Marilah Menangis Untuk Rakyat; Terjebak Di Antara Selera dan Kebutuhan

oleh -245 views
Bernadus Gapi, S.E., M. PD. (Redaktur Pelaksana Media suluhdesa.com)

OPINI, suluhdesa.com – Pegiat politik cerdas dalam membaca perkembangan psikologi publik terhadap hajatan politik misalnya Pileg atau Pilkada.

Paling tidak ada dua hal yang diperhatikan, yakni selera dan kebutuhan masyarakat.

Selera yang dimaksudkan di sini adalah kesukaan atau kegembiraan publik untuk memilih tokoh politik tertentu. Ini berkaitan dengan penerimaan publik atas mental, sikap, pembawaan dari seorang figur. Sedangkan Kebutuhan berarti, segala sesuatu yang dibutuhkan masyarakat untuk mencapai kesejahteraan. Dalam kaitannya dengan kegiatan politik, masyarakat menggantungkan kebutuhan mereka pada para pejabat politik untuk menentukan kebijakan yang relevan dan berpihak pada nasip rakyat itu sendiri.

Politisi yang sdh mengenal selera dan kebutuhan masyrakat cendrung memberikan peran yang elegan dan matang. Di balik mental yg matang, sikap yg penuh dgn keramahan, dan pembawaan diri yg baik dan sederhana, politisi juga sanggup menjaga integritas dan meningkatkan kinerjanya dlm jabatan politik guna mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Baca Juga:  Dua Pasang Balon Bupati dan Wakil Bupati Malaka Memenuhi Syarat Kesehatan

Politisi dengan karakter yang demikian akan sanggup meraih kepercayaan publik secara konsisten dan berkelanjutan. Masyarakat pasti cenderung memilih mereka sekali pun ada banyak pilihan lain.

Tetapi penilaian mengenai integritas, kemampuan, dan keberpihakan politisi terhadap kepentingan publik sangat sulit diukur dan memerlukan waktu yang panjang bagi masyarakat. Padahal semua itu bersentuhan langsung dengan kebutuhan rakyat. Berbeda dengan mental, sikap, dan kesederhanaan. Variabel2-variabel tersebut sangat mudah diukur oleh masyarakat dan dicitrakan oleh para politisi.

Sementara itu, publik cenderung memilih karena selera terhadap penampilan ketimbang integritas figur itu sendiri. Pada titik ini figur tentu beramai-ramai berupaya memperbaiki sikap yang lebih dekat dengan rakyat dan penuh kesederhanaan.

Ibarat seekor ikan yang tinggi protein tetapi jika dimasak dengan cara yang salah atau biasa-biasa saja, maka hal itu tidak menjamin seseorang mau makan. Tetapi jika dimasak dengan racikan bumbu yang seimbang dan menarik, tentu memiliki daya tarik bagi siapa pun untuk segera memakannya. Padahal ikan yang disajikan semestinya dimakan guna memenuhi kebutuhan tubuh terhadap protein. Ini berkaitan dengan membangun selera, dan politisi pandai meracik bumbu dengan istilah pencitraan.

Baca Juga:  Kapolda NTT Berkunjung Ke Malaka, Tim Cyber Pantau Akun Palsu

Pertanyaannya adalah, mengapa publik dewasa kini justru sering kali terjebak dengan selera ketimbang kebutuhan mereka terhadap proses dan kehidupan politik?

Publik cendrung memilih dengan alasan pembawaan diri para figur ketimbang melihat konsep, gagasan dan rekam jejak figur. Standar penilaian masyarakat terhadap kepentingan politik diletakan lebih rendah karena mereka sudah kehilangan kepercayaan terhadap urusan politik itu sendiri.

Sejak adanya pemilihan langsung oleh masyarakat sampai sekarang ini, nasip masyarakat tidak mengalami perubahan yang signifikan. Tetapi para politisi yang telah dipercayakan justru sanggup mencapai kesejahteraan diri yang tinggi bila dibandingkan dengan rakyat.

Hal itulah yang mendorong terbentuknya pesimistis rakyat terhadap peran politik para politisi. Kenyataannya masyarakat tetap berdiri di atas kakinya sendiri, memperjuangkan hidupnya tanpa perlu berharap terlalu banyak dari para politisi. Pesta demokrasi menjadi tidak memiliki esensi kecuali sebatas memilih anggota DPR dan pemimpin sehingga roda pemerintahan bisa berjalan dengan stabil dan nyaman.

Baca Juga:  Politikus Bukan Binatang

Dengan iklim yang nyaman tersebut maka kegiatan dan aktifitas hidup serta usaha-usaha perjuangan mereka untuk mendapatkan sesuap nasi bagi keluarga dapat terus berjalan dengan baik, dan pada setiap akhir periode, lima tahun sekali mereka kembali mendapat kunjungan tamu-tamu, baik berwajah lama maupun berwajah baru untuk memberi mereka retorika-retorika hebat dengan modus atas nama dan untuk rakyat. Di titik ini marilah menangis untuk rakyat!

Oleh; Bernadus Gapi (Masyarakat Ngada tinggal di Kupang)