Di Ruang Operasi Yang Sunyi, Seseorang Bisa Saja Melakukan Dosa

oleh -354 views
Foto Ilustrasi

OPINI, suluhdesa.com – Sebuah pekerjaan, baik pekerjaan yang membutuhkan ketelitian, sebuah kerja keras maupun pekerjaan yang dikategorikan sebagai pekerjaan ringan, hanya untuk mencari keringat, sama-sama dibutuhkan sebuah sikap kehati-hatian. Sikap kehati-hatian dibutuhkan agar selama proses pekerjaan hingga hasilnya nanti tidak ada suatu keburukan yang terjadi.

Dalam pekerjaan, sikap bermain gila mestinya harus mulai dikurangi. Ya kalau anda suka bermain-main saat bekerja, maka sebaiknya kurangi kadar kegilaannya agar tak ada penyesalan yang datang kemudian. Hal ini berlaku dan perlu diperhatikan oleh semua kita. Tanpa pengecualian dan tanpa tawar-menawar.

Di ruang operasi yang sunyi seseorang bisa saja berbuat dosa. Di ruang yang sangat privasi ini hanya beberapa orang saja yang berhak mengetahui apa yang sedang terjadi, yaitu dokter dan teman-temannya, Tuhan yang Maha Tahu dan Setan yang maha penggoda. Sedangkan kita, keluarga dan orang di luar ruangan tidak mengetahui apa-apa selain dari hasil akhir operasi yang dilakukan. Apa saja yang dilakukan? Bagaimana proses operasi? Kadang luput dari pengetahuan kita. Bila operasi yang dilakukan berhasil maka kita tahu bahwa proses operasi yang dilakukan berjalan dengan baik. Namun, jikalau hasil dari operasi tidak sesuai dengan keinginan kita, bukan penyembuhan tetapi kesengsaraan yang diperoleh atau sampai pasien kehilangan nyawa, maka kita akan mengutuk kegagalan operasi.

Baca Juga:  RS Siloam Kupang Luncurkan Mesin Penghancur Batu Ginjal

Setidaknya ada 3 penjelasan mengenai hubungan antara dokter, pasien dan keluarga pasien.

Pertama yaitu saat di mana dokter berperan sebagai orang tua terhadap pasien atau keluarga. Seperti orang tua, segala keputusan dan perawatan pasien berada dalam tangan dokter sebagai pihak yang mempunyai pengetahuan tentang pengobatan, sedangkan pasien dilihat sebagai pihak yang tidak mempunyai pengetahuan dibidang pengobatan. Informasi yang dapat diberikan kepada pasien seluruhnya merupakan kewenangan dokter dan asisten profesionalnya, dan pasien tidak boleh ikut campur dalam pengobatan yang dianjurkan.

Kedua, pasien dan keluarga mempunyai hak untuk mengetahui semua penyakit dan penjelasan tentang operasi yang dilakukan.

Ketiga, pandangan resprocal dan collegial, yang mengelompokan pasien dan keluarganya sebagai inti, dalam kelompok. Sedangkan dokter, perawat dan para profesional kesehatan lainnya harus bekerja sama untuk melakukan yang terbaik bagi pasien dan keluarganya. Hak pasien atas tubuh dan nyawanya tidak dipandang sebagai hal yang mutlak menjadi kewenangan pasien, tetapi dokter dan staf medis lainnya harus memandang tubuh dan nyawa pasien sebagai prioritas utama yang menjadi tujuan pelayanan kesehatan yang dilakukan. (Veronika Komalawati, Hukum dan Etika Dalam Praktik, (Sinar Harapan: Jakarta, 1989), hlm. 43-45.)

Jadi, supaya tak ada dusta di antara kita (dokter, pasien dan keluarga), maka alangkah baiknya dokter dan staf ahlinya memberikan penjelasan akan penyakit yang dialami dan proses operasi yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarga pasien. Keterbukaan diri dari dokter dan asisten dokter dalam memberikan informasi yang jujur masih berlanjut hingga nanti operasi berakhir. Entah operasi akan berakhir baik atau buruk, tetaplah kejujuran informasi tentang jalannya operasi tetap harus dilakukan. Agar pasien dan keluarga nantinya tidak mengatakan “ahh.. entah apa yang merasukimu dokter, sehingga operasi ini gagal”.

Baca Juga:  Pesan Bupati Malaka Saat Rekoleksi; Jangan Ambil Hak Orang

Keterbukaan diri dokter mau menjelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa ada aspek manusiawi dalam diri dokter, dokter dapat melakukan kesalahan atau bahkan kekeliruan, sebab sebagai manusia, tidak akan terlepas dari kesalahan dan kekeliruan. Namun hal ini tidak menjadi alasan bahwa dokter dapat menggunakan pandangan itu untuk meluputkan diri dari hukuman karena sudah melakukan kesalahan dalam beroperasi. Dokter yang melakukan kesalahan saat melakukan operasi tetap harus dihukum. Dokter yang melakukan kesalahan saat beroperasi akan mendapat hukuman yaitu dengan hilangnya kepercayaan publik terhadap keahlian yang dimiliki oleh dirinya.

Perihal Kehilangan, Kadang Tuhan Di Salahkan

Dokter yang kehilangan kepercayaan public dan ijin untuk melakukan operasi karena telah melakukan kesalahan, lalu keluarga yang kecewa karena operasi tidak berjalan dengan baik sehingga merasakan kehilangan anggota keluarga dan pasien yang menjadi korban, pada akhirnya akan menyalahkan Tuhan.

Tuhan yang dipercaya sebagai Yang Maha akan dilihat sebagai penyebab kegagalan yang terjadi. Orang akan berkata, “mengapa Tuhan, mengapa hal ini menimpah keluarga kami”. Padahal, dalam kehidupan ini Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk bertindak dan mempertanggung-jawabkan segala tindakan menurut akal-budinya sendiri. Allah, Tuhan bukanlah penyebab dari segala kesusahan dan segala penderitaan yang terjadi. Berhentilah menyalahkan Tuhan karena penderitaan yang dirasakan. Karena penyebab utama dari segala penderitaan didunia ini adalah akibat dari tindakan manusia itu sendiri. Dengan menyadarkan diri bahwa dalam setiap tindakan yang tidak berhati-hati pada akhirnya akan membawa manusia kepada jurang kehancuran, maka manusia sudah melahirkan sikap kewaspadaan dalam diri dan akan lebih berhati-hati.

Kembali kepersoalan di ruang operasi, di mana seseorang bisa saja berbuat dosa dengan keliru saat bekerja. Kekeliruan memang sangat manusiawi. Namun hal ini tidak berarti bahwa setiap orang yang melakukan kesalahan menjadi bebas dan terlepas dari hukuman. Hukuman tetap diberikan. Sebab sekecil apa pun sebuah kesalahan tetaplah dinamakan kesalahan yang harus mendapatkan hukuman dan tetap dinamakan sebagai dosa.

Baca Juga:  Ambiguitas Visum Et Repertum Dokter Forensik Polri, Mengaburkan Sebab Kematian Anselmus Wora

Ya, di ruang operasi yang sempit itu seseorang bisa saja berbuat dosa. Entah mengapa, selalu ada dosa yang terjadi di tempat-tempat sunyi dan sempit. (*)

Oleh: Maxi L. Sawung (Mahasiswa STFK Ledalero)