Kisah Anak Kampung Dari Malaka Jadi Artis dan Bermain Sinetron Di Jakarta

oleh -7.417 views
Arnold Dedy Salam Mau, pria kelahiran Kotabot, Malaka yang saat ini menjadi artis nasional

SOSOK, suluhdesa.com – Provinsi Nusa Tenggara Timur saat ini sudah dikenal publik dengan berbagai prestasi yang diraih oleh orang-orang muda. Penyanyi terkenal seperti Mario G. Klau, Andmesh Kamaleng, Marlon Jola, Aldo Longa, Irvan Nestorman, dan yang lainnya sudah menjadi kebanggaan masyarakat NTT karena terus menghiasi layar TV nasional dengan penampilan mereka. Ada pula Abdur yang jago melakukan lawakan lewat stand up comedy dan membuat semua orang akan tertawa ngakak.

Selain itu, NTT saat ini sudah semakin terkenal lantaran siswa-siswi SD, SMP, SMA atau para mahasiswa pun berprestasi di bidang pendidikan, olahraga, dan bidang lain. Ini tentu saja mengubah stigma masyarakat luar yang diberikan kepada NTT sebagai provinsi termiskin dan terbodoh.

Kali ini hadir pula salah seorang anak muda berbakat kelahiran Kotabot, Desa Alas Tengah, Kecamatan Kobalima Timur, Kabupaten Malaka 12 April 1989 dari pasangan Isayas Lau dan Maria Bete. Namanya Arnold Dedy Salam Mau.

Arnold atau Dedy saat ini menekuni dunia sinetron. Pada awalnya ia hanya sebagai pemeran figuran, namun kini beberapa sinetron yang telah dan bakal tayang di salah satu stasiun swasta, Dedy menjadi pemeran penting dalam sinetron-sinetron tersebut.

Bagi Dedy, semua yang terjadi hanyalah berkat Tuhan dan upaya dari kerja keras serta ulet.

Kepada Media SULUH DESA pada Rabu (3/11/2019) pukul 15.00 wita lewat pesan Whatsapp, Dedy berkisah jikalau dirinya sudah satu tahun mencoba kemampuannya berakting di depan kamera. Sebelumnya ia hanya berwiraswasta setelah keinginannya untuk menyelesaikan perkuliahan di Jurusan Hubungan Internasional pada sebuah Universitas di Jakarta pada tahun 2009 silam gagal total karena sebuah alasan.

Dedy Salam Mau saat bersama aktor senior Barry Prima

Dedy bercerita, sejak saat itu dia tinggal bersama omnya dan bekerja apa saja untuk menyambung hidupnya. Namun ternyata omnya ini berteman baik dengan salah seorang Asisten Sutradara (Astrada) Tukang Bubur Naik Haji. Dari sang Astrada inilah dirinya mulai berkenalan dengan dialog, akting, kamera, dan para artis nasional, walaupun hanya sebagai pemeran figuran.

“Janganlah bicara mental jika belum tampil, namun saya yakin kita orang Indonesia bagian Timur untuk mentalnya bagus-bagus. Saya percaya diri untuk setiap kali tampil. Akan tetapi ketika saya terjun di dunia sinetron saya kaku bagaikan kanebo yang kering teman. Waktu itu rasanya ngeri sekali saat banyak kamera menyoroti muka kita diantara para artis nasional sambil mendengarkan suara-suara Crew meneriakan kalimat woeeee lihat kamera dan suaranya agak keras,” Dedy berkisah.

Dedy yang saat ini berusia 30 tahun menuturkan bahwa pertama kali ia shooting di sinetron Istri-Istri Akhir Zaman sebagai Hakim pada saat perceraian Dude Herlino bersama istrinya  Allysa Soebandono. Di situlah ia mula mempelajari kekuatan mentalnya sebagai anak kampung dari Malaka.

Baca Juga:  Bupati Malaka; Penerapan New Normal Hanya Perkantoran dan Tempat Ibadah

“Sebelumnya saya dipanggil oleh Asisten Sutra Dara Om Vence Nayoan yang sudah dianggap keluarga sendiri oleh Om saya. Oleh Om Vence ini saya diperkenalkan dengan Om Vincent Taran, dari Om Vincent Taran inilah saya diorbitkan ke dunia sinetron. Dari rumah, saya dipanggil untuk ke lokasi shooting, di lokasi tersebut banyak sekali artis-artis senior, seperti Dude Herlino bersama istrinya, Roger Danuarta bersama Istrinya Cut Meryska , ada Cut Siva dan beberapa artis Tukang Bubur Naik haji , melihat mereka saja nyali saya sudah mulai ciut. hehe, tapi saya ingat kata-kata dari om Irawan Rayon yang mengarahkan saya bahwa ketika kamu tampil jangan peduli siapa pun, anggap saja itu kamu sendiri,” cerita Dedy sambil tertawa.

