Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (4); Ketika Para Murid Belum Berseragam

oleh -626 views
Lokasi Kampung Maghilewa (Foto Milik Frids W Lado)

BUDAYA, suluhdesa.comMenurut catatan bapak Yoseph Rawi, BA pada tahun pelajaran 1955/1956 dibuka SDK 6 tahun. Maka SRK Maghilewa berubah menjadi SDK Inerie. Mulai 1 Agustus secara resmi dibuka kelas IV sampai kelas VI. Murid-murid kelas III tahun 1954 langsung naik ke kelas IV.

Dari buku  induk SDK Inerie/SDK Malapedho diketahui ibu Elisabeth Odje, putri dari bapak guru Hendrikus Ria  dan istri dari mantan Bupati Ngada Drs. Yoachim Reo adalah angkatan pertama naik kelas IV SDK Inerie. Selain itu  juga tercatat nama almarhum Dominikus Lede yang lulus sebagai angkatan pertama SDK Inerie. Thomas Pea, mantan Kepala Desa Sebowuli  adalah lulusan angkatan kedua era SDK  Inerie  sedangkan mantan Kepala Desa Inerie Adrianus Raga adalah lulusan angkatan ketiga era SDK Inerie.

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/09/19/satu-abad-sdk-inerie-malapedho-3-jejak-sekolah-rakyat-maghilewa/

Di era SDK Inerie 6 Tahun pada 1955 guru Hendrikus Ria yang sebelumnya kepala sekolah SRK 3 tahun  langsung diangkat  sebagai Kepala Sekolah SDK Inerie pada tahun 1955. Di rentang waktu 1955  sampai sampai 1964, para guru silih berganti datang dan pergi  mengabdi di SDK Inerie. Mereka antara lain  guru Thadeus Sola, guru Yoseph Dhey, guru Falens Wangu, guru Aloysius Buru, dan guru Yoseph Rawi.

Pada tahun 1965 terjadi pergantian kepala sekolah. Setelah mengabdikan dirinya selama 23 tahun ia pindah ke Naru Bajawa. Penggantinya adalah guru  Nikolaus Tuda. Guru-guru yang mengajar di rentang waktu 1965 sampai 1970  adalah guru Yoseph Rawi, guru Falens Wangu, guru Yoseph Woi, guru Aloysius Buru, guru Petrus Due. Juga pernah mengajar Rofinus Raga  dan guru Martinus Sogo yang kala itu baru menyelesaikan pendidikan di SPGK Santo Don Bosco Maumere. Juga pernah mengajar bapak guru Yakobus Lasa dan istrinya ibu Fina, Bernabas Abas.

Pada tahun 1971 Kepala Sekolah Dasar Katolik Inerie berpindah dari Nikolaus Tuda kepada Leonardus Nono. Leo Nono adalah putra  kampung Bowejo  Watujaji Bajawa yang merupakan adik kandung dari mantan Bupati Ngada Drs. Yoachim Reo.

Tentang situasi pendidikan  di era Sekolah Dasar Katolik Inerie  dilukiskan Yoseph Rawi, BA  sebagai berikut. Setelah saya diangkat menjadi guru, saya ditempatkan di Menge. Saat itu di Ngada lebih banyak sekolah Katolik daripada sekolah negeri. Tahun 1960  saya dipindahkan ke SDK Inerie.

Baca Juga:  SMPK Kartini Mataloko Komitmen Mengembangkan Bakat Anak Didik

Letak gedung sekolah SDK Inerie adalah di belakang kampung Jere. Ada dua tempat  yakni bagian sebelah atas adalah rumah panjang yang merupakan  rumah guru dengan sekat-sekat untuk setiap guru. Saya ditempatkan di ujung timur  dengan empat kamar  dan sebuah rumah kecil sebagai dapur. 

