Roy Tei Seran Maju Di Pilkada Malaka: Merupakan Panggilan

oleh -1.508 views
Roy Tei Seran, Bakal Calon Wakil Bupati Kabupaten Malaka

SOSOK, suluhdesa.com – Saya memulai refleksi saya dengan kutipan di atas, yang setidaknya menjadi kegelisahan saya, menyaksikan dan mengalami langsung kehidupan sosial politik dewasa ini, yang kelihatannya tidak begitu berpihak pada kaum marjinal.

“Populares homines discordant propter inequlitatem possesionis: generosi Autem proper inequlitatem honoris” (Rakyat berselisih dengan alasan ketidakadilan dalam hal memiliki; tetapi kaum terkemuka dalam hal ketidaksamaan kehormatan). – Aristoteles, Polit. Lib., 3.

Pertanyaan mendasar, mengapa ketidakadilan masih selalu menghantui seluruh kehidupan masyarakat dan lebih luas manusia? Saya berupaya juga mencari dan menemukan setitik jawaban yang mungkin tidak tertalu tepat dan terkesan subjektif tentang juga bagaimana kaum terkemuka seringkali luput perhatiannya terhadap persoalan keadilan dan lebih banyak sibuk dengan urusan kehormatan.

Saya sendiri, seturut pengalaman yang boleh dikata representatif, tertutama bagi kaum marjinal, hidup dan berkenalan dengan beragam manusia, mendapati bahwa ada sebagaian orang yang hidupnya sungguh terpenuhi segala kebutuhannya, dan sebagian orang, dan cenderung lebih banyak, hidupnya tidak terpenuhi kebutuhannya, terutama kebutuhan dasarnya sebagai manusia, baik yang sifatnya primer, sekunder dan bahkan tersier.

Lebih jauh, saya mengamati bahwa ada segelintir orang merasa bahwa Kebebasannya seakan dipasung, bahkan yang paling hakiki, kebebasan berpendapat, oleh karena ketidakmampuan menggapai sumberdaya yang hanya mampu dikelolah dan dinikmati oleh sekelompok kecil orang yang empunya kemampuan, baik dari segi intelektualitas, modal dan pengaruh. Dari sini saya merasa bahwa saya bisa menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang mampu untuk mempersempit bahkan menyambung jurang keterpisahan ini lewat cara-cara yang bermartabat, jalan Politik.

Mengutip salah satu tokoh panutan saya, Hannah Arendt, manusia baru dapat dikatakan sebagai manusia utuh ketika ia sudah “bertindak”, atau dengan kata lain, ketika manusia “berpolitik”. Ia meninggalkan urusan privatnya dan masuk ke dalam ruang publik dan berbicara, memengaruhi kebijakan-kebijakan publik dengan cara-cara yang manusiawi.

Menjadi wakil Bupati bagi saya merupakan suatu panggilan, untuk keluar dari zona nyaman ranah privat dan masuk ke dalam suasana carut-marut ranah publik. Demikian tag line mencintai dan melayani menjadi semboyan pribadi yang masih manusia ini.

Kedua, tentu banyak orang, khususnya masyarakat Malaka bertanya-tanya dan lebih cenderung meragukan, kalau tidak sampai pada kesadaran skeptik tentang kemunculan sosok Roy Tei Seran (RTS) dalam perhelatan Politik lima tahunan di Kabupaten Malaka.

Mengapa harus RTS yang “Millenials”, dengan usia relatif muda (30 tahun), berani mengambil keputusan untuk turut mengambil bagian dalam pesta demokrasi lima tahunan ini?

Saya mencoba menjawab secara perlahan. Pertama, RTS tidak asing di dalam keluarga besar baik, Tei Seran, Tey Seran, Teiseran, Taolin, Laka, Ndolu, Adu, Koi, dan seluruh rumpun keluarga besar terkait yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Kedua, RTS lahir dan besar di Betun, Malaka Tengah yang merupakan Ibu Kota kabupaten Malaka dan menjadi barometer kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya, agama dan simbol pluralitas di Malaka yang cukup representatif.

