Uskup Katolik Di Roma Dukung Lelaki Menikah Jadi Pastor

oleh -1.693 views
Paus Fransiskus, Pemimpin umat Katolik di seluruh dunia

ROMA, suluhdesa.com – Para uskup Katolik di Roma mengusulkan untuk memberi izin kepada lelaki yang sudah menikah untuk menjadi Pastor di wilayah Amazon, mengecualikan mereka dari kewajiban selibat yang berumur ribuan tahun.

Demikian informasi yang dilansir dari Indonesiakininews.Com pada Senin (28/10/2019).

Usulan yang dihasilkan dari jajak pendapat itu muncul pada akhir sebuah pertemuan khusus di Vatikan tentang Amazon, tempat yang mengalami kekurangan jumlah pastor.

Supaya usulan tersebut bisa berlaku, ia harus mendapatkan dukungan dari Paus Fransiskus, yang dijadwalkan untuk mengungkapkan posisinya tak lama lagi.

Kelompok tradisionalis khawatir pelonggaran aturan ini akan menyebar ke seluruh Gereja Katolik, melemahkan karakter uniknya.

Baca Juga:  Bulan Kitab Suci: Momen Introspeksi Diri

Jajak pendapat tersebut diadakan dalam pertemuan yang berlangsung selama tiga minggu, disebut sinode, dan dihadiri sekitar 180 uskup di Roma. 

Pertemuan tersebut juga mengkaji peran Perempuan dalam gereja, dan isu-isu lingkungan.

Gereja Katolik adalah institusi tertua di dunia Barat, berusia hampir 2000 tahun, dan beranggotakan lebih dari satu miliar orang.

Kenapa pastor begitu langka di Amazon?

Penduduk di sedikitnya 85% desa di Amazon tidak bisa menghadiri Misa setiap minggu, lansir kantor berita Reuters.

“Terkadang perlu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, sebelum seorang pastor bisa kembali ke suatu komunitas untuk merayakan Ekaristi, menawarkan sakramen tobat atau pengurapan orang sakit,” kata dokumen sinode.

Baca Juga:  Komunitas AMOR Paroki St. Fransiskus dari Assisi Kolhua Berbagi Kasih

Tiga dari lima uskup di sinode berasal dari sembilan negara Amazon, lansir kantor berita AFP.

Apa alasan di balik keputusan ini?

Menurut usulan sinode, yang mendapat 128 suara dukungan dan 41 penolakan, “laki-laki baik” yang sudah menikah bisa bergabung dengan keuskupan di daerah-daerah terpencil di wilayah Amazon.

Para pendukung perubahan itu berpendapat ini bukan pemutarbalikan aturan tentang selibat bagi pastor, melainkan pengecualian, seperti yang diberikan kepada para rohaniwan Anglikan yang masuk Katolik.

Baca Juga:  KURE, Tradisi Kuno di Noemuti; Riwayatmu Kini (Bagian 2)

“Keragaman yang sah tidak merusak persekutuan dan persatuan Gereja, tapi mengekspresikan dan mendukungnya,” kata dokumen akhir sinode itu, seperti dikutip oleh Catholic News Agency.

Berbicara di sebuah jumpa pers pada akhir sinode, Uskup Agung Benevento, Kardinal Michael Czerny, menjelaskan keputusan tersebut: “Ada yang harus berubah.

“Kita tidak bisa terus mengulang-ulang respons lama terhadap masalah mendesak dan berharap mendapatkan hasil yang lebih baik dari yang kita dapatkan sejauh ini.”

Paus Fransiskus diperkirakan akan mengeluarkan pedomannya terkait persoalan ini pada akhir tahun. (red/indonesiakininews.com)