Eks Suster Jadi Eks Pacarku

oleh -898 views
Yohan Lejap (Penikmat Sastra)

SASTRA, suluhdesa.com – Pagi yang biasanya ramai dengan omelan kini sepi karena sudah menjadi beda-beda tak berbekas. Kelas-kelas di dalam alam memori sedang berbicara rindu-rindu yang sebenarnya sudah rapuh dimakan jejak waktu. Sudah lebih dari sebulan, perempuan itu sudah tak meraungkan suara desahan napasnya yang panjang di telingaku.

Ia pasti sudah tenang dalam mimpi-mimpinya yang baru dan lebih gemilang. Sungguh perempuan itu lucu, ia sampai meneguk habis sisa-sisa kopi di bibir atasku dan juga bibir bawahku. Perlahan dalam genangan kopi di dalam mulutnya ia mengucapkan kata-kata yang tidak mungkin aku lupa.

“Kopi itu bisa membiusmu dalam ingatan dan menerjang dirimu dalam perasan dan pesan-pesan yang akan kau kirimkan padaku”

“Manis sekali ucapanmu, tetapi bagaimana itu akan terjadi? Kita baru sekali bertemu itu pun karena tatapan pertama yang tak disengaja.”

“Kopi itu racun manis dan bibirku penawarnya yang akan merapalkan kalimat sakral cinta dan rindu di bibirmu setiap detiknya.”

Memang ia benar. Setelah pertemuan itu bayangannya bak candu yang memanggil-manggil rindu itu bersarang dalam benakku. Kami bertemu dan saling bertukar foto lewat whatsApp. ia sering melambaikan ciuman yang cukup lama apalagi kalau sudah beretemu pelukannya membekas di tubuhku. Saya bercumbu dengannya setiap malam jumat di perempatan kota tua. Dia bilang di situ tidak ada setan atau manusia yang  mengusik. Kalau melihat dirinya darahku bercampur menjadi lelehan keringat dingin yang sejuk.

“Mengapa kau sering menciumku. Bukankah kau sudah memeras habis semua sisa dari bibirku” tanyaku datar

“Ciuman itu bahasa tubuh yang paling sempurna. Apalagi kalau bibir sudah basah. Kita bisa berdoa bersama sambil berciuman. Mungkin dengan itu Tuhan bingung membaca bibir mana yang berdoa”. Dia menjawab dengan sedikit tenang dan bibirnya meliuk-liuk dan melipat ke dalam mulutnya.

“Sepertinya kau tahu baik urusan agama dan Tuhan. Ada apa? Kau mulai menaifkan semua dosa kita dalam Tuhan”.

Baca Juga:  Wakil Walikota Surabaya, Hadiri Acara Natal di Gereja St. Aloysius Gonzaga-Surabaya

Ia mulai terlihat sedikit tak tenang. Ia memelukku dan bermain-main dengan bibirku. Tanganya lembut seperti nyala lilin di atas perjamuan suci.  Bibirnya memang nikmat seperti anggur musim semi di mana bulan kawin dengan bintang dan selingkuh dengan matahari.

“Aku tahu. Tuhan bisa bingung dengan diriku yang pernah menjejaki hidup berkerudung dan terkurung tetapi sekarang aku seperti perempuan Samaria di sumur Yakub yang selalu mencoba mencari air kehidupan. Air kehidupan yang akan kukecap dengan bibirku. Aku merasakan setiap bibir laki-laki yang kutemui tetapi hanya bibirmu yang sejuk dalam dahagaku. Kopi itu hanya medan bibir yang merangkak naik merasuk masuk dalam doa bibir kita berdua. Tak tahu mengapa, malam itu kau merona dan bercahaya seperti malaikat yang lepas dari barisan surgawi. Aku ingin berada dalam doamu dan nyanyianmu. Biarkan aku tinggal dan merasakan warisan air kehidupan di bibirmu sebab jika tidak perziarahanku menjadi sia-sia”.  Jawabannya diiringi dengan tangisan yang membuat malam jumat itu lebih keramat dari namanya “Malam Jumat”.

Aku tersentak ketika tahu dia adalah eks Biarawati yang sudah sekian tahun mengabdi hidup dalam biara. Aku menghapus jejak air matanya dan menciumnya sampai air mata di pipinya habis seketika.

“Dikau, wanita bola mata indah. Harum doamu tercium dari bibirmu yang saban hari mangucap doa syukur. Tenanglah, kau takkan hanyut ataupun raib dari genggamanku. Kau akan selalu memiliki bibir ini jika kau mau. Kau juga akan selalu menikmati hati ini jika kau bersedia. Aku juga seorang pengembara yang mencari bibir beriman walau hanya sebesar biji sesawi saja.

