Suatu Malam di Maghilewa

oleh -509 views
Agust G. Thuru (Jurnalis tinggal di Bali)

CERPEN, suluhdesa.com – Malam ini aku tidur di rumah adat. Dalam sunyi malam. Semilir angin tengah malam berhembus masuk ke bagian rumah adat yang di sebut bheja one. Bagian rumah adat ini serba guna. Untuk tempat makan bersama dan untuk tidur terutama bagi kaum lelaki. Untuk tempat bersantai atau tempat mengobrol.

Sudah lama aku tak pernah tidur malam hari di rumah adat itu. Puluhan tahun aku hidup di perantauan . Sudah tigapuluh tahun aku meninggalkan kampung Maghilewa di lereng gunung Inerie. Tigapuluh tahun lalu aku memutuskan merantau ke Jawa dan melanglang buana ke berbagai daerah di Indonesia. Dua puluh tahun terakhir ini aku tinggal di pulau Bali.

Pilihanku untuk menetap di Bali mengundang pertanyaan keluarga. Mengapa Bali yang dipilih sebagai tempat merajut hidup? Pada hal aku menikah di Padang Sumatera Barat dan bekerja di sebuah perusahaan radio swasta. Posisi jabatan di perusahaan itu lumayan tinggi dengan selery yang juga cukup besar untuk memenuhi kebutuhan.

Seharusnya aku memilih menetap di Yogya karena istriku dari daerah itu. Tetapi aku justru memilih Bali . Ada sesuatu yang menarikku ke Bali.
” Mengapa engkau memilih menetap di Bali?”, Tanya kakakku pada suatu ketika
” Karena aura kampung-kampung di Bali sama dengan aura kampungku Maghilewa. Upacara-upacara orang Bali sama dengan upacara orang Maghilewa.”
” Tetapi tidak sama persis”
” Yah tidak sama persis tetapi aura budaya Bali nyaris sama dengan budaya kampungku Maghilewa. Itu yang membuatku kerasan di Bali dan senantiasa merindukan Maghilewa.

Baca Juga:  Kampung Tradisional Maghilewa (3)

Keluargaku akhirnya memahami pilihanku. Pilihan menetap di Bali. Sebab adat budayanya nyaris sama dengan adat budayaku. Upacara adat pun nyaris sama dengan upacara adat warisan leluhurku. Itulah alasan mengapa aku begitu mencintai Bali dan mencintai Maghilewa.

Dalam rentang waktu tiga puluh tahun aku terperangkap dalam kerinduan yang mendalam.Rindu berlibur ke kampung Maghilewa. Menikmati nyanyian burung mbeo dan nyanyian burung lainnya. Menikmati nyanyian burung gagak di senja hari dan burung hantu di malam hari. Menikmati desiran angin senja dan malam hari. Menyaksikan matahari terbit dari ujung lancip gunung Inerie dan matahari yang tenggelam di senja ufuk barat. Melafalkan syair-syair tarian O Uwi atau senandung tari Teke. Menatap bulan malam yang menerpa atap ilalang puluhan rumah adat.

Kerinduan datang ke Maghilewa tetap menggugatku dari tahun ke tahun. Suatu saat bila ada kesempatan aku ingin bermalam beberapa lama di kampung tradisional warisan leluhur. Seringkali aku terlena dalam kerinduan untuk bisa tiba di kampung adat tempat ari-ariku digantung di pepohonan . Hingga pada suatu malam. Saat telepon berdering. Dan terdengar suara dari seberang.
” Paman ini Aldus. Aku ingin mengundang Paman ikut kegiatan gerakan DHEGHA Nua di Maghilewa”
” Dengan senang hati. Aku siap.”
” Ok Paman. Saya yang akan memfasilitasi “, ujar Aldus.

Baca Juga:  Kampung Tradisional Maghilewa Di Ngada (1)

Dari anak muda ini aku bisa sampai di kampung Maghilewa malam ini. Mengikuti ritual Ti’i Ka Puju Pia. Sebuah ritual memberi makan leluhur kampung dan memohon restu untuk memulai sebuah kegiatan. Ritual Ti’i Ka Puju Pia adalah bentuk penghormatan serta membangun relasi dengan arwah leluhur yang sudah meninggal dunia tetapi arwahnya senantiasa diam di rumah adat. Leluhur dipercaya tidak pernah jauh dari anak cucu dan keturunannya yang masih hidup.

Malam ini seusai ritual aku dan seorang keponakan tidur di rumah adat suku Turu. Rumah adat ini adalah rumah pokok yang disebut Sa’o Saka Pu’u. Aura kesakralan rumah adat itu sangat terasa. Angin malam yang berhembus dari alam luas seolah menghipnotisku. Dan aku pun terlelap .

Dalam lelap itu aku bertemu dengan seorang nenek perempuan yang cantik. Tubuhnya sudah renta . Rambutnya memutih. Dan kulit tubuhnya berkeriputan. Aku terkejut. Lalu aku bertanya.
” Siapa engkau nenek?” Ia memandangku dan tersenyum. Tampak giginya yang hitam pekat layaknya perempuan yang menginang.
” Aku leluhurmu. Nenek moyangmu. Aku nenek Ledo nama dari rumah adat ini”
” Maafkan aku nenek Ledo. Engkau tampak sedih”

Nenek Ledo kembali memandangku . Dan butir air mata pun luruh dari sudut matanya. Telapak tangannya yang keriput menghapus air matanya.
” Yah, aku sedih. Kami semua leluhur kampung ini sedih. Yah, semuanya sedih”
” Mengapa sedih?”
” Engkau mau tahu cucuku”
” Iyah nek. Aku ingin tahu”

Baca Juga:  Maghilewa, Aku Jatuh Cinta

Nenek Ledo duduk di Tolo Pena sebuah ornamen rumah adat di depan pintu masuk ke bagian utama rumah adat yang disebut One. Lalu ia bertutur. Nenek moyang dan leluhur kampung ini sedih karena rumah adat selalu tertutup rapat. Jarang dibuka agar kami bisa memandang matahari dan menghirup udara segar. Kami tidak pernah melihat nyala api dan mengisap asap karena jarang dinyalakan api di tungku. Kampung jarang mendapat sajian karena tak ada lagi upacara adat.

Sejenak Nenek Ledo menghela napas. Aku gemetar. Lalu ia melanjutkan tuturnya. Kami sedih karena rumah-rumah tempat kami bersemayam dipindahkan jauh dari tulang belulang kami yang ditanam di kampung ini. Jauh dari Ngadhu dan Bhaga. Jauh dari Peo dan Ture. Dulu kami tinggal di kampung ini bersama-sama. Sekarang kami tercerai berai. Anak cucu kami yang masih hidup telah mencerai beraikan kami.

Tiba-tiba ayam jago berkokok. Aku terkejut. Keringat mengucur deras dari tubuhku. Keringat ketakutan bercampur haru. Aku tidak tahu apakah kehadiran leluhurku Nenek Ledo cuma sebuah mimpi atau kenyataan ia datang dalam mimpi. Mengingatkan pada anak cucunya yang telah mengkhianati keaslian warisan leluhurnya. Maafkan kami para leluhur. Mungkin kami harus berbenah kembali.***

Oleh: Agust G Thuru

Maghilewa, 22 Oktober 2019.