, , ,

Cinta Dalam Dompet

oleh -333 views
Foto Ilustrasi

CERPEN, suluhdesa.com – Pertemuan itu mungkin kebetulan saja. Atau mungkin Tuhan sudah mengaturnya. Atau mungkin juga leluhur sudah menulis pada silsilah keturunanku bahwa aku harus bertemu dengan seorang yang bukan dari lingkaran adat dan budayaku. Nyatanya pertemuan yang hanya kebetulan berubah menjadi cinta. Lalu berwujud pernikahan.

Aku masih ingat kejadian tiga puluh tahun silam. Hiruk pikuk stasiun kereta api Tugu Yogyakarta seolah masih terekam dalam ingatanku. Aku duduk di kursi ruang tunggu sambil membaca harian Kedaulatan Rakyat. Aku tidak menghitung sudah berapa ribu orang yang turun dan naik kereta. Aku juga tidak tahu berapa kereta yang datang dari arah barat menuju timur dan sebaliknya dari arah timur menuju barat.

Aku hanya menunggu jadwal perjalanan kereta api jurusan Yogyakarta-Madiun jam dua siang. Berarti aku masih menunggu tiga jam lagi. Tentu sangat membosankan menunggu sampai waktu tiba dan kereta api berangkat ke Madiun.

Di tengah kejenuhan karena harus menunggu di kerumunan orang banyak dan tak satu pun yang aku kenal tiba-tiba seorang gadis tergopoh-gopoh lewat di depanku. Tampaknya ia sedang mengejar waktu. Ia menyenggol sepatu yang kukenakan. Ia pun terjerembab di pangkuanku.
” Maaf mas, aku buru-buru”, ujarnya.
” Tak apa dik”, jawabku.

Sejenak ia memandangku. Lalu tersenyum. Tampak manis. Wajahnya yang cerah membuat aku menatap agak lama.
” Sekali lagi maaf mas”, ujarnya.
” Ok dik. Tak apa-apa”, ujarku.

Kemudian gadis itu berlalu. Aku menatapnya dari belakang. Tampak rambutnya yang panjang disapu desiran angin. Ketika ia menaiki tangga pintu kereta, ia menoleh ke arahku dan melambaikan tangan. Lalu ia masuk ke kereta api. Satu menit kemudian kereta api itu bergerak ke arah timur. Kereta api jurusan Surabaya.

Beberapa saat aku terperangah. Tatapan mataku terus mengikuti kereta api yang bergerak meninggalkan stasiun Tugu Yogyakarta. Menatap tubuh kereta api itu sampai hilang ditelan jarak yang semakin menjauh.

Tiba-tiba saja aku tersadar. Betapa bodohnya aku. Mengapa aku tak menanyakan padanya siapa namanya dan tinggal di mana. Namun peristiwa kecil itu telah mengganggu pikiranku. Senyumnya membuat aku mengingatnya. Aku sungguh menyesal tidak mendapatkan nama dan alamat tempat tinggalnya.

Ketercenunganku terburai saat seorang pria yang lewat di depanku menggamit lenganku.
” Mas, dompetmu jatuh,” ujarnya sambil berlalu.
” Dompet? Oh ya terima kasih mas”, ujarku.

Aku memungut dompet itu. Dan aku terkejut karena di dompet itu ada foto gadis yang baru saja naik kereta api. Pada dompet itu ada uang lima ratus ribu dan kartu identitas. Uang sebanyak itu adalah jumlah yang besar pada tiga puluh tahun silam.

Aku mencari identitas lain dalam dompet itu. Dan aku menemukan kartu mahasiswi. Namanya Cicilia. Ia kuliah di STKIP Widya Mandala Madiun. Sayang sekali di kartu mahasiswa itu tak tertera alamat. Tetapi kartu mahasiswi itu sudah memberi petunjuk.

Jam yang aku tunggu pun tiba . Aku melangkah ke tangga kereta jurusan Madiun. Dalam perjalanan aku mengenang kembali wajah gadis bernama Cicilia Nurhatinurani. Sebuah nama yang indah. Nama cantik seperti orangnya.

Tiba di Madiun. Semalam aku tak dapat memejamkan mata. Wajah Cicilia seolah melayang-layang di kamar kosku yang tampak berserakan dengan buku-buku. Senyumnya seolah bertengger di kepalaku. Aku merasa menunggu pagi sangat lama. Meski akhirnya pagi pun datang. Aku kembali menikmati angin pagi Madiun setelah satu Minggu bergulat dengan seminar di kota gudeg.

Dan malam pun tiba juga di ujung pagi. Pagi itu aku ke gereja Cornelius di Jalan Ahmad Yani. Aku melangkah menuju bangku tengah yang kebetulan masih tersisa satu orang. Aku terkejut karena gadis di sebelahku adalah Cicilia. Ia tampak khusuk berdoa. Aku membatin, Tuhan mengantarku dan mengantarnya ke gereja. Lalu dompet dan segala isinya bisa kembali kepada pemiliknya.

Usai perayaan ekaristi, Cicilia menatapku dan tersenyum. Senyum itu sungguh menggetarkan
” Maaf dik, masih ingat aku? Ingat peristiwa kemarin di stasiun Tugu?”, tanyaku.
” Oh iya mas. Aku ingat. Aku menyenggol kaki dan…ah, kok bisa begitu”, ujarnya.
” Ada yang lebih penting. Adik ingat?”
” Iyah aku ingat mas. Dompetku hilang.”
” Nah, itu yang penting”
” Aku ikhlas mas. Syukur kalau yang menemukan mau tergerak mengembalikan”

Aku menyodorkan dompetnya. Tampak Cicilia terperangah.
” Kok bisa di mas?”
” Aku juga tak mengerti.”
” Terima kasih mas. Aku menemukan kembali dompetku. Dan menemukan orang baik.”

