Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (5); Penduduk Kampung Yang Turun Gunung

oleh -746 views
Murid SDK Malapedho - Inerie saat ini

BUDAYA, suluhdesa.com – Sesuai dengan perkembangan penduduk, sejumlah  penduduk dari kampung Maghilewa dan Jere serta kampung Watu dan Leke exodus ke tepi pantai di Malapedho, Kowabu’u, Nagepulu dan Paupaga.

Mereka membuat rumah di pantai. Namun  para orang tua masih tetap tinggal di kampung-kampung itu karena ada kewajiban untuk menjaga kelestarian  warisan leluhurnya berupa rumah adat, Ngadhu, Bhaga, peo dan ornament budaya lainnya. Orang-orang muda mulai exodus ke pantai  sebab  di era 1970-an telah dibuka jalan raya dari ibukota kecamatan Aimere  sampai Ruto  yang merupakan pusat paroki Ruto. Meskipun belum beraspal namun sudah bisa  meretas keterisolasian penduduk.

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/09/21/satu-abad-sdk-inerie-malapedho-4-ketika-para-murid-belum-berseragam/

Di bawah koordinasi kepala desa masing-masing yakni Kepala Desa Inerie  Rofinus Raga dan Kepala Desa Sebowuli Yoseph Maja, pemukiman baru  dibuka di Malapedho bagi masyarakat desa Inerie dan di Pomasule dan Kowabu’u untuk masyarakat kampung Watu sedangkan masyarakat Kampung Leke  di Nagepulu dan Paupaga. Penataan pemukiman dalam bentuk denah memperlihatkan adanya modernisasi  sistem pemukiman.

Dengan turunnya masyarakat ke pesisir pantai maka mau tidak mau  sekolah pun ikut exodus.  Pada tahun 1974  BP-3 dari 4 SDK yakni SDK Ruto, SDK Pali, SDK  Inerie, dan SDK Nunupada melakukan pertemuan dengan Pastor Paroki Santo Martinus Ruto Pater Coen Classens,SVD. Hasil pertemuan itu adalah pembangunan gedung sekolah secara permanen.

Baca Juga:  Komisi Kitab Suci KAK Gelar Katekese Adven Bersama Umat Paroki Assumpta

Disepakati Paroki menyiapkan 90 persen bahan non lokal  seperti semen, seng dan besi beton. Sedangkan BP-3 menyiapkan 10 persen bahan non lokal berupa batu dan pasir,   balok kelapa, balok kayu, bambu dan ijuk serta tenaga untuk mengerjakannya.

Pada tahun 1974 dibawah koordinasi  Kepala Desa Inerie kala itu Rofinus Raga, dimulailah pembangunan gedung SDK Malapedho.

Langkah pertama adalah menyiapkan bahan lokal yang menjadi kewajiban BP-3 sesuai hasil kesepakatan dengan Paroki. Maka masyarakat pun dikerahkan untuk menyiapkan balok dari pohon lontar, batu dan pasir. Saat itu belum ada mesin sensor  sehingga para pria dewasa  harus menggunakan tenaganya untuk mengolah  batang lontar  menjadi balok. Pohon lontar yang dipilih adalah yang tumbuh  di Napumeze. Para perempuan  juga bahu membahu memikul batu dari pinggir pantai  dan mengorek pasir di bibir pantai lalu memikulnya untuk ditumpuk di lokasi SDK Malapedho saat ini.

Baca Juga:  SMPK Sto Yoseph Naikoten Kupang: Utamakan Pendidikan Karakter

Di masa hidupnya Rofinus Raga pernah menuturkan kepada penulis, betapa pembangunan  sebuah gedung sekolah yang mengharuskan  kerja sama tanpa upah. Ketulusan yang masyarakat Inerie tunjukkan telah memberikan keyakinan kepada saya bahwa masyarakat desa Inerie ingin anak-anaknya maju menatap masa depan melalui pintu masuk yakni  pendidikan.

Pembangunan gedung SDK Malapedho rampung pada tahun 1976. Dan sejak tahun pelajaran 1976/1977  para murid mulai bersekolah  di SDK Malapedho. Dan peristiwa itu sekaligus menjadi garis batas sejarah antara SDK Inerie  dengan SDK Malapedho. Kepala sekolah pertama SDK Malapedho  adalah guru Leonardus Nono yang sebelumnya adalah Kepala Sekolah SDK Inerie.

Perjalanan sejarah SDK Malapedho mulai ditorehkan pada tahun 1976. Berpindahnya SDK Inerie ke Malapedho dan berubah nama menjadi SDK Malapedho memancing para orang tua untuk melakukan oxodus ke Malapedho.  Namun masih banyak para orang tua murid yang tinggal di Jere, Maghilewa dan Watu sehingga para murid harus bolak balik pada pagi hari turun ke Malapedho dan usai sekolah mereka kembali ke Maghilewa, Jere dan Watu. Para murid pun ada yang melanjutkan perjalanan mereka ke kebun-kebun karena  kebiasaan para orang tua pada Senin pagi sampai Sabtu sore  tinggal di kebun.

Baca Juga:  90 Tahun Seminari Mataloko, Pemprov NTT Bantu Dana

Dalam rentang waktu 1976  sampai 2019 ini para  kepala sekolah dan para guru silih berganti mengabdikan diri di SDK Malapedho. Kepala sekolah pertama adalah Leonardus Nono mengabdikan diri  sebagai kepala sekolah pada tahun 1976-1977. Setelah guru Leonardus Nono dipindahkan ke Bajawa ia digantikan oleh guru Paulus Nawa, seorang putra  Pali yang sebelumnya mengajar di SDI Aimere. Tahun 1978 ia pun dipindahkan.

Pada rentang tahun 1979 sampai 1989 kepala sekolah SDK Malapedho dipangku oleh Wilhelmus Roja seorang putra dari Kelitey. Wilhelmus  Roja  digantikan oleh Hendrikus Keo yang menjabat kepala sekolah dari tahun 1989 sampai 03 November 2007. Hendrikus Keo mengajar di SDK Inerie sejak tahun 1973 dan pada tahun 1975 diangkat  sebagai pegawai negeri dan ditempatkan di SDK Inerie-SDK Malapedho sampai pensiun tahun 2012. Bersambung……………

Oleh: Agust G Thuru ( Alumni SDK Inerie 1963-1969 )