Baca Juga:  Kades Alas Coret Warganya Tak Terima BLT dan Usir dari Kantor Desa

Kedua orang tua RTS adalah juga hidup dari dan untuk masyarakat, setidaknya di sekitar Malaka tengah, Malaka Barat, Malaka Timur, Kobalima dan Kobalima Timur, lewat karya Alm. Ayahanda Josef Tei Seran, sebagai tokoh masyarakat dan tokoh agama, dan Almarhumah Ibunda Kiky Kosasih, juga merupakan tokoh masyarakat yang dikenal luas di masa mereka hidup dan berkarya.

Ketiga, RTS menikahi seorang gadis Taolin yang juga merupakan nama yang cukup popular di berbagai kalangan masyarakat karena mempunyai peran dalam berbagai aspek kehidupan bermasyarakat.

Keempat, menempa diri di Seminari, sejak Seminari menengah Sta. Maria Imaculatta, Lalian, Atambua, hingga Seminari Tinggi TOR Lo’o Damian, Emaus, Seminari Tinggi St. Mikhael, Kupang, RTS yang hidup berasrama dengan ratusan orang calon Imam Katolik, menjadi pembelajaran khusus yang menguatkan dasar kehidupan RTS dalam bersosialisasi dan menempatkan keutamaan-keutamaan hidup lewat cara hidup seorang calon Imam yang bernuansa Filosofis-Teologis.

Kelima, RTS melanjutkan studi di Ibu Kota Jakarta, di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, sambil menjadi pengajar di salah satu sekolah swasta, dan aktif sebagai pembawa acara di berbagai kegiatan kemasyarakatan NTT Diaspora, baik sebagai Wakil Ketua Departemen Kehutanan dan Lingkungan Hidup, menjadi promotor terbentuknya Ikatan Keluarga Malaka Jakarta, Menghimpun Alumni Seminari lalian (PELITA JAKARTA), baik Awam maupun Imam di Jakarta, serta bertemu dengan sosok-sosok pemikir, aktivis, pengusaha, Elit Politik nasional, maupun kaum marjinal di kolong-kolong jembatan di Jakarta, telah menumbuhkan semangat pejuang dalam diri, meski sebelumnya RTS juga turut bersama sesama Millenials memperjuangkan pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Malaka, memisahkan diri dari Daerah Induk (Kabupaten belu), lewat SADANBETEMALAKA (Barisan Pendukung Pembentukan Kabupaten Malaka) di tahun 2012.

Mengapa begitu banyak isu krusial yang terjadi di Kabupaten Malaka, Provinsi NTT?

Malaka dan NTT hari-hari ini dilanda berbagai isu krusial yang cukup mencuri perhatian dari berbagai tokoh baik lokal maupun diaspora. Isu-isu seperti politik dinasti (https://radarntt.co/opini/2019/kpk-harus-telisik-sinyalemen-politik-dinasti-di-kabupaten-malaka/), kerusakan lingkungan (#savemangrovemalaka), ketidakbebasan berpendapat (lih. Grup Facebook Pilkada Malaka 2015, yang dipenuhi dengan akun-akun palsu dan hujat menghujat), ketiadaan kantor-kantor pelayanan publik, dikotomi masyarakat Fehan-Foho (dataran tinggi dan dataran rendah di Malaka), dikotomi barisan sakit hati dan barisan penjilat, bangkitnya Millenials yang ditandai dengan terpilihnya beberapa millenials sebagai anggota Dewan Perwakilan rakyat Kabupaten Malaka di 17 April 2019, serta keyakinan akan kehadiran RTS yang akan merajut kembali perpecahan yang terjadi di Malaka.