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/09/18/satu-abad-sdk-inerie-malapedho-2-misi-pertama-di-ngada-selatan/

Kepala sekolah waktu itu adalah Hendrikus Ria almarhum  yang menempati rumah tersendiri dengan halaman yang agar luas. Di depan rumah Kepala Sekolah itu  ada tiang bendera dan lapangan untuk bermain bola dan main voli. Sedangkan gedung untuk belajar terletak di bagian bawah terdapat dua rumah yakni sebuah rumah di bagian timur untuk kelas I sampai kelas IV dan di bagian barat untuk kelas V dan VI.

Keadaan murid saat itu sangat pandai bila saya bandingkan dengan  murid di SDK Menge. Hanya beberapa anak yang bodoh. Murid yang kampungnya dekat dengan sekolah jarang alpa  atau bolos kecuali beberapa murid dari Paupaga dan Nagepulu. Lulusan  pada  ujian negara setiap akhir tahun berkisar antara 70 persen  sampai 80 persen.

Pada waktu itu belum ada pakaian seragam untuk murid. Demikian juga para guru belum ada pakaian dinas dan masih memakai pakaian bebas. Para murid belum mengenal baju dan celana. Yang perempuan memakai kain tenun yang diikat di bhu (kodo) memanjang ke bawah sampai melewati lutut  untuk kelas IV sampai VI. Sedangkan untuk kelas I sampai III  memakai kain memanjang ke bawah sampai di atas lutut. Kalau sedang bermain atau olahraga di halaman  murid kelas I sampai kelas III  masih telanjang bila dibandingkan dengan sekarang semua murid walaupun masih kecil sudah malu bertelanjang.

Murid laki-laki  memakai kain tenun yang diikat di pinggang sampai sebatas lutut. Tidak ada baju dan celana.  Pada hari minggu  anak perempuan memakai kain yakni kodo ledha atau kodod dhewi dan sehelai kain baru yang dipakai berselimut di luar. Laki-laki masih mengikat  kain hanya saja kainnya  diganti dengan yang baru.

Pada era SDK Inerie  rambut anak perempuan  dilepas panjang tidak lagi dikonde  seperti di era Sekolah Desa  dan Sekolah Rakyat. Yang laki-laki rambutnya  dicukur rapi. Pada era SRK rambut laki-laki harus digundul (koi loga) dan perempuan memakai konde (mote) di atas kepala.

Baca Juga:  Peringati BKSN 2019, SMPK St. Arnoldus Oeekam Gelar Perlombaan

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/09/15/satu-abad-sdk-inerie-malapedho-1-jejak-misionaris-svd-di-maghilewa/

Pengalaman penulis tentang situasi murid  pada tahun 1964 sampai 1969 memang merupakan realitas bahwa anak laki-laki tidak memakai baju bahkan tidak memakai celana. Sedangkan anak perempuan memakai kain dengan cara kodo dhewi (diikat di bahu)  sedangkan yang laki-laki  mengikat kain di pinggang. Bagi anak laki-laki kalau bermain bola di depan gereja maka kainnya  dibuka dan ditumpuk mengantikan tiang kiper. Bola yang dimainkan  adalah bola dari daun pisang kering yang dibulatkan sebesar  bola lalu dianyam dengan  tali pisang. Anak-anak perempuan biasanya bermain kasti di samping selatan Gereja Santa Familia Maghilewa.

Soal pakaian para murid  ini, pada tahun 1963 ada murid baru bernama Anus Lede, putra dari bapak Frans Sipa yang pensiunan TNI dan mama Maria Bupu yang kembali ke Watu setelah lama tinggal di Jakarta. Di hari pertama Anus Lede  masuk  sekolah, ia mogok tidak mau masuk kelas karena malu memakai baju dan celana. Di Januari 1964 itu di pintu masuk  sekolah  ada serumpun pisang kepok dan ia duduk di situ  sampai  sekolah selesai. Keesokan harinya ia datang  ke sekolah  dengan memakai kain  sama seperti murid yang lain.

