Wisata Pantai Ena Lewa dan Vila Gemo Tampilkan Keramahtamahan

oleh -749 views
Vila Gemo dan lokasi wisata Pantai Ena Lewa di Aimere yang saat ini sedang ramai dikunjungi wisatawan

AIMERE, suluhdesa.com – Pulau Flores telah dikenal ke seluruh dunia karena keindahan alam serta banyaknya tempat-tempat pariwisata yang ada di pulau ini. Baik itu wisata bahari, wisata budaya, wisata kuliner, maupun kekayaan intelektual para leluhur yang ditinggalkan untuk seluruh masyarakat di daerah yang berada di Pulau ini.

Bagi anda yang suka bepergian atau yang suka melakukan traveling saat liburan, berbulan madu bersama kekasih anda, atau hendak melakukan acara pernikahan dengan gaya pesta pantai nan santai, cobalah untuk menikmati keindahan wisata Pantai Ena Lewa yang berada di Jalan Lintas Aimere-Ruteng, Gemo, Desa Legelapu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur.

Jarak lokasi wisata Pantai Ena Lewa dan vila ini ke kota Kecamatan Aimere adalah 2 km dan jika ditempuh dengan kendaraan hanya memakan waktu lima menit, jarak ke pusat Kota Bajawa hanya 8 km, jarak ke Bandara Turelelo So’a 55 km yang dapat ditempuh dengan transportasi sepeda motor 1 jam 30 menit dan mobil 2 jam perjalanan.

Di lokasi ini pun ada Vila Gemo yang didirikan oleh Vinsensius Kua Gili (54). Pria yang akrab disapa Wens ini adalah mantan anggota DPRD Ngada tiga periode dan selama lima belas tahun menjadi politisi dari sebuah partai besar. Setelah sukses dalam bidang politik, kini Wens yang telah memilih untuk fokus pada usaha pariwisatanya ini membangun Villa Gemo Beach Cottages dan mendesainnya menjadi tempat wisata baru yang kian diminati bukan saja oleh para turis domestik namun juga oleh turis mancanegara.

Pantai Ena Lewa dan Vila Gemo ini berdiri tepat di bibir pantai laut Sawu. Lokasinya sangat strategis dan biaya sewa kamar maupun makanan itu murah. Anda tidak akan menyesal untuk mengeluarkan uang dari kocek sebab pelayanan yang diberikan tidak murahan. Pada pagi hari anda dapat menikmati sunrise yang muncul dari balik Gunung Inerie yang menjulang megah di sisi timur vila ini. Pada senja hari pun mata anda akan secara langsung melihat matahari yang terbenam di ufuk barat tanpa dihalangi. Saat-saat ini seperti inilah anda dengan leluasa menikmati keindahan yang Tuhan berikan secara cuma-cuma sambil anda menghirup napas kebebasan.

Jika anda ingin berenang sambil bercengkrama bersama ombak-ombak kecil, anda hanya melangkahkan kaki beberapa meter ke pantai dan menceburkan diri anda ke laut. Namun jika gelombang sedang bergelora anda dapat memilih untuk berjalan-jalan menyusuri pasir Pantai Ena Lewa yang hitam dan halus. Atau jika memang anda ingin memilih untuk berolahraga, anda sangat dianjurkan untuk melakukannya di atas hamparan pasir ini.

Saat menikmati makan siang atau makan malam mata anda akan dimanjakan dengan suasana pantai. Apalagi jika cerah dan tak berawan maka anda akan dapat melihat burung-burung camar yang berterbangan di langit yang biru. Desau ombak dan semilir angin pantai yang menyegarkan menambah nikmat selera makan anda. Atau jika anda sedang berkencan dengan pasangan anda, momen ini merupakan yang paling istimewa.

Baca Juga:  Sejarah Kota Bajawa di Ngada (Bagian Pertama)

Saat Media SULUH DESA mengunjungi Vila Gemo ini, suasana sejuk dan teduh mulai dirasakan saat pertama kali memasuki gerbang Vila. Aura positif semakin kuat saat berada di taman tengah Vila Gemo sebab dipenuhi dengan bunga-bunga dan tumbuhan hijau yang ditata begitu indah. Wajah Vila Gemo dan Pantai Ena Lewa seperti gadis muda jelita yang menghipnotis para pemuda yang memandangnya. Di sana ada keindahan tersembunyi.

Di ruang tunggu yang digunakan juga sebagai ruang reservasi sekaligus ruang makan tampak beberapa turis asing sedang bercengkrama sambil menikmati hangatnya kopi Bajawa. Media SULUH DESA diterima Vinsesius Kua Gili pada Senin (23/9/2019) pukul 09.00 wita. Dengan keramahan dan senyumannya yang khas, Media SULUH DESA dipersilahkan untuk menikmati suasana Pantai Ena Lewa dari balik jendela. Sambil ngopi bareng, Pria yang memiliki empat anak ini berkisah tentang prosesnya membuat tempat wisata Pantai Ena Lewa sehingga dikenal oleh banyak orang.

