Petani Harus Mandiri Karena Bantuan Pemerintah Telah Dikurangi

oleh -352 views
Yoseph Yoneta Motong Wuwur (Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Flores- Ende)

OPINI,suluhdesa.com – Pemberdayaan masyarakat petani adalah proses pembangunan di mana masyarakat petani berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri.

Pemberdayaan merupakan penciptaan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Pemberdayaan masyarakat petani sebagai upaya menjadikan suasana kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi semakin efektif secara struktural, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, negara, regional, internasional maupun dalam bidang politik, ekonomi, psikologi dan lain-lain.

Memberdayakan masyarakat mengandung makna mengembangkan, memandirikan, menswadayakan dan memperkuat posisi tawar-menawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan penekan di segala bidang dan sektor kehidupan. Pemberdayaan diartikan sebagai upaya untuk memberikan daya atau kekuatan kepada masyarakat. Sehubungan dengan pengertian ini, pemberdayaan masyarakat sebagai kemampuan individu yang bersenyawa dengan masyarakat dalam membangun keberdayaan masyarakat yang bersangkutan. 

Dengan kata lain, memberdayakan masyarakat petani adalah meningkatkan kemampuan dan meningkatkan kemandirian masyarakat. Sejalan dengan itu, pemberdayaan dapat diartikan sebagai upaya peningkatan kemampuan masyarakat dengan kategori kurang mampu untuk berpartisipasi, bernegosiasi, mempengaruhi dan mengendalikan kelembagaan masyarakatnya secara bertanggungjawab demi perbaikan kehidupannya. Pemberdayaan secara singkat dapat diartikan sebagai upaya untuk memberikan kesempatan dan kemampuan kepada kelompok masyarakat untuk memiliki kemapuan dalam berdiskusi atau berdialog dan berani mengungkapkan pikiran serta memiliki keberanian untuk memilih.

Karena itu, pemberdayaan dapat diartikan sebagai proses terencana guna meningkatkan skala dari obyek yang diberdayakan. Dasar pemikiran suatu obyek atau target perlu diberdayakan karena obyek tersebut mempunyai keterbatasan dan  ketidakberdayaan dari berbagai aspek. Dalam upaya pemberdayaan  masyarakat petani tentu dibutuhkan syarat guna tercapainya tujuan pemberdayaan masyarakat petani. Untuk mencapai tujuan pemberdayaan masyarakat terdapat tiga jalur kegiatan yang harus dilaksanakan, yaitu : pertama, menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat untuk berkembang. Titik-tolaknya adalah, pengenalan bahwa setiap manusia dan masyarakatnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Kedua, pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memberikan motivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya, serta berupaya untuk mengembangkannya. Ketiga,memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat.

Baca Juga:  Kepala Desa Naitimu di Kabupaten Belu Dinilai Berprestasi

pemberdayaan masayarakat petani memiliki tujuan untuk membentuk individu dan masyarakat menjadi mandiri. Kemandirian tersebut meliputi kemandirian berpikir, bertindak dan mengendalikan apa yang mereka lakukan tersebut. Pemberdayaan masyarakat hendaknya mengarah pada pembentukan kognitif masyarakat yang lebih baik. Kondisi kognitif pada hakikatnya merupakan kemampuan berpikir yang dilandasi oleh pengetahuan dan wawasan seorang atau masyarakat dalam rangka mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi. Kondisi konatif merupakan sikap perilaku masyarakat yang terbentuk yang diarahkan pada perilaku yang sensitif terhadap nilai-nilai pembangunan dan pemberdayaan. Kondisi afektif adalah merupakan sense yang dimiliki oleh masyarakat yang diharapkan dapat diintervensi  untuk mencapai keberdayaan dalam sikap dan perilaku. Kemampuan psikomotorik merupakan kecakapan keterampilan yang dimiliki masyarakat sebagai upaya pendukung masyarakat dalam rangka melakukan aktivitas pembangunan. Terjadinya keberdayaan pada empat aspek tersebut (kognitif, konatif, afektif dan psikomotorik) akan dapat memberikan kontribusi pada tercapainya kemandirian masyarakat yang dicita-citakan.

Dalam proses pemberdayaan petani menuju kemandirian petani yang harapkan semua pihak yang berkecimpung dalam dunia pertanian, memberikan gambaran bahwa ada faktor-faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kemandirian petani. Faktor pertama adalah dukungan lingkungan sosial budaya, faktor kedua adalah karakteristik petani, dan kinerja penyuluhan. Dari ketiga faktor itu yang sangat berperan dalam pemberdayaan petani menuju kemandirian petani adalah kinerja penyuluhan.