Dalam adegan itu kata Dedy, dipanggil oleh tim untuk make-up lalu disuruh duduk di kursi pengadilan agama, lalu masuklah Dude Herlino dan isterinya.

“Hati saya mulai bergetar tapi dalam pikiran saya cuek. Akhirnya dishooting dengan hasil yang bagus. Dalam sinetron Istri-istri Akhir Zaman saya hanyalah figuran biasa namun saya sangat bangga karena saya adalah satu dari sekian banyak orang yang ingin masuk TV. Dulu saya sangat ingin berfoto bersama artis-artis dan itu tidak mungkin terjadi apalagi main satu sinetron bersama mereka?  Tapi jika Tuhan sudah berkehendak siapa pun bisa,” ucap Dedy.

Lanjut Dedy mengatakan bahwa selama sebulan ia hanya menjadi figuran tanpa dialog. Itu pun karena mengikuti saran dari Vincent Taran yang adalah Astrada kepada Vence Nayaon yang juga Astrada supaya dirinya berkenalan dan terbiasa dengan kamera.

“Dan beruntungnya saya di sinetron Istri-istri Akhir Zaman tayang pagi subuh, sehingga sorenya sinetron Merindu Baginda Nabi yang kebetulan Astradanya Om Vence Nayoan juga, ya tidak menutup kemungkinan saya juga main di sinetron tersebut, itu pun masi tetap berkenalan dengan kamera alias tanpa dialog. Di kesempatan ini juga saya berterima kasih untuk Om Tulank yang menemani dan mengarahkan saya di sinetron Merindu Baginda Nabi. Tapi saya tidak pernah putus asa, saya terus shooting di sinetron-sinetron itu dengan peran jamaah mesjid, pelanggan cafe. Saya selalu merasa gembira karena bisa dekat-dekat dengan para artis yang selama ini saya hanya lihat di TV, ngobrol dan berpose dengan mereka, menakjubkan bukan?

Dedy saat akting di sebuah sinetron pada sebuah tv nasional

“Belum selesai peran saya dalam sinetron tersebut, saya dipanggil ke sinetron Fatih Di Kampung Jawara di sebuah stasiun TV. Di sana saya kaget karena bertemu langsung dengan aktor senior yang selama ini saya hanya nonton di VCD waktu kanak-kanak yakni Om Barry Prima. Saya langsung diarahkan sutradara dan main bersama Om Barry Prima. Hati saya senang bukan main. Namun sayang dalam adegan ini saya hanya main 2 hari sebagai anak buah Boss Ronal dan peran saya mati, saya hangus dan jadi abu. Ya sudah selesai peran di sana. Tetapi saya berterimakasih untuk Om Bagas yang sudah calling saya di sinetron Fatih Di Kampung Jawara,” tutur Dedy.

Baca Juga:  Kades Alas: Penyaluran BLT DD Kami Lakukan Secara Transparan

Tidak lama kemudian Dedy yang merupakan anak kedua dari lima bersaudara ini dipanggil untuk shooting di sinetron Dunia Terbalik. Di sebuah stasiun tv swasta ini dirinya berperan dengan dialog pertama kalinya.

“Ketika saya ditanya sutradara apakah kamu pernah dialog, saya jawab saja bahwa saya sering dialog dalam sinetron sebagai figuran. Walaupun itu tipu sedikit. Masa saya mau bisu terus. Kapan saya dialog hehe. Saya sebagai pembeli di sinetron Dunia Terbalik. Ceritanya lagi makan di warung tersebut dan berdialog dengan orang-orang yang ada di dalam warung itu. Ketika saya mendengarkan suara dari Crew yang mengatakan kamera action, terjadi adegan lalu cut ya sudah selesai dan malam langsung tayang` Senangnya nonton kembali diri saya di TV. Di situ rasa percaya diri saya meningkat,” jelas Dedy.

Kata Dedy, beberapa hari kemudian ia merasa resah karena belum dipanggil, namun saya mulai dimasukkan di group talent yang anggotanya sekitar 180 orang, anggota-anggota tersebut merupakan figuran disemua stasiun televisi.

