Menatap Rembulan

oleh -1.281 views
Ilustrasi

CERPEN, suluhdesa.com – BILA MALAM TIBA, wanita itu selalu duduk di bale-bale di bawah pohon cemara itu, di bawah bayangan rembulan; depan rumahnya. Rambutnya yang panjang keabu-abuan sengaja dibiarkan jatuh terurai bak anak sungai yang mengalir menyapa lautan dan samudera.

Anak-anaknya akan memandang dari jendela saja, saat ibunya melakukan hal itu. Mereka tahu, itu bukan hal yang sangat aneh, terlarang atau berbahaya; yang mereka tahu, semua itu akan berlalu saat ada awan yang bergerak menutupi rembulan. Dan satu-satunya harapan mereka hanyalah pada angin, ya, angin yang bertiup menggerakkan awan untuk menutupi rembulan.

Wanita itu bernama Rembulan. Saat muda, dia bersinar bagai rembulan, banyak lelaki akan mendekatinya seperti bintang-bintang mengelilingi rembulan dan mengagumi keindahannya. Mereka memuja bola matanya yang bening dan indah, mereka mengagumi bibirnya yang tersenyum mempesona dan tubuhnya yang langsing bagai pohon pinang dihiasi hadiah-hadiah tujuh belas Agustusan. Mereka akan berusaha menyukakan hatinya dengan berbagai hadiah yang menarik, dan berharap mendapatkan hatinya. Tapi mereka akan pergi dengan kecewa tanpa menyalahkan rembulan; mereka hanya menyalahkan diri sendiri, karena di hadapan rembulan, mereka mungkin hanya bintang-bintang kecil dengan cahaya yang tak terlalu memesona.

Rembulan tinggal di sebuah desa dan seperti semua desa lainnya, tentu saja desa itu memiliki nama, tapi yang paling terkenal di desa itu hanyalah Rembulan. Siapapun yang akan ke desa itu itu akan menggunakan nama Rembulan. Setiap kali mereka menyebut nama itu, orang-orang pasti akan dengan senang hati menunjukkan jalan ke desa itu. Bahkan beberapa sopir atau tukang ojek rela mengantar mereka sampai ke depan rumah tanpa meminta imbalan apa-apa.

Baca Juga:  Maghilewa, Aku Jatuh Cinta

“Tidak apa-apa, mama eh. Saya tidak butuh uang. Asalkan saya bisa mengantar mama sampai ke desanya Rembulan, saya sudah sangat bahagia.” Jawab sopir angkot itu. Dia melirik keneknya, dan wajah mereka tampak sangat bahagia.

Sebenarnya, siapakah Rembulan itu? Banyak orang tidak yakin pernah bertemu Rembulan. Desa itu memang terkenal dengan wanita yang bernama Rembulan, tapi tak seorang pun yang mengaku pernah bertemu Rembulan. Beberapa gadis desa yang cantik, pernah memilih nama Rembulan untuk menarik perhatian para lelaki, tapi kemudian mereka pun mengakui bahwa mereka bukanlah Rembulan yang dibicarakan orang-orang sampai ke desa-desa tetangga hingga ke kota-kota.

Para lelaki dari kota-kota pernah datang ke desa itu mencari Rembulan. Beberapa dari mereka adalah orang-orang kaya yang telah berhasil dan hidup mapan, namun belum memiliki pendamping. Ada yang menghabiskan waktu mengelilingi desa itu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan lamanya. Beberapa dari mereka pernah jatuh cinta dengan gadis-gadis di desa itu, tapi kemudian kecewa dan kembali ke kota.

“Kamu bukan Rembulan.”
“Lalu aku harus menjadi siapa?” Jawab Rembulan yang sebenarnya bernama Anjela.

Rambutnya panjang dan hitam. Hidungnya mancung bagai puncak gunung Fatuleu. Bila tersenyum, barisan giginya yang indah bagaikan anak-anak SD yang berbaris rapi pada upacara bendera hari Senin. Namun, seperti semua wanita lainnya, Anjela tahu, dia tak secantik Rembulan yang diidam-idamkan para lelaki tampan dan kaya dari berbagai tempat. Dan ini menyedihkan hatinya.

Baca Juga:  T a n y a (?)