“Awal saya dirikan vila ini dari kemauan yang besar. Yang ada pada saya hanya keberanian berbuat sesuatu dan membaca peluang ke depan jika peluang bisnis yang paling trend itu adalah seperti ini. Kita mesti membaca jika era milenial ini ada pengaruh masyarakat ekonomi Asean. Orang luar pasti datang ke sini. Lalu jika kita tidak siapkan jasa, lokasi, sumber daya, maka suatu saat mereka akan menjadi penguasa di daerah kita. Jadi kita harus berani dengan potensi alam yang ada yang sangat luar biasa,” Wens berkisah.

Menurut Wens, persoalan yang terjadi saat ini adalah sumber daya dan kemauan untuk berbuat. Ia mulai merintis usaha ini dengan perjuangan dan penderitaan tanpa ada dukungan dari pihak lain. 

“Tetapi saya bangun saja karena saya pikir satu saat orang pasti lapar, orang pasti capai, orang butuh istirahat. Orang kalau lapar pasti singgah makan. Saya juga melihat ada potensi besar di sini. Ini persis di pinggir pantai dan ada view gunung Inerie, ada juga destinasi wisata kampung tua seperti Maghilewa, Belaraghi, wisata penyulingan arak secara tradisional. Ini memancing orang untuk datang. Jadi kita menyiapkan tempat untuk orang bisa istirahat, bisa makan, bisa minum. Itu motivasinya. Modal saya hanya semangat bukan dari uang. Setelah ada peluang baru kita pikirkan investasi,” tuturnya.

Dirinya bercerita jikalau pihaknya mulai mendirikan vila ini pada tahun 2005 dan mulai menyebut serta mempromosikan jika di Gemo ada vila.

“Saya membentuk opini kepada masyarakat bahwa di sini ada tempat wisata baru. Setelah itu mulai banyak yang datang untuk sekadar foto-foto atau memang untuk menginap. Tamu saya pertama waktu itu para turis dari Belgia. Merekalah yang mendorong saya untuk terus membenahi tempat ini menjadi seperti ini. Padahal dulunya tempat ini banyak tumbuhan liar atau perdu. Tahun 2007 saya mulai membangun kamar-kamar dari alang-alang. Ketika selesai membangun kamar-kamar tersebut, orang-orang dari Bappeda Ngada datang untuk rekreasi. Dari mereka juga saya didorong untuk terus membangun terutama membangun sebuah aula yang dapat digunakan untuk semua kegiatan. Namun pada tanggal 20 Mei 2019 lalu semuanya hangus terbakar. Akhirnya saya pun memutuskan untuk membangun kamar-kamar karena saya melihat banyak sekali turis yang datang ke sini yang membutuhkan tempat menginap karena mereka ingin melihat matahari terbit dan terbenam. Namun jika ada pertemuan-pertemuan kami akan memasang tenda,” jelas Wens penuh semangat.

Baca Juga:  Kunjungi Biara OCD Kupang, Wagub NTT Serahkan Bantuan Beras

Sambil menyeruput kopinya Wens Kua Gili berkisah bahwa Vila ini resmi berdiri dengan segala legalitasnya pada tahun 2017. Ia mengurus semua hal yang menyangkut dengan administrasi supaya legal secara hukum dan supaya tempat ini diakui negara.

Kepada Media SULUH DESA dirinya mengatakan fasilitas yang ada untuk sementara yakni; kamar tidur dengan toilet dalam, makanan dan minuman, suguhan wisata penyulingan arak secara tradisional, serta aneka souvenir yang harganya sangat murah.

“Kami siapkan enam kamar tidur dengan patokan harga mulai 250.000 rupiah, 350.000 rupiah dan 400.000 rupiah. Itu sudah termasuk breakfast. Dari kamar ini juga ada pilihan untuk yang single, yang berkeluarga atau rombongan serta juga khusus para tamu suami istri yang membutuhkan urusan privasi,” ucap Wens.

Saat ditanyai mengenai menu makanan di vila ini Wens menjawab kalau pihaknya menyiapkan menu makanan lokal. Di vila ini tidak menghilangkan kekhasan daerah. Pangan lokal tidak memakai bumbu kimia.

“Kita mau menghindarkan diri dari ketergantungan masyarakat terhadap produk-produk yang instan. Kalau bumbu pangan lokal ini kami gunakan bumbu-bumbu lokal. Kami juga menyediakan makanan lain yaitu ikan panggang, sayur, tempe goreng, nasi dengan buah. Jenis ikan untuk kami panggang itu adalah ikan segar yang langsung kami ambil dari para nelayan di sekitar vila. Sehingga tidak terkontaminasi dengan pengawet atau direndam dalam es. Prinsip pelayanan kami adalah memberi makan bukan menjual makanan. Sehingga kalau kami memberi makan orang, itu harus makanan yang sehat. Betul ini dijual tetapi kami utamakan aspek kesehatan. Makanya saya tuliskan filosofi itu dalam bahasa daerah Ngada yaitu Ka papa fara, inu papa pinu. Modhe ne’e soga woe, meku ne’e doa delu.  Ini memiliki pesan moral supaya saat orang atau tamu yang datang ke sini mengenang bahwa kebaikan yang kita terima adalah kebersamaan yang kita dapat,” urai Wens diantara kesibukannya melayani para tamu.

