Kampung Tradisional Maghilewa (2)

oleh -1.485 views
Foto Kampung Maghilewa yang diambil lewat drone milik Valentino Luis

BAJAWA, suluhdesa.com – Maghilewa adalah kampung tradisional yang masih mempertahankan kearifan lokal warisan leluhur.

Kampung ini berbentuk segi empat dengan postur halaman atau loka berundak-undak. Undakan ini terbentuk dari timbunan tanah dan susunan batu yang disebut ture. Barisan rumah adat di utara disebut ulu nua. Barisan rumah adat di selatan disebut wena nua. Barisan rumah adat di timur disebut padhi mena dan di barat disebut padhi zale.

Suku-suku atau Woe (Klan) yang mendiami kampung Maghilewa adalah Woe Kemo , Woe Kutu, Woe Turu dan Woe Boro. Woe berhimpun di bawah Ngadhu dan Bhaga. Woe merupakan struktur sosial paling tinggi. Satu Woe memiliki sekurang-kurangnya satu Ngadhu dan satu Bhaga. Namun ada Woe yang memiliki lebih dari satu Ngadhu.

Baca Juga:  Keuskupan Denpasar Tuan Rumah Lokakarya Produksi Radio Pewartaan Katolik

Adapun Woe yang memiliki Ngadhu lebih dari satu adalah Woe Kemo yang memiliki Ngadhu Linariwu dan Ngadhu Paji. Ngadhu Paji merupakan pemekaran dari Ngadhu Linariwu.

Jejak Misionaris

Maghilewa merupakan pusat kegiatan misionaris Eropa pada tahun 1915 sampai 1945. Maghilewa menjadi pusat penyebaran Agama Katolik di Ngada Selatan bagian barat.

Di Maghilewa pula para Misionaris Serikat Sabda Allah membaptis umat perdana pada 20 April 1920.

Baca Juga:  Penuh Haru Saat OMK Oebobo Paroki Assumpta Berkunjung ke Panti Asuhan Alma Baumata

Sebelumnya pada 1 Agustus 1919 didirikan sebuah sekolah rakyat. Kemudian dibangun gereja yang ditahbiskan dengan nama Gereja St. Familia. (Bersambung)

Oleh: Tinus Ghedodeghe (Jurnalis Tinggal di Bali)