Melengkapi jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, RTS dengan berani mengambil keputusan maju sebagai salah satu Bakal Calon untuk yang pertama dan terutama, kesejahteraan mayarakat Malaka yang Adil. Kedua, menghidupkan semboyan atau pepatah, atau nilai keutamaan warisan budaya Malaka “Sabete Saladai”, atau yang bisa diterjemahkan sebagai “gotong royong” ala Bapak Pendiri Bangsa, Mendiang Ir. Soekarno, yang menjadi spirit tegaknya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan lebih luas dan jauh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ketiga, sebagai millenials, RTS hidup di masa “antara”, di mana RTS mengalami langsung perkembangan dunia dan manusia di era 4.0, tapi juga mengenal dengan baik para pendahulu, orang tua dan leluhur, yang menggerakan RTS untuk menghidupkan peran miliienials dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Malaka.

Baca Juga:  Absen Lagi di Sidang Praperadilan Wartawan Sergap, Kapolres Malaka Inkonsisten

RTS hendak menjadi jawaban dari pertanyaan sederhana semisal, Lagu apa yang populer di zaman ini (Black Pink: DUDUDU) dan di zaman Old (Broery Marandika: Angin Malam). RTS berupaya terlibat dan masuk ke dalam politik praktis kehidupan masyarakat Malaka agar tidak ada lagi Foho Fehan, Zaman Old dan Zaman Now, barisan sakit hati dan Barisan Penjilat, tidak ada lagi isu KKN, Keadilan dan Kebenaran menjadi Keutamaan kehidupan manusia Malaka. RTS tetap menunggu hasil survey partai dan berbagai proses menjelang penetapan pasangan Calon Tetap yang akan mulai kelihatan di bulan januari-februari 2020 nanti, sambil mengajak seluruh Millenials untuk terus berjuang bersama mewujudkan gagasan zaman ini, sambil tidak lupa mensinkronisasikannya dengan zaman old, semisal RTS ditetapkan dengan salah satu calon Bupati, dari sekian banyak kandidat yang datang dari zaman Old.

Lebih dan kurangnya hanya Tuhanlah kesempurnaan, saran, kritik yang bermartabat akan senantiasa mendapat apresiasi dari RTS yang Millenial ini. Jangan lupa untuk terus saling mencintai dan melayani. Mengkritisi jangan sampai membenci dan Mencintai jangan sampai Menjilat. Veritas premitur non opprimitur (Kebenaran memang dapat ditekan, tetapi dia tidak dapat dihancurkan).

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama lengkap : Ignasius Roy Suyanto Tei Seran, S.Fil
Tempat/tanggal lahir/Umur : Betun, 15 Maret 1989/30 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Katolik
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Nama Istri : Florencia Sherlin Taolin, S.Ked.
Jumlah anak : 2 Orang

Nama Keluarga Kandung

Ayah : Josef Tei Seran (Alm)
Ibu : Eveline Kiky Kosasih (Alm)
Kakak pertama : FX. Rudy Tei Seran, ST
Kakak Kedua : Johanes Roby Tei Seran, S.E
Kakak ketiga : Irene Kristarina Tei Seran, Amd, S.KM
Kakak Keempat : Anton Rendy Tei Seran
Adik : Angelina Ria Teiseran, S.Kep, Ns.

Nama Keluarga Istri

Ayah : Aloysius Taolin, S.Th
Ibu : Hildigardis Laka
Kakak pertama : dr. Mariana Asdtrid, S.Ked
Kakak kedua : dr. Melania, S.Ked
Kakak ketiga : Yovita Lina, S.Ds
Adik : Emilia Irene Tiffany Taolin

Alamat Tempat Tinggal : Jl. Rawa Selatan IV. No. 1, Keluarahan Johar baru, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat, DKI Jakarta.