Wens pun menjelaskan juga bahwa filosofi pangan lokal adalah makan dalam keadaan segar dan pemberdayaan masyarakat lokal. Logikanya uang yang didapat dari para turis atau tamu ini dipakai untuk membeli ikan atau sayur dari masyarakat di sekitar vila. Sehingga masyarakat terus menghidupi ekonomi mereka dengan kehadiran tempat wisata di Gemo, sebab hal ini menjadikan mereka sebagai partner di dalam hubungan pasar.

Mengenai proses penyulingan arak tradisional yang dijadikan sebagai tempat wisata di sini, Wens memperkerjakan para tenaga lokal. Mereka yang menyadap tuak putih dari pohon lontar lalu memasaknya kemudian memroses itu menjadi arak tradisional Aimere dengan kualitas kelas satu. Lokasi penyulingan arak secara tradisional ini biasa dikunjungi wisatawan asing yang penasaran dan mereka akan selalu mencoba merasakan sensasi arak Aimere. Menurut pengakuan wisatawan minuman arak tradisional yang ada di lokasi Vila Gemo rasanya mirip dengan Kaira dan sejenisnya yang merupakan minuman arak tradisional Serbia dan Kroasia.

Baca Juga:  Terbentuk Kepengurusan IKADA Bali Periode 2020-2022, Harus Punya Komitmen

Sejauh ini jumlah wisatawan yang datang tergantung musim. Kalau memang lagi liburan itu akan sangat ramai dan suasananya akan sangat sibuk. Itu terjadi pada bulan Mei, Juni, Juli, dan Agustus. Banyak wisatawan dari luar seperti dari Eropa dan ada juga yang datang dari dalam negeri. Biasanya dari Jakarta, Surabaya, dan sekitarnya. Dalam sebulan yang datang mengunjungi tempat wisata Pantai Ena Lewa dan menggunakan jasa Vila Gemo bisa di atas 60 an orang.

Wens yang saat ditemui sangat sibuk melayani para tamunya namun dengan santai bercerita bahwa saat ini mereka mempekerjakan masyarakat lokal. Hal ini dilakukannya untuk menarik para orang muda untuk jangan memilih pergi merantau.

Menurut dari kesan-kesan yang disampaikan oleh para tamu bahwa mereka lebih suka tinggal di tempat-tempat yang seperti ini dengan kekhasannya. Selain itu juga mereka senang dengan masyarakat lokal yang melayani. Mereka mengakui bahwa mereka tidak suka dengan system management hotel. Karena dalam management itu mereka tidak mengenal pemilik. Yang mereka kenal adalah manager dan karyawan. Karena dalam pelayanan juga berbeda.

“Tetapi kalau kita yang membangun konsep home stay mereka akan sangat berkesan dengan kita. Menurut kesan dari para tamu ada tiga hal yang mereka suka dari orang Flores. Yang pertama itu alam,yang kedua itu budaya. Kedua hal ini juga dimiliki oleh daerah lain. Satu hal dari ketiga kesan ini adalah keramahtamahan serta ketulusan dalam menerima mereka,” tukas Wens.

Menurut Wens ada banyak peluang yang dapat dibuat. Dirinya menantang orang-orang muda di sekitar Aimere, Inerie, dan Bajawa untuk melakukan hal seperti ini.

“Saya sudah keliling dari ujung timur Indonesia hingga ujung barat Indonesia namun belum ada orang Bajawa yang menjual kopi Bajawa asli itu di café-café. Tetapi ini saya lakukan. Kami bekerja sama dengan para petani kopi di Bajawa. Mereka memetik kopi dan memproses kopi Arabica ini menjadi bubuk yang siap diseduh dengan air panas secara tradisional. Kami jual dengan harga 10.000 rupiah satu gelas. Ini pekerjaan yang sangat mudah dan saya mau mengajarkan kepada para orang muda bagaimana caranya mendatangkan uang dengan mudah. Mari kita bangun asset dan asset itu yang bekerja untuk kita dalam menghasilkan uang. Bukan kita yang bekerja mengejar uang. Itu prinsip hidup saya yang coba saya bagikan kepada anak-anak saya juga,” tutup Wens.

Ke depan konsep yang dikembangkan dari wisata Pantai Ena Lewa dan Vila Gemo adalah wisata berbasis budaya. Salah satu contoh yang akan diterapkan adalah semua karyawan di Vila Gemo akan mengenakan busana daerah saat melayani para pengunjung atau tamu.

Ayo tunggu apa lagi. Datang dan nikmati keindahan Pantai Ena Lewa dan manjakan diri anda dengan seluruh pelayanan yang diberikan di Vila Gemo. Jika anda ingin memesan kamar atau sekadar datang untuk refreshing dapat menghubungi Wens Kua Gili di nomor 08229919939/081236432145. (Frids Wawo Lado/FWL)