Hoaks Merajalela Di Indonesia

oleh -345 views
Frater Ebith Lonek, CMF (Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang)

OPINI, suluhdesa.com – Fenomena postmodernisme adalah salah satu fenomena mutakhir dalam kehidupan manusia kontemporer. Entah apa alasan lahirnya, Jean Baudillard menyebutnya sebagai fakta tandingan atas modernitas atau kritikan bahkan sebuah dekonstruksi dan deligitimasi atas konsep modernitas yang sudah mengakar dalam diri manusia.

Fenomena postmodern ini mendorong orang tidak mengedepankan kebenaran umum namun kebenaran-kebenaran. Atau yang dibahasakan oleh Nietzsche “My good is my good, and your good is your good” (kebaikanku adalah kebaikanku, dan kebaikanmu adalah kebaikanmu). Apakah ini adalah sebuah masalah?

Fenomena postmodern yang dialami oleh masyarakat dunia saat ini menyebar hingga ke kantong-katong sentral masyarakat. Setiap bidang kehidupan ditimbang dengan takaran postmodern. Bagi masyarakat milenial atau kontemporer yang telah terinfeksi paham postmodern, memandang modernitas sebagai sebuah kegagalan dalam memberikan pencerahan bagi budi manusia. Modernitas gagal. Dengan lahirnya postmodern, ada begitu banyak persoalan yang sejatinya terlahir dalam era atau saat dimana budaya dan paham postmodern sedang tumbuh dan berkembang. Satu diantara persoalan itu adalah fenomena hoaks (berita bohong).

Ada indikasi bahwa kelahiran hoaks menjadi satu buah dari lahirnya paham postmodern. Masyarakat tidak lagi memandang kebohongan sebagai sesuatu yang tabu. Bagi hoaksker tidak ada kebenaran tunggal. Narasi besar telah diganti dengan narasi-narasi. Sesuatu yang dianggap bohong oleh publik dengan takaran nilai moral publik adalah sebuah kejujuran bagi hoaksker. Apakah sesuatu yang “jujur” itu tidak baik atau salah?

Masyarakat Indonesia selama pasca pemilu 2019 dikenyangi dengan berbagai macam berita. Kredibilitas dan kevalidan berita menjadi satu warning bagi publik. Antivirus kekritisan dalam berpikir seolah terjangkit virus yang membutakan bahkan membuat nalar ini kaku bahkan mati walaupun hidup. Plt Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu dengan menggunakan mesin AIS oleh Subdirektorat Pengendalian Konten Internet Direktorat, mengatakan Kementerian Kominfo merilis informasi mengenai klarifikasi dan konten yang terindikasi hoaks melalui portal kominfo.go.id dan stophoax.id.

Lebih lanjut ia memaparkan kategori konten hoaks yang berhasil diindetifikasi Kominfo sepanjang Agustus 2018-April 2019 yakni politik sebanyak 620 hoaks, pemerintahan: 210 hoaks, kesehatan: 200 hoaks, fitnah: 159 hoax, kejahatan:113 hoaks dan isu lainnya.

Baca Juga:  Wagub NTT Minta Dinas Kominfo Percepat Elektronifikasi Administrasi Perkantoran

De facto-nya bahwa hoaks berkelana secara bebas, memasuki kantong-kantong masyarakat tanpa adanya pengawasan yang ketat. Fenomena ini mengafirmasi Indonesia tengah berduka atas kematian nalar manusia dalam mengkritisi setiap konten berita. Apa yang dibahasakan oleh Paul Feyeraben seorang falsifikasionis realis sebagai sebuah cita-cita ilmiah yakni kekiritisan dan kejujuran ilmiah masyarakat Indonesia berada pada titik nadir.

Hoaks dalam tataran leksikal bahasa Inggris hoax yang berarti olok-olokan, cerita bohong, memperdaya. Dengan demkian hoaks dengan sendirinya adalah sebuah kejahatan moral yang mestinya secara logika ataupun nalar moral tidak bisa dibiarkan tumbuh subur. Hoaks di Indonesia bukan fenomena baru apa lagi langka, hoaks seakan menjadi teman seperjalanan bangsa ini. Atas temuan Kominfo tersebut, kita perlu mengkritisi kegagalan kita dalam meretas eksitensi hoaks yang kian menyebar ibarat bakteri ganas. Hoaks menjadi satu ancaman serius di bangsa ini, setiap orang dengan berbagai macam latar belakang menjadi sasarannya. Hoaks berjalan mulus lewat tol medsos yang seakan-akan menjadi patnernya dalam menyukseskan kinerjanya.

Bahkan atas survei data Masyarakat Telematik (2018), terungkap bahwa saluran penyebaran hoaks melalui media sosial menduduki posisi paling tinggi (92,42%). Dengan demikian ditegaskan lagi bahwa media komunikasi tengah terjangkit virus hoaks. Apa yang dibuat dengan fenomena ini?

Hoaks “Kematian” Homolog dan “kelahiran” Paralog

Jean Francois Lyotard adalah pemikir filsafat dan sosial prancis. Ia dilahirkan pada tanggal 10 agustus 1924 di Versailles. Filsafat postmodern pertama kali muncul di Perancis pada sekitar tahun 1970-an, terlebih ketika Jean Francois Lyotard menulis pemikirannya tentang kondisi legitimasi era postmodern, dimana narasi-narasi besar dunia modern (seperti rasionalisme, kapitalisme, dan komunisme) tidak dapat dipertahankan lagi.

