirit-birit. Ada yang ke sudut ruangan, ada yang meninggalkan ruangan dan bahkan tidak tahu ke mana perginya. Terlintas di benakku akan terjadi adu jotos dan pertengkaran hebat. Sorot mataku tertuju pada pimpinan sidang. Tiba-tiba salah satu anggota forum mencoba untuk merebut palu persidangan tetapi gagal. Untuk saja pimpinan sidang gesit mengamankan palu sidang tersebut. Pimpinan pun tangkas meredakan situasi untuk kembali normal.

Baca Juga:  Pemdes Hoelea Serahkan Bantuan Covid-19 Kepada KMH di Kupang

Pertarungan sengit ini disulut oleh senior-senior kelas kakap dari kalangan aktivis yang biasa dijuluki MA alias Mahasiswa Abadi. Julukan ini memang sangat familiar di kampus kami khususnya bagi mahasiswa yang sibuk mengkritisi sampai-sampai lupa diri. Akhirnya dari tiga calon hanya satu yang berhak menempati kursi kepemimpinan. Semua yang terjadi hanyalah dinamika yang dimainkan sekaligis proses belajar yang selalu diwariskan kepada mahasiswa baru.

Persidangan ini beda tipis dengan persidangan paripurna DPR. Menjadi pembedanya kalau persidangan di kampus kami semua forum begitu antusias sedangkan sidang paripurna DPR sebagian forum tidur-tiduran dan bahkan asyik-asyikan menonton video dan lain sebagainya. Begitu kira-kira informasi yang dilansir dari beberapa media mengenai perilaku anggota dewan.

Persidangan telah usai. Forum bergegas meninggalkan ruangan satu persatu. Aku masih saja penasaran dengan pria ad hock tadi. Penglihatanku tertuju ke atas podium. Pria itu menuruni anak tangga langkah demi langkah.
Tidak berpikir panjang kudekati dirinya.

“Hay kak namaku Vera” sembari menyodorkan tangan.
” Hay juga, namaku Yosef”. Sahutnya.

“Aku salut dengan ketangkasan kakak tadi. Dimana kakak belajar mengenai teknik memimpin rapat? Tanyaku lagi.

” Di organisasi ekstra kampus” jawabnya.

Aku semakin penasaran.
“Bisakah kakak menjelaskan sedikit bagaimanatentang organisasi ekstra kampus itu?”. Kataku dengan nada sedikit memohon.
” Maaf dek aku buru-buru sekarang”. Jawabnya sambil melangkah keluar.

Sejak itu kami pun tidak berkomunikasi lagi bahkan tidak sempat kami menukar nomor hp atau apa pun yang bisa dihubungi.

“Organisasi Ekstra Kampus”. Kalimat itu yang selalu terngiang di benak saya setiap menuju alam mimpi alias tidur. Di balik kesibukanku menuntaskan tugas-tugas perkuliahan aku bertekat meraih ruang belajar yang disampaikan pria muda itu. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa sudah saatnya mengasah mentalitas untuk berbicara di hadapan umum soalnya aku pemalu dan gugup. Dengan mengasah keterampilan berbicara aku dapat mengaplikasikan ilmu yang dimilki. Begitu komitmenku dalam hati.

Hari berganti hari dilewati. Aktivitas perkuliahan semakin eksis dan kenalan baru di kampus makin bertambah. Pola pergaulan kekota-kotaan semakin nampak. Aku menjalin kedekatan dengan orang-orang yang mempunyai semangat yang sama kemudian belajar mengerjakan tugas perkuliahan secara kolektif. Kami membiasakan diri berdiskusi. Mulai dari hal-hal yang sederhana. Kami berdiskusi lepas dengan cara kami sendiri di taman, di pantai tanpa ada yang menggurui. Perbedaan pendapat menjadi hal biasa untuk kami. Kadang diskusi tampa solusi. Sedikit konyol tapi asik. Itulah proses kuliah sambil berorganisasi gaya anak muda.


Suatu ketika saya membaca informasi di mading kampus bahwa akan diadakannya penerimaan anggota baru di salah satu organisasi ekstra kampus level nasional. Aku dan beberapa teman meluncur ke alamat tersebut kemudian mendaftarkan diri.

Baca Juga:  STIPAS KAK Gelar Seminar Pembentukan Karakter Milenial

Singkat cerita kami pun dilantik menjadi anggota di organisasi tersebut kemudian menceburkan diri demi mempelajari banyak hal.

Mentalitas kami benar-benar teruji. Kami dibina dan ditempa dengan berbagai tantangan yang tentunya menguji kesabaran. Banyak ilmu yang kami peroleh dengan cuma-cuma tanpa ada pungutan sedikit pun. Intinya semangat.

Suatu hari Presidium gerakan kemasyarakatan menyampaikan bahwa akan diadakan aksi demonstrasi terkait beberapa persoalan salah satunya adalah masalah korupsi yang merajalela di gedung DPR.

Masalah KKN memang marak terjadi dan terus menggerogoti bumi pertiwi baik itu tingkat lokal, regional dan nasional. Tikus-tikus berdasi berlomba-lomba menguji kecekatan mencuri uang rakyat untuk kepentingan perut. Entah setan macam apa yang selalu merasuki hingga mereka lupa akan kesejahteraan akar rumput.