Bayangan kecantikan Rembulan telah merampas kebahagiaan gadis-gadis di desa itu, bagai bayangan kegagalan merampas kegiatan belajar di ruang-ruang kelas. Banyak gadis-gadis di desa itu melupakan kecantikan yang mereka miliki, bahkan mengingkari bahwa mereka benar-benar cantik. Bagaikan pungguk merindukan bulan, mereka selalu merindukan kecantikan yang dimiliki Rembulan, walaupun mereka tak pernah benar-benar bertemu Rembulan.

Pernah pada suatu waktu, ada orang yang membangun rumor tentang kematian Rembulan, agar setiap gadis tidak perlu membanding-bandingkan kecantikan mereka dengan Rembulan. Lalu menjadi diri mereka sendiri dan kembali menemukan kebahagiaan. Namun bagaikan usaha menjaring angin, rumor itu justru membuat para gadis di desa itu ingin menggantikan Rembulan. Setiap mereka menobatkan dirinya sebagai titisan Rembulan dan memaksa semua orang memanggil mereka dengan nama Rembulan.

Lalu keluarlah Rembulan dari kediamannya. Dia mengendarai sebuah kereta yang ditarik empat ekor kuda kencana. Gaunnya panjang berkibar-kibar diterpa angin. Dua orang dayang mendampinginya, yang satu di sebelah kanan memegang ujung gaunnya yang panjang, putih dan keemasan; sedang yang satunya lagi mengeringkan keringat yang membasahi pipinya, lalu memolesnya dengan bedak yang harum mewangi. Mereka berjalan mengelilingi desa itu sambil memperkenalkan kepada orang-orang bahwa wanita yang berada di atas kereta itu, yang wajahnya cantik dan senyumannya manis itu, yang pakaiannya berkilau-kilauan dan tubuhnya beraroma narwastu dan gaharu itu, adalah Rembulan yang sebenarnya. Orang-orang yang berbaris sepanjang jalan di desa itu terpesona akan kecantikannya.

Gadis-gadis hanya memandang dari balik jendela sambil menyelubungi wajah mereka dengan selembar kain. Anak-anak memanjat pohon-pohon cemara sampai ke ranting-ranting yang paling tinggi. Para suami terpaksa meninggalkan istri mereka di tungku api. Para petani melepaskan domba dan kambingnya di padang rumput. Dagangan dan jualan di pasar dan toko-toko ditinggalkan begitu saja. Seluruh tempat menjadi sunyi karena ditinggalkan. Sepanjang jalan yang dilewati Rembulan juga sunyi karena orang-orang yang berada di sana hanya memandang Rembulan tanpa berkata apa-apa. Yang terdengar hanya bunyi sepatu kuda yang berderap tak beraturan bagai detak jantung orang-orang di desa itu.

Baca Juga:  Jejak di Malapedho

Setelah Rembulan hilang dari pandangan mereka, dan debu tanah bekas pijakan sepatu kudanya telah sirna diterbangkan angin bersama aroma tubuh Rembulan; orang-orang di desa itu memecah keheningan. Mereka berteriak histeris. Beberapa orang menangis karena Rembulan telah meninggalkan desa mereka. Beberapa lainnya tertawa terbahak-bahak bagai orang gila yang menyadari kegilaannya. Gadis-gadis yang menatap semua itu dari balik jendela, menyibakkan kain penutup wajahnya lalu berlari dan menari-nari di sepanjang jalan desa itu. Para pemuda yang memperhatikan gadis-gadis yang menari-nari pun mulai menyadari betapa menariknya gadis-gadis itu. Dan gadis-gadis itu pun menyadari betapa berharganya mereka diperhatikan seperti itu.

Kemudian mereka – gadis-gadis dan para pemuda itu – bergandengan tangan dan menari bersama. Dan di mata para pemuda itu, gadis yang kini ada di depannya adalah Rembulan yang sebenarnya, yang keindahannya tak mampu ditutupi awan manapun.****

(Sebuah Cerpen tentang Pencarian Realitas Kecantikan Diri)

OLEH: DANIEL LOBO OBA, OCD*)
*) Mahasiswa FTW Sanata Dharma, tinggal di Biara Karmel St. Theresia Lisieux, Gadingan, Jogjakarta