Kampung Tradisional Maghilewa (3)

oleh -1.285 views
Foto Kampung Maghilewa yang diambil lewat drone milik Valentino Luis

BAJAWA, suluhdesa.com – Jika Anda berkunjung ke kampung tradisional Maghilewa, Anda akan menyaksikan sejumlah ornamen budaya warisan para leluhur.

Ornamen budaya itu memiliki nilai magis yang sangat mendalam bagi para pemiliknya. Ornamen budaya warisan leluhur di kampung tradisional itu berupa rumah adat (Sa’o Adha), Ngadhu, Bhaga, Peo dan batu megalith bernilai sejarah.

Sa’o Adha

Sa’o adha adalah rumah adat atau rumah besar (Sa’o meze). Di Maghilewa terdapat sejumlah rumah adat (Sa’o Adha). Rumah adat itu menempati kampung (Nua) yang berbentuk segi empat sehingga posisi rumah adat itu berhadap-hadapan utara dan selatan serta timur dan barat. Letak rumah adat di utara kampung disebut Ulu Nua, di selatan disebut Wena Nua, di timur disebut Padhi Mena dan di barat disebut padhi zale.
Sa’o selain sebagai bangunan tempat tinggal tetapi juga merupakan suatu lembaga kekeluargaan satu woe (klan/suku) yang bernaung di bawah satu Ngadhu dan satu Bhaga. Rumah adat sesungguhnya adalah lambang dari kekuatan lembaga perkawinan secara adat. Karena itu rumah adat yang disebut Saka Pu’u melambangkan isteri dan rumah adat yang disebut saka lobo melambangkan suami. Kekuatan lembaga perkawinan dilambangkan dengan bersatunya “lasu wisu” ke dalam “lia loki”. Lasu Wisu adalah lambang kemaluan laki-laki dan lia loki kemaluan perempuan. Jika dipersatukan maka badai sekalipun tak mampu merobohkan. Ada filosofi leluhur (Pata Dela) menyebutkan: Muzi modhe bodha dego ne’e go puki lasu, hidup mau baik, aman, tenteram harus kuat mulai dari perkawinan (keluarga).

Sebagai suatu struktur kekeluargaan, sa’o memiliki tingkatannya mulai dari sa’o yang tingkatnya lebih tinggi sampai sa’o yang tingkatannya lebih rendah atau lebih sempit ruang lingkupnya.
Sa’o Keka atau Sa’o Li’e Bhoda, adalah rumah darurat (pondok) dan bukan rumah adat. Dihuni oleh anggota sebuah rumah adat tanpa hilang hak-haknya sebagai anggota sebuah Sa’o Adha. Disebut juga Sa’o Dhoro (keluar dari rumah adat untuk mandiri).

Sa’o Peka Pu’u (Sa’o Saka Pu’u), adalah rumah adat yang berkedudukan sebagai induk, pangkal atau pusat dari rumah adat lainnya. Sa’o Saka Pu’u menempati posisi tertinggi sehingga menjadi pemimpin dari rumah adat lainnya dan menjadi pemimpin anggota keluarga yang bernaung di bawah Ngadhu dan bhaga.

Baca Juga:  Paul Edmundus Talo; Pelaku Kriminal Asal NTT di Bali Bikin Malu Kita

Sa’o Peka Lobo atau Sa’o Saka Lobo adalah rumah adat yang statusnya berada pada posisi kedua atau sebagai wakil dari Sao Saka Pu’u. Sa’o Saka Pu’u dan Sa’o Saka Lobo merupakan simbol hubungan isteri dan suami. Sa’o saka pu’u simbol dari isteri dan Sa’o saka lobo simbol dari suami. Karena itu nama Sa’o saka pu’u selalu nama perempuan dan nama sa’o saka lobo selalu nama laki-laki. Misalnya Sa’o Ne Ledo (Sa’o saka pu’u Woe Turu) dan Sa’o Lokatua (Sa’o saka lobo woe Turu).

Sa’o Kaka atau Sa’o Sipe disebut juga Sa’o Dai adalah rumah adat yang mendukung Sa’o Saka Pu’u dan Sa’o Saka Lobo. Sa’o Saka Pu’u memiliki beberapa rumah adat sebagai Sa’o Sipe Pu’u, demikian Sa’o Saka Lobo memiliki beberapa Sa’o Sipe lobo.

Yang membedakan Sa’o Saka Pu’u dan Sa’o Saka Lobo adalah pada atap Sa’o Saka Pu’u terdapat ana ie yakni miniatur rumah kecil sedangkan pada atap Sa’o Saka Lobo ada miniatur ata yakni orang-orangan yang dibungkus ijuk memegang parang dan tombak. Yang membedakan Sa’o Saka Pu’u dan Sa’o Saka Lobo dengan Sa’o Kaka atau Dai (Sipe) adalah pada Sa’o Kaka atau Sipe atau Dai tidak ada ana ie dana tau ata di atas bubungan atapnya. Selain itu pada rumah adat Saka Pu’u dan Saka Lobo terdapat Kawa Pere di pintu masuk ke bagian rumah adat yang disebut One. Sedangkan rumah adat Dai atau Kaka (Sipe) tidak ada Kawa Pere. Hanya Sao Saka Pu’u dan Sa’o Saka Lobo yang memiliki Kawa Pere sehingga dalam satu suku di bawah Ngadhu dan Bhaga yang sama hanya ada dua rumah adat yang memilikii kawa pere. Jika ada tiga atau lebih maka hal itu yang tidak lazim.