Meskipun kampung Maghilewa, Watu dan Jere terletak dekat dengan sekolah namun para murid mengikuti orangtuanya  yang tinggal di kebun seperti di Bonio, Bobai, Gako, Wolowatu, Waeguru, Waesewa, Waewete, Leke, Dokokia dan lain-lain. Jadi setiap pagi para murid itu harus menempuh perjalanan  antara lima sampai 10 kilometer  untuk sampai di sekolah.

Demikian juga usai sekolah mereka akan menempuh jalan yang sama mengikuti orang tua yang tinggal di kebun-kebun. Para murid dari kampung Leke akan menempuh perjalanan sepanjang 10 kilometer dan pulang sekolah juga menempuh jarak yang sama. Jadi setiap hari  mereka harus menempuh perjalanan pergi dan pulang sepanjang 20 kilometer.

Para murid juga diwajibkan membawa bekal. Biasanya istirahat pertama para murid duduk berderet  di depan sekolah untuk makan bekal yang mereka bawa. Selain bekal, mereka juga harus membawa air yang disimpan pada seruas  bambu untuk guru kelasnya. Selain air, juga membawa seikat kayu bakar. Di musim kerja kebun para guru kelas  terutama  guru kelas IV sampai VI memanfaatkan tenaga para murid untuk mengerjakan kebunnya atau memanen jagung dan padi. Di musim kerja kebun kacang hijau (pebu  sobho)  murid-murid kelas IV dan VI biasanya turun ke tepi pantai  sebab kebun kacang hijau harus di tepi pantai.  Para murid  senang  karena  kesempatan itu dimanfaatkan untuk berenang di laut terutama di pantai Waesugi.

Baca Juga:  Keuskupan Denpasar Tuan Rumah Lokakarya Produksi Radio Pewartaan Katolik

Meskipun para guru sering memanfaatkan tenaga murid untuk mengerjakan kebun miliknya namun  tidak pernah terjadi para orang tua  melakukan protes. Bahkan orang tua  bangga karena  anak-anaknya  bisa membantu para guru. Pendidikan  yang keras untuk meningkatkan kedisiplinan pun dilakukan oleh para guru. Para murid yang nakal pasti dipukul dengan mistar yang dibuat dari bilah bambu (wi’i bheto). Bahkan murid yang bodoh pun dipukul dengan rotan. Tetapi para guru tahu daerah mana yang boleh dipukul dan mana yang tidak boleh. Para guru pasti tidak akan memukul para muridnya di kepala. Para orang tua pun  tidak memrotes  ketika  para murid pulang ke rumah dengan membawa bekas pukulan di betis (bala moe nipa lala). Tetapi ketika guru memukul anaknya  di kepala, para orang tua akan marah.

Sebuah peristiwa  perlu dicatat pula. Pada tahun 1969 saat para murid berbaris di depan kelas, tiba-tiba saja  terjadi kegelapan. Hujan abu pun melanda  sekolah. Suasana  menjadi  gelap total. Para guru dan para murid tidak mengetahui apa yang telah terjadi. Para guru memerintahkan para murid  untuk kembali ke rumah masing-masing. Murid-murid dari  Watu, Leke, Bonio mengikuti teman-temannya  yang rumahnya  di Jere  dan Maghilewa. Karena terjadi kegelapan total ayam-ayam pun bertengger  di pohon layaknya pada malam hari. Lalu ketika situasinya mulai terang  ayam-ayam juga berkokok layaknya  pagi hari (manu kako).

Esoknya para murid datang ke sekolah. Atap  sekolah  dari alang-alang penuh dengan  debu. Halaman sekolah  juga penuh debu. Kebun masyarakat  dengan tanaman padi dan jagung serta tanaman lainnya rusak. Atap rumah  adat di kampung Jere, Maghilewa, Watu dan Leke pun penuh ditutupi  debu tanah. Namun atap-atap rumah adat itu tidak roboh. Arsitektur  warisan leluhur ternyata  sangat  kuat menahan beban debu vulkanik  yang ternyata dimuntahkan dari Gunung Iya  di Ende yang mengalami erupsi. Bersambung……..

Oleh: Agust G Thuru ( Alumni SDK Inerie 1963-1969 )