Untuk Mahasiswa Jangan Hanya Pamer Kecerdasan

oleh -521 views
Boy Zanda (Guru, Penulis, dan Arsitek Debat SMAK Regina Pacis-Bajawa)

OPINI, suluhdesa.com – Mahasiswa adalah orang-orang kritis dan cerdas. Untuk itulah, label agen perubahan layak disematkan pada mereka (mahasiswa).

Sebagai agen perubahan, seharusnya dalam menghadapi setiap ketimpangan sosial, harus dan selalu dahulukan sikap-sikap yang bijaksana. Misalnya, mengajak diskusi ilmiah dengan pemerintah.

Mengapa diskusi ilmiah?

Lewat diskusi ilmiah, di sana pertemuan antara otak dan hati bersatu. Sehingga mahasiswa tidak hanya pamer kecerdasan otak namun tumpul kecerdasan hati. Jika sikap ini dibudayakan maka, saya amat yakin otak dan hati para pengambil kebijakan yang sering beku oleh karena kepentingan politik yang beku pula akan menjadi cair, dan takkan mengganggu ketertiban sosial.

Namun harapan di atas akan tetap menjadi harapan hampa, jika demontrasi selalu menjadi pilihan utama dan terutama dalam menghadapi setiap ketimpangan sosial. Seolah-olah saluran perubahan dan mobilitas sosial itu bisa terjadi, hanya melalui demontrasi.

Baca Juga:  Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (1); Jejak Misionaris SVD di Maghilewa

Padahal, tanpa di sadari demonstrasi justru mau menunjukan bahwa jalan pikiran mahasiswa sedang buntu dan prematur. Selain itu ketertiban sosial juga amat terganggu. Pengerusakan barang sekecil apa pun pasti ada. Polusi udara juga mengikutinya. Bahkan kematian pun dalam penantian.

Mahasiswa mesti sadari itu. Apalagi saat ini kalian hidup pada zaman yang sudah maju. Di mana di hadapan kalian banyak sekali wadah dan tawaran saluran perubahan yang lebih elegan, yang tak harus demo melulu.

Baca Juga:  Kelas Inspirasi Di SDK Malapedho, Arnoldus Wea Ajak Para Siswa Jangan Minder

Janganlah menangkap pencuri dengan mencuri. Begitupula ketimpangan, janganlah dibalas dengan cara yang justru menimbulkan korban. Bersuaralah, tanpa harus memekakan telinga yang tidak harus merasakan kepekakan itu. Apalah artinya sebagai agen perubahan, jikalau menyuarakan kebenaran tapi meninggalkan luka. Apalah artinya juga jikalau usaha menyembuhkan luka itu, tapi menghasilkan luka baru???

Salah satu luka itu adalah terganggunya ketertiban lalu lintas. Yang imbasnya, para pekerja kantoran bisa terlambat dan para pemulung takut untuk memulung, bukan?

Baca Juga:  Cinta Ala Aktivis

Perlu disadari pula, bahwa mengurus negara yang amat besar ini, tidak gampang. Mesti dibutuhkan semangat diskusi dan komunikasi yang intens untuk menuju integritas demokrasi yang kuat.

Oleh; Bonefasius Zanda (Guru dan Arsitek Debat SMAK Regina Pacis Bajawa)