Faktor kinerja penyuluh berpotensi mempengaruhi tingkat kemampuan petani secara berurutan, mulai dari aspek kompetensi penyuluh, materi penyuluhan dan metode penyuluhan. Peningkatan kompetensi penyuluh, materi dan metode penyuluhan melalui penguatan kelembagaan penyuluhan. Kompetensi terkait dengan kemampuan seseorang dalam melakukan suatu pekerjaan.

Baca Juga:  Antisipasi Covid 19, Pemdes Kakaniuk Bagikan Masker untuk Warganya

Sedangkan faktor karakteristik petani juga  turut mempengaruhi tingkat kemampuan dan kemandirian petani. Karakteristik petani dapat diperhatikan melalui sikap tanggap atau tidak tanggapnya petani terhadap materi yang diberikan oleh penyuluh. Sementara itu faktor sosial budaya menjadi bagian yang tak terpisakan dalam proses kemandirian petani. Sebab faktor sosial budaya akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat petani. Faktor sosial budaya susungguhnya menjadi faktor pemersatu dan spirit dalam proses mencapai kemampuan dan kemandirian petani.

Pemberdayaan masyarakat petani mengarah pada kemandirian petani. Kemandirian petani menjadi tujuan akhir dari proses pemberdayaan petani.  Petani dapat dikatakan mandiri jika  telah memiliki  tiga aspek kemandirian  yakni: pertama, Kemandirian Intelektual; kedua  Kemandirian Managerial; ketiga,  Kemandirian Material.

Pertama, kemandirian intelektual. Pada kemandirian ini selaku pembina lapangan sifatnya hanya sebagai penyampai baik yang menyangkut anjuran teknis maupun kebijakan pemerintah yang ada, petani sendiri yang bertindak sebagai pengambil keputusan.

Kedua, kemandirian managerial. Kemandirian managerial di sini  petani telah mampu menjalani tugas masing masing. Petani bertindak sebagai manager untuk menjalani usaha dalam bidang pertaniannya.

Ketiga, kemandirian material. Dalam kemandirian material ini  petani telah mampu mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia yang ada di lingkungan.

Mulai dari penentuan dan pengelolaan produk utama yang menjadi pilihan untuk dikelola. Petani pun mandiri dalam pemilihan dan penentuan produk sampingan bahkan pengelolaansampai mampu memasarkan. Sehingga dalam kemandirian ini petani bisa menghitung kebutuhan biaya yang dibutuhkan mulai persiapan sampai  selasai panen.

Ke depan, petani harus lebih mandiri karena fasilitas bantuan pemerintah selama ini sudah mulai dikurangi. Misalnya Bantuan Langsung Benih Unggul sudah tidak gratis, tetapi akan dilakukan dengan sistem subsidi.  Hal ini ditujukan untuk menumbuhkan kemandirian petani dalam berusaha tani. Untuk itu masyarakat petani perlu diberdayakan secara optimal. Pemberdayaan petani perlu menitikberatkan pada sumber daya manusia petani. Sebab dengan sumber daya manusia petani yang baik akan dengan mudah mencapai kemandirian petani dalam aspek intelektual yang akan diikuti dengan kemandirian  managerial.

Dalam kemandirian tercermin makna keberlanjutan dan memiliki kemampuan untuk menjaga sumber daya alam. Kemandirian petani merupakan otonomi petani dalam menimbang dan memutuskan segala sesuatu yang berkenaan dengan petani. Kemandirian petani diraih melalui suatu proses pemberdayaan petani. Petani  sukses dan mampu bersaing dengan pihak luar merupakan salah satu contoh kemandirian petani.

Baca Juga:  Kabupaten Rote Ndao Siap Benahi Data Stunting

Kemandirian petani tidak terlepas dari suatu proses pemberdayaan petani. Kemandirian petani menjadi tolok ukur keberhasilan pemberdayaan petani baik pemberdayaan dalam hal sumber daya manusia maupun keterampilan petani. Dalam kemandirian tercermin makna keberlanjutan dan memiliki kemampuan untuk menjaga sumber daya alam. Kemandirian petani merupakan otonomi petani dalam menimbang dan memutuskan segala sesuatu yang berkenaan dengan petani. Kemandirian petani diraih melalui suatu proses pemberdayaan petani.

Petani  sukses dan mampu bersaing dengan pihak luar merupakan salah satu contoh kemandirian petani. Kemandirian petani tidak terlepas dari suatu proses pemberdayaan petani. Kemandirian petani menjadi tolak ukur keberhasilan pemberdayaan petani baik pemberdayaan dalam hal sumber daya manusia maupun keterampilan petani. Selama pemberdayaan petani belum terarah dengan baik akan berdampak pada kemandirian petani yang akan terus jauh dari harapan. Dan ketika petani belum mandiri maka kesejahteraan petani belum tercapai. (*)

Oleh:  Yoseph Yoneta Motong Wuwur (Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Flores, Ende-NTT)