T a n y a (?)

oleh -301 views
Foto Ilustrasi

CERPEN, suluhdesa.com – Mengenang (kepergian) Ayah. Sepertinya kita tak harus diam.
Mengeramkan kata dalam. Kemudian membiarkan
Bibir tersiksa.
Ataukah rasa memang kadang tak membutuhkan kata. Saat ekspresi wajahmu adalah yang paling polos, lugu dan memikat,
Pada sepasang mataku.
E n t a h.

Kita pernah kehilangan. Tapi entah mengapa rasa kehilangan tidak pernah luput dari ingatan. Walau pun kadang kita harus melawan, memberontak pada kenangan saat yang kehilangan datang membawa peristiwa itu. Kita bukannya membenci, untuk mengingat kembali sesuatu yang telah hilang, sesuatu yang telah diambil dari kita. Tapi, kita membenci untuk mengingatnya karena kita tidak akan mendapatkan apa-apa, dalam bentuk yang lebih nyata, bukan khayalan semata.

08 September 2019, sesuatu yang paling nyata dalam hidup diambil dari padaku. Mungkin juga diambil dari tengah-tengah kita yang begitu akrab dengan sosoknya. Sosok yang paling pandai menyembunyikan segala lara, segala sakit, jantung yang seakan ditusuk berulang-ulang kali disamarkan dengan seulas senyum pada bibir seorang pecinta kopi dan penikmat rokok paling abadi, AYAH.

Baca Juga:  Pemda, Gereja dan Media di Sikka Harus Selektif Merespon Ajakan Investor Berkedok Investasi

Minggu, pagi-pagi benar, ia telah menyiapkan diri untuk mengikuti misa pagi. Sebatang rokok mungkin sempat ia nikmati. Sedang segelas kopi belum sempat ia sudahi. Ia selalu punya tempat istimewa dalam ruang kapela itu. Menuntaskan doanya yang seperti biasa sebelum perayaan misa dimulai. Siapa yang tahu isi dari doa setiap orang. Tuhan lebih dahulu mengaminkan doanya sebelum misa kudusnya selesai. Mungkin benar, penyerahan diri dan pertobatan diri paling baik adalah disaat dengan penuh rendah hati berkata “Tuhan kasihanilah kami orang berdosa ini”. Yang paling pedih untuk hati adalah merasakan lagi. Yang paling perih bagi mata adalah harus melihat lagi sesuatu yang tidak ada lagi. Dan yang paling risih adalah ketika telingamu harus mendengar cerita-cerita tentang dia yang pernah ada namun kini telah pergi.

08 November 2019 adalah hari yang bisa saja merupakan hari yang paling pedih, hari yang paling perih dan hari yang paling risih saat sosok ayah yang telah pergi dan kini tenang harus dibicarakan lagi. Akan tetapi mau bagaimana lagi. Kita dilahirkan dan ditakdirkan untuk hidup dalam dan dengan sebuah agama yang memiliki ajarannya tersendiri. Agama yang tahu bagaimana mengajarkan kepada umat pengikutnya untuk menerima segala pemberian dengan rasa syukur yang besar dan mengiklaskan sebuah kepergian dengan air mata yang sedikit. Benih yang pernah hidup memang seharusnya jatuh ke tanah, seakan mati, agar nantinya dapat membuahkan banyak kerinduan.

Baca Juga:  Jejak di Malapedho

Akhir-akhir ini saat sempat mengikuti misa pagi, saya mulai sering mengucapkan kata-kata ini: kematianmu kami maklumkan. Kebangkitanmu kami harapkan. Kedatanganmu sudah pasti selalu kami rindukan. Dengan sedikit berbesar hati dan percaya bahwa bapak pasti sudah bangkit dan kini tenang disurga dan selalu menjadi pendoa yang setia. Sebab begitulah yang selalu diajarkan oleh guru agama, dari saya SD sampai SMA bahkan hingga Kuliah, bahwa kita harus mempercayai bahwa kebangkitan akan ada bagi mereka yang telah meninggal. Menjalani hari dengan kehilangan tidak mudah. Ingin berhenti. Ingin berteriak. Namun untuk apa. Sebab masih banyak yang dapat dan harus dilakukan selama masih diberi hidup.

Baca Juga:  Angka Stunting di Kabupaten Sikka Menurun

Kadang memang kita harus belajar banyak dari Maria. Kita harus mulai mencintai Maria Ibunda Yesus. Bukan hanya karena parasnya yang elok yang mampu menarik lirikan mata. Tapi juga karena hatinya. Dalam diam yang tabah ia menerima semua kemudian memendamkan segalanya. Maria mengajarkan kepada kita bahwa, lebih baik diam memendam, tak usah berkata-kata karena semuanya akan sia-sia dan merugikan bila harus lagi kita mengulanginya menangis, menyesali atau bahkan mengutuki diri hingga memusuhi Tuhan. Yang harus dilakukan adalah duduk diam dengan tenang, kemudian perlahan mengucapkan semuanya kepada Tuhan dalam doa hening.

08 November 2019, subuh sekitar pukul 01:00 wita saya kemudian menulis ini. Bukan untuk menyesali atau untuk menanti belas-kasihan. Hanya agar segala peristiwa dapat dirawat dalam kenangan yang pantas. (*)

Tabe. Maumere, 08 November 2019

Oleh: Maxi L. Sawung (Mahasiswa STFK Ledalero)