“Jadi kalo teman-teman nonton sinetron lalu ada figuran baik perempuan maupun laki-laki itu adalah komunitas kami . Pada suatu malam ada teman yang kabari di group bahwa jika ada yang free bisa mengikuti shooting di sinetron Cinta Sebening Embun dengan berdialog namun kami harus mengirimkan foto, saya pun ikut mengirim foto saya juga. Memang rejeki tidak kemana dan saya pun terpilih lewat chatting pribadi oleh salah seorang Asisten Sutradara. Katanya, Mas besok berpakaian rapi ya, kamu sebagai dokter di sana saya lalu saya diberikan skenario panjang untuk saya hafal malam itu dan esoknya berdialog dengan artis cantik namanya Amanada Manopo. Ketika ditake saya gugup dan semua teks yang saya hafal itu lupa semua. Saya diteriaki orang kampung, dan saya mau dilempari sepatu oleh Crew. Dalam hati saya berdoa ya Tuhan kuatkan iman saya. Andaikata orang meneriaki saya ini di luar mungkin beda lagi ceritanya. saya bisa berkelahi karena kita orang NTT ini tidak akan terima jika diteriaki seperti itu. Hingga habis shoting pun Crew itu masih menyampaikan punya kamu gak bakal ditayangkan mas soalnya gugup kamu. Lalu saya chatt dengan Teh Ocha Astrada Cinta Sebeing Embun. Dari hasil komunikasi yang baik dengan crew tadi akhirnya kami pun saling meminta maaf dan malamnya adegan saya itu ditayangkan. Saya senang juga karena saat akan pulang saya diberikan uang yang banyak sekali dalam amplop,” ceritanya.

Dedy yang memiliki mimpi untuk menjadi pemeran utama dalam sebuah sinetron berkisah banyak tentang pengalamannya di dunia sinetron.

“Saya juga dipanggil ke lagi sinetron tersebut ( Cinta Sebening Embun ) sebagai pria Bogor, saat itu saya berduet dengan artis Lian Firman sebagai Mirza. Ceritanya Mirza sementara mencari anaknya yang hilang dan bertemu saya menanyakan informasi sambil menunjukkan foto anaknya. Waktu itu saya tidak gugup sama sekali dan saya enjoy saja. Memang benar kata guru-guru saya, jangan sesekali menghafal, tapi dimengerti. Dalam sinetron itu saya berdialog sangat panjang tetapi saya dengan percaya diri mengimprovisasi skenario itu, dan hasilnya bagus menurut sutradara. Saya juga beberapa kali bermain sinetron dengan artis cantik Gabriella Desta sebagai Tika. Saya sudah terbiasa dan saya mulai akrab dengan para artis lainya,” kata Dedy semangat.

Baca Juga:  25 Anggota DPRD Malaka Akan Dilantik 9 September 2019

Kepada Media suluhdesa.com, Dedy mengatakan jika dari situ namanya sudah mulai terkenal di group talent figuran karena sering dipanggil. Oleh Om Vence Nayaon, Dedy dipanggil untuk bermain di sinetron Cinta Karena Cinta. Di sinetron ini, Dedy bertemu dan berpasangan dengan para artis cantik.

Memang sungguh benar kata pepatah yang mengatakan kalau rejeki tidak akan habis, Dedy diminta mengirmkan foto ke sinetron Tukang Ojek Pengkolan. Oleh Asisten Sutradara (Astrada) bernama Risma, dirinya langsung diterima.

“Di sinetron ini saya sebagai temannya Bang Ojak. Masih ada sinetron lain seperti Cahaya Terindah dan sinetron Pelangi Di Matamu, dan yang lainnya yang telah membuat diri saya seperti ini. Dari pengalaman saya ini, saya mau berbagi untuk teman-teman di NTT bahwa janganlah takut untuk tampil di depan umum, jangan minder dan berkecil hati anda berasal dari mana. Saya berasal dari Kampung di perbatasan Indonesia-timor Leste. Tetapi saya tidak malu. Teman-teman yang masih kuliah harus rajin belajar, berbuat baik dan rendah hati. Saya selalu yakin jika Tuhan memberkati karena kita berusaha maka rejeki kita pasti tidak akan selalu ada,” ajak Dedy

Di akhir sharing pengalamannya, Dedy mengharapkan doa dari semua masyarakat NTT supaya dirinya semakin berkembang dan sukses dalam dunia sinetron. Dedy berharap ke depan ia dapat bermain di film layar lebar bersama para artis senior. Dedy juga berkata jika saat ini dirinya telah menjadi Asisten Sutradara bagian schedule di sinetron Bunga Dewi yang mengatur waktu dan peran para artis sinetron.

“Namun saya kadang sakit hati dan sedih karena saya sering tampil di TV tapi orangtua saya dan saudara-saudara di kampung tidak pernah menonton secara langsung karena di sana jaringan listrik di daerah perbatasan belum ada. Orangtua saya hanya mendengar cerita dari orang,” tutup Dedy sedih.

Dari keuletan dan kerja kerasnya selama ini, Dedy berhasil memiliki sebuah rumah di Kota Depok. Selain itu pundi-pundi hasil bermain sinetron juga dikirimkan untuk orang tua dan keluarga di Malaka. Sukses Dedy. (frids wawo lado/fwl)