Baca Juga:  Masyarakat Desa Maubesi; Kami Pilih KITA SEHATI, Tidak Pilih yang Lain

Riwayat pendidikan :

SD Inpres Betun Kota Lulus Tahun: 2000
SMP St. Thomas, Sabar-Subur, Betun, Lulus Tahun 2003
SMA Seminari Sta. Maria Immaculata – Lalian, Lulus Tahun 2007
Seminari Tinggi TOR LO’O Damian – Emaus – Atambua, Lulus Tahun 2008
Fakultas Filsafat, Universitas Widya Mandira – Kupang, Lulus Tahun 2013
Magister Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara – On Going Process

Kursus/Diklat yang pernah diikuti :

Tahun Orientasi Rohani LO’O Damian – Emaus – Nela – Keuskupan Atambua: 2007-2008
Duta Bahasa Nasional dari Provinsi Nusa Tenggara Timur: 2011
Jambore Nasional Bahasa dan Sastra: 2011
Kursus Bahasa Inggris: 2011
Kursus Komputer: 2012
Simposium Internasional Filsafat Indonesia: 2014
Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI): 2018

Pengalaman Organisasi :

Divisi Media dan Akademi Barisan Muda Pendukung Pembentukan Kabupaten Malaka (SADANBETEMALAKA): 2012
Ketua Komunitas Rumah Sgitiga Kupang: 2012-2013
Wakil Ketua BIdang Kehormatan Partai DPC PDI Perjuangan Kab. Malaka: 2019-2024
Ketua PELITA Jakarta Persaudaraan Lalian Jakarta (alumni Seminari Sta. Maria Immaculata Lalian – Jakarta: 2015-2019
Anggota Dewan Penasihat Ikatan keluarga Malaka Jakarta: 2017-2019
Ketua Paduan Suara Flobamora Paroki St. Paskalis, Cempaka Putih, Jakarta Pusat: 2017-2019)
Sekretaris Jenderal Forum Peduli Mangrove Malaka (FPMM Jakarta) 2018 – …
Anggota Komunitas Peduli Kasih Jakarta (KPK Jakarta) 2018- …
Wakil Ketua Departemen Kehutanan dan Lingkungan Hidup Dewan Pimpinan Pusat Forum Komunikasi Masyarakat FLOBAMORA FKM FLOBAMORA): 2019-2023
Ketua Divisi Akademi dan Pendidikan Gerakan Patriot Muda Nusa Tenggara Timur (GARDA NTT): 2019 – 2022

Riwayat Pekerjaan :

Guru Paruh Waktu SMP Sta. Theresia Kupang 2010-2012
Usaha di Bidang Barang dan Jasa 2011-2019
Guru SMA Paruh Waktu Fons Vitae 2 Jakarta Utara 2015-2019

Tanda penghargaan :

Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) Universitas Widya Mandira (2008/2009) Kegiatan Hijau Bumi Ku Damai Hatiku (2009)
Pluralisme dan Politik Kebangsaan Indonesia oleh Wakil Ketua DPR – RI (Drs. A. Muhaimin Iskandar, M.Si (2009).
Pembangunan Daerah Perbatasan Dalam Perspektif Hukum Hankam dan Ekonomi (2010)
Juara I Lomba Pidato dalam pekan Ilmiah dan Seni Mahasiswa (PISMA), Senat mahasiswa UNWIRA 2010, dengan Tema: “Menciptakan Diskursus Kritis dan Estetis Mahasiswa Menuju Transformasi Pendidikan Integral”.
Penyuluhan Bahasa Indonesia bagi Media Massa Se-Kota Kupang (2013)
Lulusan Prodi filsafat “Dengan pujian”, Wisuda Angkatan XIX dan Sarjana Angkatan XLVII: 2013
International Epilepsy Day & Purple Epilepsy Day 2018
Seminar Dies Natalis STF Driyarkara ke-49 dengan Tema: “Etika Komunikasi Digital: Membela Moralitas dalam Prahara Pascakebenaran” 2018

Demikian daftar riwayat hidup ini dibuat dengan sesungguhnya untuk dapat digunakan sebagai bukti pemenuhan persyaratan bakal calon Wakil Bupati Kabupaten Malaka dari PDI Perjuangan. (roy/rts)