Nafas utama dari postmodern adalah penolakan atas narasi-narasi besar yang muncul pada dunia modern dengan ketunggalan terhadap pengagungan akal budi dan mulai memberi tempat bagi narasi-narasi kecil, lokal, tersebar, dan beranekaragam untuk bersuara dan menampakkan dirinya.

Baca Juga:  Kristiana Muki; KITA SEHATI Butuh Milenial Promosi Tenun Ikat di Medsos

Gagasan homolog dan paralog lahir dari buah pemikiran Loytard. Loytard mencatat beberapa ciri utama kebudayaan postmodern. Menurutnya kebudayaan postmodern ditandai oleh bebrapa prinsip yakni’ lahirnya masyarakat komputerisasi, runtuhnya narasi-narasi besar moderinitas, lahirnya dekonstruksi, delegitimasi dan matinya homolog dan lahirnya paralog.

Menggarisbawahi sifat transformatif masyarakat komputerisasi yang lebih terbuka, majemuk, plural dan demokratis, Lyotard selanjutnya menyatakan bahwa kebenaran yang di bawa oleh narasi-narasi besar (Grand Narratives) modernisme sebagai metanarasi kini telah kehilangan legitimasinya. Hal ini karena dalam masyarakat kontemporer, sumber pengetahuan dan kebenaran pengetahuan tidak lagi tunggal. Realitas kontemporer tidak lagi homolog ( homo: satu dan logi : tertib, nalar ) melainkan paralog ( para : beragam, dan logi : tertib nalar ). Pengetahuan dan kebenaran kini menyebar dan plural. Konsekuensinya, prinsip legitimasi modernisme harus di bongkar dengan prinsip delegitimasi.

Hal senada sebagai akibat dari masyarakat komputerisasi, virus hoaks menyebar dengan begitu cepat. Apa lagi sudah ditegaskan bahwa hoaks melaju dengan bebas dalam lintasan medsos, yang membuat masyarakat mati secara nalar. Dengan demikian hoaks menjadi duka atas kematian homolog dan sukacita atas kelahiran paralog. Dalam homolog kebenaran-kebenaran tidak memliki tempat yang ada hanyalah kebenaran umum/universal. Jika paham ini yang dianut maka hoaks tidak mendapat tempat. Sebab dalam kalkulasi takaran moral berbohong adalah sesuatu yang melawan nilai moral publik.

Namun karena kematian homolog dan terlahirnya paralog, dengan demikian hoaks menjadi jaya dan tak terbendung. Segala usaha dan aturan ditegakkan, namun hoaks tetap tumbuh subur, bahkan para hoaksers menjadi semakin militan. Bagi hoakskers takaran kebenaran moral adalah kebenaran-kebenaran bukan kebenaran moral tunggal. Dengan demikian, kebohongan bagi masyarakat pada umumnya adalah kejujuran bagi para hoakskers. Apakah “kejujuran” tidak baik jika dibagikan kepada sesama?

Baca Juga:  Kementerian Kominfo RI Dorong Akselerasi Transformasi Digital

Kebenaran Pancasila VS Hoaks

Persoalan di Indonesia berkaitan dengan hoaks tidak hanya mengganggu stabilitas politik, ekonomi bahkan lebih akutnya hoaks tengah merongrong ideologi bangsa yang sudah dijaga selama 74 tahun.

Ideologi yang menjadi lem perekat dan benang pemersatu bangsa yang plural ini tengah mengalami goncangan dari para oknum tertentu yang memboncengi kepentingan politik dengan membingkai kepuasaan libido politik sebagai proto gratia. Pancasila menjadi satu sasaran empuk bagi hoakskers bertopeng #ganti pancasila#

Dalam masyarakat paralog, gaungan #ganti pancasila# adalah sebuah kebenaran yang harus diperjuangkan. Bagi sekelompok orang pancasila bukanlah kebenaran ultim yang harus dipertahankan karena bagi mereka ideologi agama adalah yang benar. Jika diperhadapkan dengan budaya paralog adalah sebuah kebenaran. Sebab masyarakat paralog tidak ada kebenaran tunggal. Bagi sebagian orang, pancasila adalah harga mati dan merupakan ideolgi bangsa, namun bagi yang lain ideologi basis agama adalah yang terbaik.

Dengan demikian, demi mencapai tujuan mereka, budaya hoaks harus ditumbuh-kembangkan. Sehingga masyarakat Indonesia terpecah dan mengafirmasi keinginan mereka untuk mengganti ideologi bangsa ini. Para pejuang #ganti pancasila# berafiliasi menjadi hoakskers yang militan yang mengedepankan kepuasan diri mereka lewat kebohongan yang dibagikan lewat medsos.

Dalam menanggapi fenomena ini, masyarakat Indonesia sebenarnya ditantang. Tantangan bukan soal matinya homolog dan lahirnya paralog, namun tantangan yang lebih besar adalah bagaimana menghidupkan kembali budaya kekritisan dalam berpikir. Jangan menjadi mayat yang berjalan. Jika kita gagal dalam mengkritisi setiap konten berita yang dibaca atau didengar maka sebenarnya kita hidup tapi mati secara nalar. Oleh karena itu budaya kekritisan menjadi senjata yang dapat meminimalisir penyebaran hoaks yang saat ini tidak hanya menyebar dan merongrong masalah sosial. Tapi hoaks dan hoakskers yang membonceng kepentingan libido politik tengah berusaha untuk masuk dan merusak ideologi pancasila. Ingat NKRI harga mati!

Oleh: Ebith Lonek, CMF (Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang)