Maghilewa, Aku Jatuh Cinta

oleh -324 views
Foto Kampung Maghilewa yang diambil lewat drone milik Valentino Luis

CERPEN, suluhdesa.com – Sesungguhnya aku sama sekali tak tertarik padanya. Pada cowok berambut keriting berkulit hitam manis. Meski pun aku tahu lesung pipi miliknya sangat mengganggu. Meski aku tahu suaranya membuatku terpesona tetapi aku sama sekali tak tertarik.

Memang harus aku akui bahwa suaranya membuatku melayang apalagi ketika ia senandungkan tembang cinta. Serasa ia sedang membawaku ke langit ketujuh dan mengajakku berpesta. Tetapi setelah usai ia menembang hilang juga rasa sukaku padanya.

Tapi setiap hari aku terpaksa dekat dengannya. Aku tak bisa mengelak. Kuliah di satu jurusan dan duduk di satu ruang membuatku setiap hari harus bertemu dengannya. Apa lagi duduk pada kursi yang berderetan membuat aku seperti tanpa jarak.

Sebetulnya ada sisi lain yang membuat aku ingin selalu dekat dengannya. Ia memang cerdas. Nilai ujian hampir semua mata kuliah di atas delapan. Kalau ada tugas dosen yang mengharuskan karya tulis ia pasti bisa menuntaskan. Keunggulannya itulah yang membuat aku sangat terikat dengannya.

Teman-teman satu angkatan menyapanya Lalu. Ia cowok yang cukup populer di kampus.Tak heran semua dosen mengenalnya. Semua mahasiswa pun mengenalnya. Ia sosok yang istimewa. Tetapi soal namanya Lalu itu membuatku berani bertanya.
” Mengapa orangtuamu memberimu nama Lalu? Memang tak ada nama lain yang lebih bagus?”
” Apa ada yang salah dengan namaku?”, tanya dia.
” Tidak salah mas Lalu. Cuma agak aneh saja.”
” Sama seperti namamu Ninik. Aneh di telingaku”
” Ninik itu nama ratusan bahkan mungkin ribuan gadis Yogya”
” Oh, sama. Lalu itu nama ratusan bahkan mungkin ribuan cowok Bajawa”

Lalu, setelah itu, kemudian, ah tiba-tiba saja aku mengeja kata-kata itu. Kulihat mas Lalu mengernyitkan dahi. Lalu ia tersenyum. Saat itulah aku menangkap pesona pada dua lesung pipinya. Terlihat manis.
” Nik, tahukah engkau apa arti namaku?”
” Maaf ya, aku kan bukan gadis Bajawa. Aku Sleman Yogyakarta mas Lalu”
” Yah aku tahu engkau nona Yogyakarta. Tapi kau perlu tahu apa arti sebuah nama. Yah namaku Lalu”
” Apa pentingnya aku tahu”
” Sangat penting”
” Apa?”
” Karena aku laki-laki. Aku jantan?”
” Yah aku tahu kamu laki-laki mas Lalu”
” Aku Lalu. Aku jantan”

Baca Juga:  Eks Suster Jadi Eks Pacarku

Aku berpikir mas Lalu ini hanya mengada-ada. Sebab aku pasti paham dia memang jantan. Dia laki-laki. Jadi tanpa perlu dijelaskan aku sudah tahu dia laki-laki. Dia jantan.
” Aku yakin mas Lalu. Kamu itu seratus persen laki-laki. Seperti katamu jantan”
” Namaku memang jantan”
” Namamu Lalu kan?”
Yah. Artinya jantan”
” Maksudmu mas Lalu?”
” Lalu itu kosa kata Bajawa yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan kata lalu. Jadi lalu itu artinya jantan”

Aku baru paham . Ternyata nama orang Bajawa memiliki makna. Nama Lalu yang disandang mas Lalu artinya jantan.
” Jadi Nik sekarang engkau paham bahwa aku ini jantan. Dan sebagai cowok yang jantan aku akan berjuang sepenuh jiwa dan raga untuk memiliki cewek yang aku sukai”
” Apakah ada cewek yang mau?” Tanyaku.
” Satu di antara seribu perempuan di Yogya ini akan menjadi milikku”
” Baguslah. Asal jangan aku. Amit-amit mas Lalu”

Enam bulan berlalu. Dosen antropologi memberiku tugas menulis makalah tentang kampung kuno. Mas Lalu juga mendapat tugas dengan topik yang sama denganku. Saat itulah aku bingung. Aku mencari literatur di internet. Aku menemukan sejumlah kampung tradisional di Ngada. Dan aku tahu itu daerah asal mas Lalu. Aku pun mencari tahu kampung-kampung kuno di Ngada pada mas Lalu
” Mas Lalu kampung Maghilewa itu di Ngada ya?”
” Oh ya. Itu kampungku. Ke sana aku akan menjalankan penelitian untuk penulisan makalah”
” Aku ikut mas Lalu”
” Wah, kamu gadis kota. Terbiasa dengan kehidupan kota. Kupikir engkau tak akan bertahan satu sampai dua bulan di kampung itu”
” Mengapa mas Lalu?”
” Karena kampung itu di lereng gunung terbungkus dalam kesunyian “
” Aku mau mas Lalu. Aku ingin ke sana”

Beberapa hari kemudian aku dan mas Lalu melakukan perjalanan ke Bajawa. Dari Yogyakarta dengan pesawat harus transit di Denpasar. Lalu terbang ke Labuan Bajo dan transit beberapa jam untuk selanjutnya ke Bajawa. Aku bersyukur mendapat tempat duduk di jendela. Aku bisa melihat keindahan di daratan dari atas pesawat . Laut biru,gugusan pulau, daratan luas, bukit dan gunung. Sungguh sebuah suguhan yang memesona.Hati kecilku berbisik, inilah Indonesia. Inilah tumpah darahku.

Baca Juga:  Julie Laiskodat: Kita Mau Buat Pengusaha Tenun Ikat Sejahtera

Kami tiba di Malapedho pada senja hari. Aku terbengong menatap panorama senja. Saat matahari di ufuk barat seolah memberi salam padaku. Selamat datang gadis Jawa di tanah leluhur kami. Bapak – bapak dan mama-mama ramah menyapa. Anak-anak desa mengerumuniku. Memberikan salam hangat. Seorang perempuan paruh baya menggenggam erat tanganku .
” Nona, kau pacar dari adikku Lalu?”
” Iyah ka’e. Dia tunangan saya” jawab Mas Lalu. Seharusnya aku yang menjawab. Dan aku pasti akan menjawab tidak aku bukan pacarnya. Tapi yah sudah. Toh mas Lalu sudah terlanjur mengakui. Biarkan saja.

Pagi pertama di Malapedho. Aku terpesona pada matahari pagi yang nongol dari puncak gunung Inerie yang runcing dan menampilkan pesona tak terkira. Hari-hari berikutnya kami bergelut dengan tugas penelitian di kampung Maghilewa. Mas Lalu mengisahkan di kampung inilah ia dilahirkan. Sebuah kampung yang masih memegang teguh adat dan budaya warisan leluhur. Kampung yang seratus tahun lalu menjadi tempat pertama para misionaris mewartakan agama katolik. Kampung dimana satu abad yang lalu berdiri sebuah sekolah dasar.
” Berapa usia kampung ini om Piet?” Tanyaku pada om Piet seorang tua adat.
” Sudah ratusan bahkan ribuan tahun usianya nona”, jawab om Piet.
” Dari dulu sampai sekarang kampung ini tetap tidak berubah?”
” Yah. Rumah adat asli beratap alang-alang. Ngadhu dan bhaga asli tanpa diubah-ubah. Tampak kuno tetapi inilah warisan leluhur. Kami merawat dan melestarikan dari waktu ke waktu. Bahkan selamanya ” ujar bapak Piet.

Tak terasa kami telah melakukan penelitian di Maghilewa selama dua bulan. Kebersamaanku dengan mas Lalu semakin dekat . Kami ke kebun bersama. Ke pantai dan ke mata air Waetena. Kami mendatangi kampung Watu dan Leke. Juga kampung Jere. Kami mengunjungi tempat-tempat bersejarah. Di hari Minggu aku membalut tubuh dengan kain adat Lawo dan mas Lalu membalut tubuhnya dengan kain adat sapu. Kakak Maria, saudari mas Lalu memujiku dalam balutan kain adat sebagai bu’e bila, gadis yang cantik dan mas Lalu sebagai soga bila, pemuda yang tampan. Kami merayakan misa Kudus di kapel kecil nan indah.

Baca Juga:  Wagub NTT: Mengenakan Seragam Korpri Dibalut Kain Tenun Menunjukan Ciri NTT

Malam natal menjadi sangat spesial. Bagiku ini natal terindah untuk seorang gadis bernama Marcella Ninik Puspitaputri. Lagu-lagu yang merdu berkumandang syahdu. Tubuh perempuan dan laki-laki berbalut kain adat. Natal di sebuah kampung dalam kesahajaan. Aku benar-benar tenggelam dalam kesyahduan.

Usai Natal lalu ada pesta adat. Namanya pesta Reba. Aku mendapat kehormatan duduk di dalam rumah adat yang disebut One. Tubuhku berbalut kain adat dengan ikatan mare ngia di kepala. Mas Lalu membisikkan kata-kata ini.
” Nik, kau cantik sekali. Sangat cantik”
” Kau juga tampan mas. Sangat tampan”
” Kau tahu Nik apa makna upacara ini? Upacara memasukkan engkau ke dalam rumah adat ini?”
” Apa artinya mas Lalu”
” Upacara ini bermakna dalam. Memasukkan engkau ke dalam rahim leluhur. Dan engkau menjadi bagian dari suku pemangku rumah adat ini”
” Sungguhkah mas Lalu?”
” Yah sungguh”
” Yah sudah mas kalau begitu?”
” Kau tak kecewa Nik?”
” Tidak mas Lalu. Sebab aku jatuh cinta padamu dan semua yang ada di kampung ini”

Mas Lalu mengajakku keluar dari rumah adat. Orang-orang menyalami kami berdua. Mereka mengatakan kami pasangan yang ideal. Lalu kami masuk ke areal O Uwi. Malam O Uwi yang syahdu. Di tengah loka Uwi mas Lalu memelukku. Ia membisik lagi kata cinta. Ah, tak terasa ini sudah tahun kesepuluh aku dan mas Lalu pesta Reba di Maghilewa. Serasa tak pernah jenuh. Sebab di Maghilewa, sepuluh tahun lalu, aku jatuh cinta. (*)

Oleh: Agust G Thuru (Denpasar, 19 November 2019)