Aku begitu antusias untuk terlibat dalam aksi tersebut karena memang ini aksi perdana yang akan kuikuti. Malam harinya, berbagai strategi, konsolidasi gagasan dibangun sedemikian rupa untuk melancarkan aksi. Sebagai anggota baru kami tidak diberikan kesempatan bicara. Tugas kami menyuguhkan gelas kopi di meja itu kemudian duduk dan mendengar. Sesekali angguk- angguk walau sebetulnya kadang tidak paham. Sungguh sakit tetapi itulah proses.

Keesokan harinya, kami pun berkumpul. Atribut aksi telah disiapkan sebelumnya. Rombongan aksi menuju ke gedung DPR. Ada yang menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua. Barisan orator begitu tampil memukau. Mereka berorasi silih berganti. Tibalah kami di titik sasaran. Kendaraan terhenti, suasana pun hening. Tiba-tiba muncul seorang aktivis senior berambut gondrong ikal itu berdiri tepat persis di atas body pick up. Dengan lugasnya dia mengupas tuntas persoalan satu demi satu. Rupanya pria ini orator ulung. Bisa saja dia masuk dalam kategori sepuluh orang pemuda yang dirindukan Soekarno. Suara dan kata-kata ganasnya membuatku takjub. Dia berorasi setengah jam tanpa henti, bagai air mengalir. Tata bahasanya begitu runut dan sistematis.

Saat dia memalingkan pandangan ke arah barisan kami, Aku sangat kaget. Pria itu tidak asing lagi dipenglihatanku.
Aku teringat akan perkenalan singkat yang terjadi di kampus waktu itu.
” Yosef…ya namanya Yosef”. Ungkapku dalam hati.

Setelah beraudiens dengan beberapa anggota dewan, rombongan kami kembali ke sekretariat. Setelah kami tiba di sana tak diduga saya bertemu pria muda tersebut face to face.

“Hay kak, ini minumannya”. Kuberikan sebotol air mineral untuknya.
“Makasi de”. Sahutnya sambil menatapku.
“Ini Vera kan?”.
“Ya kak betul skali, aku Vera”.
“Aku masih ingat pertemuan kita di kampus waktu itu. Selamat bergabung dek”. Jawabnya.

Baca Juga:  Mahasiswa STIPAS KAK yang KKN Harus Bawa Nama Lembaga

Sejak itu aku dan Yosef begitu akrab. Dia mempunyai tugas SPK alias Senior Pendamping Kader. Aku salah satu kader dampingannya. Sebagai bentuk tanggung jawab moril, pria ini memberikan pendidikan melalui keteladanannya. Keakraban kami terjalin namun tak lebih dari hubungan senior-junior. Kedekatan kami membuatku merasa bahwa ada hubungan privat yang kami rajut bersama. Kadang kudapati guratan cinta di bola matanya. Mungkin kami memiliki rasa yang sama namun rasa yang kami miliki terpendam dan hilang begitu saja.


Tak terasa waktu trus berlalu. Yosef telah diwisuda menjadi seorang sarjana. Dia meninggalkan statusnya sebagai mahasiswa setelah mendampingi kami selama dua tahun. Kini Yosef mengemban tugas sebagai wartawan di kota yang sama dengan tempat kuliahku. Awalnya Yosef cukup ragu terhadap dirinya sendiri untuk mengemban profesi ini yang katanya banyak cobaan.

Dibalik kesibukannya, Yosef menyisikan waktu untuk berekreasi dan selalu mengajakku. Kami bersepakat untuk mengunjungi obyek wisata melepas kepenatan kerja saraf otak. Taman laut 17 Pulau menjadi sasaran kami saat ini. Segala perlengkapan seperti bekal makanan dan kamera menemani ransel andalan kami. Tidak lupa pena dan diary selalu menemani perjalanan kami berdua. Rupanya kami memiliki hoby yang sama sehingga setiap kisah kami lukis di atas kertas putih. Memang asyik benar.

Setibanya di lokasi wisata kami berlarian sepanjang bentangan pasir putih, mandi air laut bersama, dan menyaksikan hewan kelelawar yang beterbangan ke sana kemari. Bermacam-macam ekspresi kami tunjukan. Aku merasa seolah-olah bahwa kamilah pemilik keindahan alam yang sedang dinikmati.

Yosef masih saja sibuk dengan kameranya. Aku terus mendesaknya memotretku lantaran tak mau momen berlalu begitu saja. Yosef kemudian mengarahkan kameranya lagi dan memotret diriku.

Kelelahan menyerang kekuatan tubuhku dan saat hendak jatuh Yosef menggenggam erat tanganku. Jantungku berdetak kencang tak karuan. Kami pun saling beradu pandang kemudian dia berbisik,
“Ver….. tetaplah menjadi pribadi yang tangguh. Jangan pernah lelah. Perjuangan kita belum selesai. Kamu adalah mahasiswa yang menyandang predikat agen perubahan, aktor intelektual dan lain-lain. Jangan menjadi mahasiswa hedonis, apatis, materialis terhadap persoalan yang mencederai jati diri bangsa. Kamu harus menyuarakan bagi kaum yang tidak bersuara.
pendampinganku selama ini menjadi bukti kecintaanku padamu. Kita harus tetap berdiri tegak pada garis perjuangan ” Menunggal dengan umat, terlibat dengan rakyat Pro Ecclesia et Patria!”.

” Oh my God” gumamku dalam hati sembari menarik nafas dalam-dalam. Apa yang diungkapkannya di luar dugaanku. Tak ada kata-kata romantis atau ungkapan isi hatinya melebihi status yang terjalin selama ini. (***)

Oleh: Basilisa Ngindang
Asal Riominsi, Desa Benteng Tawa I, Kecamatan Riung Barat.