Peristiwa dompet itu terjadi tiga puluh tahun silam. Dompet itu menjadi awal sebuah sejarah hidup kami berdua. Sebab setelah itu kami saling menyinta. Seusai kuliah kami menikah. Sepuluh tahun kami merajut rumah tangga. Melahirkan seorang putri dan seorang putra. Sepuluh tahun menikmati paduan cinta yang indah. Menikmati harmoni ikatan dua jiwa yang saling jatuh intan.

Tetapi prahara pun datang tak terduga. Menghancurkan kebahagiaan. Prahara yang keluargaku hadapi dan dan membuat biduk perkawinan kami goyah. Aku dituduh korupsi uang kantor lebih dari lima belas miliar. Aku heran karena tak sepeserpun uang itu aku miliki. Bagiku ini fitnah.

Aku tidak kuat menghadapi tuduhan yang tak adil itu. Aku merasa tak melakukan kejahatan yang dituduhkan padaku . Tetapi Cicilia sungguh tampak sangat tegar. Ia sangat tenang.
” Mas, hadapi persoalan ini dengan jujur. Katakan benar kalau benar dan tidak benar kalau tidak benar. Jangan melacurkan kebenaran”
” Percayalah dik. Tak sepeserpun uang kantor itu aku salahgunakan. Apalagi dalam jumlah besar.”
” Aku percaya mas. Kau jujur dan tulus.Kau telah dikorbankan karena kejujuranmu”

Hari-hari berikutnya sungguh menyebalkan. Aku harus menghadapi perkara yang tidak aku lakukan. Proses perkara berbulan-bulan menyita sungguh menyita waktu dan menguras energi . Aku harus menjalani perkara atas hal yang tidak aku buat .

Dan perkara itu berakhir sungguh menyakitkan. Aku diganjar hukuman penjara dua puluh lima tahun. Sesaat setelah majelis hakim membacakan vonis aku meneteskan air mata. Tetapi Cicilia tampak sangat tegar. Ia sungguh kuat. Ia berdiri di depan majelis hakim . Lalu memelukku.
” Jalani hukuman ini mas. Aku percaya kau tidak bersalah.Jalani hukuman ini bukan demi dosamu tetapi demi harga diri, katakan benar kalau benar dan tidak benar kalau tidak benar”
” Iyah sayang. Aku akan menjalaninya. Aku titip anak-anak padamu “
” Percayalah mas, semuanya akan baik-baik saja”

Di ruang pengadilan itu Cicil memelukku. Membenamkan kepalanya di dadaku . Aku berlutut di hadapannya dan mencium kakinya.
” Aku ingin yakinkan dirimu dik bahwa aku tak bersalah”
” Jalani saja mas. Suatu saat kebenaran akan terungkap.Kebenaran tak pernah kalah atas kelaliman”.

Suatu saat kebenaran akan terungkap. Itu kata-kata Cicilia di saat majelis hakim memvonisku penjara dua puluh lima tahun. Setelah dua puluh tahun aku mendekam di penjara kebenaran itu datang. Seorang mantan pejabat di perusahaan milik negara tempat aku bekerja dulu mengaku bahwa dialah yang menyalahgunakan uang perusahaan. Ia memalsukan tanda tanganku sebagai Maneger Keuangan.

Aku pun dibebaskan tepat di hari pernikahan kami yang ketiga puluh . Sungguh aku beruntung memiliki istri yang tabah dan setia. Istri yang ulet dan menghadapi tantangan hidup dengan akal sehat. Istri yang sungguh menghayati bahwa sebuah perkawinan yang dipersatukan Tuhan tak boleh diceraikan oleh manusia. Cicilia sungguh sosok istri yang menghayati janji perkawinan.Setia dalam suka dan duka. Setia dalam untung dan malang.
” Aku bahagia mas. Semua pengalaman hidup telah dibayar mahal. Bukan harta tetapi harga diri. Engkau telah menunjukkan”
” Terima kasih sayang atas kesetiaanmu. Engkau sungguh istimewa. Engkau luar biasa.

Tiba-tiba ia mengeluarkan sebuah dompet kusam dari sebuah tas kecil yang juga sudah kumal
” Mas ingat dompet ini”
” Ya Tuhan, Cicil engkau menyimpannya?”
” Iyah mas. Karena dompet ini penuh kenangan. Dompet ini mempertemukan kita.”

Dan kami tenggelam dalam suka cita mendalam. Kami merayakan hari perkawinan dalam sukacita mendalam. Kami lambungkan doa syukur. Yah, syukur karena kebenaran pun datang. Syukur karena lembaga hukum merehabilitasi nama baik dan harga diriku. Bersyukur karena mendapatkan hak-hak yang hilang secara material selama dua puluh tahun. Bersyukur karena ganti rugi secara material aku dapatkan.

Kami berpelukan. Tenggelam dalam cinta. Terbawa arus keharuan atas jalan hidup yang sulit dipahami. Sungguh aku bangga punya istri yang setia dan anak-anak yang bisa memahami secara tepat peristiwa hidup yang kualami. Terima kasih cinta.

Oleh : Agust G Thuru

Labuanbajo-Turelelo-Malapedho
(20 Oktober 2019)

Catatan penulis:
Cerpen ini terinspirasi oleh pengalaman nyata seorang sahabat yang dipenjarakan tanpa ia merasa bersalah. Sampai saat ini ia masih di penjara. Sahabatku, cerpen ini adalah kado ulang tahun perkawinanmu yang ke-30. Maafkan jika cerpen ini membuatmu terluka.