Dalam hidup keseharian semua penghuni rumah adat mengurus rumah tangganya masing-masing. Tetapi hal-hal yang berkaitan dengan adat, berkaitan dengan tanah adat, mengurus berdirinya ngadhu dan bhaga maka tua adat dari sa’o saka pu’u yang memimpin. Sa’o peka lobo atau sa’o saka lobo adalah rumah adat yang statusnya berada di ujung (lobo) sebagai lawan dari pangkal (pu’u). Apa bila ada urusan yang berhubungan dengan adat seperti urusan tanah adat, mendirikan ngadhu dan bhaga tua adat sao saka lobo menduduki posisi kedua atau sebagai wakil dari tua adat sa’o saka pu’u.

Baca Juga:  Peduli Pendidikan, Arnoldus Wea Bagi Sepatu Sekolah untuk Siswa SD di Inerie

Bagian Penting Rumah Adat

Bagian-bagian penting dari sebuah rumah adat adalah: Teda Mo’a yakni balai-balai luar yang disebut juga “Bheja Mo’a”. Fungsinya untuk tempat duduk santai saat menonton upacara adat di tengah kampong. Juga tempat untuk menenun atau menganyam dari kaum perempuan.
Teda One (Bheja One) adalah balai-balai dalam atau balai-balai tengah dari sebuah rumah adat. Merupakan ruangan setengah terbuka terutama bagian depan.
Soja One adalah balai-balai kecil lebih tinggi dari balai-balai bheja one, terletak di bagian kiri dan kanan bheja one. Fungsinya sebagai tempat untuk tiduran (tidur santai). Apabila istri mempunyai anak bayi maka istri dan anak tidur di bagian rumah adat yang disebut One sedangkan suami tidur di Soja One tersebut.

Tolo Pena adalah sebuah tempat kecil di depan pintu masuk ke dalam bagian rumah adat yang disebut One. Lebih lebar dari ukuran pintu masuk dan sama rata dengan balai-balai One.

Kawa Pere adalah bagian yang terletak antara tolo pena dan pintu masuk ke One. Kawa Pere adalah simbol pintu rahim seorang ibu sedangkan bagian One adalah Rahim ibu. Tidak semua rumah ada kawa pere. Hanya rumah yang sudah sangat tua, mempunyai kekayaan berlimpah serta sangat banyak manusia yang berkembang biak dan sejahtera yang ada kawa pere. Sa’o saka pu’u dan sa’o saka lobo diberi kawa pere.

One adalah bagian rumah adat yang paling dalam yang juga merupakan bagian paling inti dari rumah adat. Untuk masuk ke dalam bagian one ini ada pintu yang disebut le’u atau pene. Pintu selalu dibuat rendah setinggi bahu orang sesuai dengan filosofi “dheke dere debhe, droro doro dogho” artinya masuk harus merunduk, keluar harus merendah. Juga kepercayaan bahwa Dewa dan roh leluhur bersemayam di dalam One sehingga untuk masuk harus menunduk sebagai tanda hormat.

Baca Juga:  Kampung Tradisional Maghilewa (2)

Mata Raga: Simbol kehadiran roh leluhur laki-laki dan perempuan adalah “mata raga”. Roh leluhur laki-laki disimbolkan dengan kobho (dibuat dari tempurung kelapa) dan roh leluhur perempuan disimbolkan dengan bhoka yakni sejenis buah labu yang kulitnya keras.

Satu Rumah Satu Nama

Rumah adat di kampung tradisional Maghilewa yakni Sa’o Ne Wua (Rumah adat Woe Kemo), Sa’o Ne Luna (Rumah adat Woe Kutu), Sa’o Tobhi (Rumah adat Woe Kemo), Sa’o Ma’u (Rumah adat Woe Kutu), Sa’o Me Liti (Rumah Adat Woe Kutu), Sa’o Ragadhio (Rumah adat Woe Kutu), Sa’o Ne Wara (Rumah adat Woe Kemo),Sa’o Wetiwali (Rumah adat Woe Kemo), Sa’o Bupu Luwu (Rumah adat Woe Turu), Sa’o Ne Lilo (Rumah adat Woe Turu), Sa’o Loi (Rumah adat Woe Kemo), Sa’o Lokatua (Rumah adat Woe Turu), Sa’o Ne Ledo (Rumah adat Woe Turu), Sa’o Sila (Rumah adat Woe Turu), Sao Bupu Meze ( Rumah adat Woe Kemo) dan Sa’o Ne Bae (Rumah adat Woe Kemo). Rumah adat ini masih bertahan di Kampung Tradisional Maghilewa.

Sejumlah rumah adat telah dipindahkan ke Malapedho. Rumah adat itu adalah Sao Longaroja ( Rumah adat woe Kemo), Sa’o Ne Lune (Rumah adat Woe Kemo), Sa’o Me Deghe (Rumah adat Woe Turu), Sa’o Bhoga Uta (Rumah adat Woe Boro), Sa’o Ne Loda, Sa’o Milo Kutu, Sa’o Ne Sina, Sa’o Ne Noa, Sa’o Nari Wali dan Sa’o Ne Nu’a. Diharapkan rumah adat ini bisa kembali didirikan di kampong tradisional Maghilewa.

Dengan tulisan ini kiranya menggugah para pemilik rumah adat untuk menginventarisasikan nama rumah adatnya masing-masing jika belum tercantum dalam tulisan ini. Selain itu juga menggugah para pemilik rumah adat untuk menuliskan sejarah asal usul rumah adat, ngadhu dan bhaga masing-masing sehingga bisa memiliki literature untuk diwariskan kepada anak cucu.*** (Selesai)

Oleh: Tinus Ghedodeghe, Jurnalis Tinggal di Bali.

Sumber:

Wawancara dengan budayawan Yoseph Rawi,BA, pensiunan guru kelahiran Watu.