Sangat Mudah Proses Pembentukan Budi Pekerti Lewat Desa Layak Anak

oleh -580 views
Keceriaan anak-anak yang bermain di taman dan berinteraksi dengan orang tua dan tetangga

SLEMAN, suluhdesa.com – “Anak itu, akan menjadi apa nantinya ya tergantung orang tua mereka. Maka dari itu, ayo bapak ibu satukan hati lindungi anak kita, ketahui hak-haknya, ajak mereka belajar bersama dan bermain di luar rumah.”

Kalimat tersebut sering kali dilontarkan oleh Ketua Rukun Warga (RW) 18 Leles, Desa Condongcatur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Ijan Trisnoharjono ketika mengunjungi tetangga-tetangganya.

Dari langkah awal tersebut, terbukti ketika para wartawan Media Trip Kota Layak Anak (KLA) 2019 mengunjungi RW tersebut pada Rabu (18/9/2019), disambut dengan kehangatan dan keceriaan anak-anak yang bermain di taman dan berinteraksi dengan orang tua dan tetangga, yang juga merupakan anggota Satuan Petugas Perlindungan Perempuan dan Anak (Satgas PPA) RW 18 Leles.

“Kami merasa salut dengan perkembangan desa dan RW ini. Selama ini, pemerintah hanya berperan memberi motivasi saja. Perkembangan yang pesat terjadi karena kesadaran warganya yang begitu tinggi. Oleh karenanya, pemerintah daerah mulai mendukung dengan mendorong terbentuknya Satgas PPA agar fungsi RW Layak Anak dapat berjalan dengan baik. Menurut kami, desa atau RW Layak Anak merupakan penanaman budi pekerti. Melalui Desa atau RW Layak Anak, sebenarnya penanaman budi pekerti kepada anak menjadi lebih mudah dilakukan,” tutur Kepala Desa Condongcatur, Reno Chandar Sangaji.

Baca Juga:  Ketum PPWI: Dewan Pers Ibarat Kambing Bandot yang Sedang Birahi

Ketua RW 18 Leles, Ijan Trisnoharjono menceritakan bahwa RW 18 Leles telah menerapkan Jam Bermain Anak-anak pada pukul 15.30 – 17.00 WIB, Jam Belajar Masyarakat, serta kegiatan di Mushala.

“Ketika pukul 15.30 WIB, kami menutup jalan di sekitar RW kami dengan portal agar anak-anak bisa bebas bermain. Hal ini kami lakukan karena awalnya kami melihat tingginya kenakalan remaja dan banyaknya anak yang bermain gawai di lingkungan kami. Dengan adanya Jam bermain anak dan kegiatan mengaji di Mushala setiap Hari Selasa dan Kamis, anak – anak lebih pandai bersosialisasi, tanggung jawab, dan nilai akademiknya meningkat,” cerita Ijan.

“KLA akan terwujud jika didukung kecamatan dan kelurahan layak anak, bahkan RW lebih baik, apalagi jika RT. Kabupaten Sleman juga telah berupaya untuk memenuhi 24 indikator KLA. Minimal, RW mereka saja telah mencerminkan RW menuju Layak anak. Hal ini membuktikan bahwa Kabupaten Sleman layak meraih KLA kategori Nindya. Para perangkat daerah juga paham betul semua program dan teknis terkait perlindungan dan tumbuh kembang anak. Ke depan, unsur Gugus Tugas KLA yang terdiri dari perangkat desa, lembaga masyarakat, dan dunia usaha harus bisa lebih saling bersinergi. Dengan begitu kami yakin, Kabupaten Sleman bisa meraih peringkat KLA,” ujar Deputi Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Lenny N Rosalin.

Baca Juga:  Kuasa Hukum Wartawan Sergap; Klien Kami Tidak Mencemarkan Nama Atau Memfitnah

Kecamatan Depok itu sendiri, juga telah meraih predikat Kecamatan Layak Anak (KELANA). Kecamatan ini sangat mendukung dan memberikan wadah bagi kegiatan anak – anak. Selain sediakan taman bagi anak – anak, kecamatan ini juga sediakan 2 gedung yang rutin digunakan untuk kegiatan pramuka dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Kecamatan Depok telah membentuk dan mendukung Forum Anak Kecamatan yang dilibatkan dalam musrenbang. Secara rutin, Kecamatan Depok mendukung dan fasilitasi kegiatan penyuluhan narkoba, evaluasi jam belajar masyarakat, dan Kemah Budaya. Kegiatan Kemah Budaya diselenggarkan agar anak – anak mau melestarikan Budaya Jawa. Kegiatan tersebut seperti berpidato Bahasa Bawa, menjadi pembawa acara Berbahasa Jawa, dan membuat anyaman tradisional.

Baca Juga:  SMSI Bekasi Raya Bagikan APD untuk Para Wartawan Melalui IWO Kabupaten Bekasi

Setelah mengunjungi RW 18 Leles, para wartawan menuju Pusat Kreativitas Anak (PKA) Sanggar Memetri Wiji. Para wartawan itu disambut oleh Tembang Mijil Pandugo yang dinyanyikan anak-anak sanggar. Ternyata, Sanggar Memetri Wiji merupakan pusat kreativitas dan pelestari Budaya Jawa bagi anak-anak. Selain belajar tembang jawa, anak – anak juga belajar Bahasa Jawa Halus, menulis aksara Jawa, dan tata krama jawa.

“Sanggar Memetri Wiji lahir karena adanya keresahan para orang tua sekitar karena pemahaman tentang budaya dan tata krama jawa pada anak – anak semakin menurun. Akhirnya saya dan keluarga berinisiatif untuk mendirikan sanggar ini. Kami mendapatkan kepuasan batin ketika mendidik dan berbagi ilmu terkait Budaya Jawa kepada anak – anak kita,” tutur pendiri Memetri Wiji, Tri Joko Saptono.

Setelah mengunjungi RW 18 Leles dan Sanggar Memetri Wiji, semua wartawan menuju Sekolah predikat Sekolah Ramah Anak, SMPN 2 Pakem. Di sekolah tersebut, para murid bebas mendesain dan mengkreasikan kelasnya sendiri. Hal ini agar para murid tidak hanya cerdas secara intelektual, namun juga cerdas secara budaya.

Selain kunjungi SMPN 2 Pakem, para wartawan juga kunjungi Sekolah Pintar. Sekolah Pintar merupakan sekolah informal atau sekolah karakter. Di sekolah ini, anak – anak bebas menyumbangkan ide dan inovasi. Saat ini, ide mereka adalah menyelamatkan dunia, sehingga mereka berinovasi untuk membuat sedotan dari bambu untuk mengurangi sampah plastik. (vrg/vrg)