Baca Juga:  Komisi Kitab Suci KAK Selenggarakan Talkshow Kitab Suci di Paroki Naikoten

Aku akan langsung melamarmu dalam doa “Bapa Kami” dan meminangmu dalam salam hati tersuci “salam Maria” semoga kita dimuliakan dalam doa “Kemuliaan”. Aku dulunya seorang Frater yang manja dan doyan meraba buku doa malam-malam. Sampai akhirnya aku merasa bahwa Tuhan tak menghendaki jalan itu. Sudahlah kau tak sendiri.

Ia tersontak kaget dan melepaskan tubuhnya daripada tubuhku. Ia berlari kencang dan menghilang seketika. Ia disembunyikan malam bersama bayang-banyang yang sudah suram. Aku sudah kehilangan jejaknya karena bercak-bercak lampu begitu hebat. Sayang, dia sudah hilang menjadi bayang-bayang yang akan mengusikku dalam setiap tidur. Sungguh bayangnya sempurna dan basah di atas kening dan bening dalam mimpiku. Eks suster yang pandai menunaikan ibadat ciuman. Dalam setiap doa, aku masih merasakan tangan lembutnya selembut lenan membelai bibirku.

***********************************************

Waktu memang kadang gila dan lagi-lagi menjadi sendu di atas sendi-sendi sepi sendiri. Malam sudah menjadi tawar dan warta-warta suaranya kudengar di denyut nadiku sedang bermain rindu. Mungkin, ia sedang berdoa menarik semua hasrat bibirnya daripadaku dan sedang bernyanyi lagu pujian agar kata-kata rindunya binasa dari telingaku. Salamku padanya akan sama seperti hamba Tuhan lainnya tetapi rinduku padanya bahkan melebihi doa di alam mimpi. Aku tak pernah tahu alasan wanita sebening dirinya punya perasaan keras yang membuatku main banting dengan batinku.

Baca Juga:  Kerja Sama NU dan LDD KAJ di Tengah Pandemi Covid-19; Perwujudan Nilai Pancasila

Wanita senyummu saja melelehkan debur-debur bisu yang aku simpan sepanjang hariku. Kami tibah-tibah bertemu di malam hujan di depan kapela adorasi. Dia sudah lebih cantik dan tegar sehingga mampu menantapku dalam dua menit dan setelah itu raib. Mulai malam itu, aku menunggunya hanya untuk memastikan apakah ia sudah mendapatkan bibir lain yang menyimpan air kehidupan. Dua minggu aku menunggunya aku sakit batin dalam dua minggu. Doa-doaku menjadi memar dan berkaca-kaca dalam air mata. Wanita engkau membuatku meradang rindu.

Hari itu aku bangun dan menatap matahari pagi. Tibah-tibah bayangnya muncul dan mulai bergantian dengan matahari mengucapkan salam. Ia sudah seperti langit dalam setiap hembusan angin yang berbusana bahasa sedih. Tubuh utuhnya kemudian muncul dan mulai tersenyum dan berkata padaku.

“Hay, apa kabarmu? Sudah lama kita tak bertemu dan bercumbu mesra. Aku yakin kau rindu diriku” ia tersenyum lebar

“Ada rindu yang dibingkai dalam doa buat dirimu. Ada doa bibir yang sepi sendiri menahan setiap desahan hati dan desakan batin. Mengapa kau datang hanya sekejap dan menghilang sangat lama”. Nadaku kasar karena jiwa dan ragaku tak tenang tanpa hadirnya.

“Aku akan menikah minggu depan. Datanglah jika kau sempat. Hari ini biarkan rindumu lepas dan doamu menjadi sekedar rintihan malam dingin saja. Mari rebahkan tubuhmu di atas pangkuanku. Akan kuceritakan padamu tentang ridu yang menyiksa dan cinta yang menusuk sukmaku. Sungguh aku merintih sakit. Aku terpaksa melepaskanmu karena kau mengingatkanku pada mantan kekasihku dahulu. Ia juga seorang eks Frater. Aku hanya tak mau menjadi perempuan yang hanya menyimpan luka dan duka sepanjang hayat. Ada ayat-ayat dalam hidupku yang harus kuhapus. Maafkan aku”. Tangisannya membuat rewel matahari dan dinding langit.

“Aku juga hanya ingin bilang padamu. Semoga cinta tak menghantarkanmu ke gerbang dusta dan derita”. Sekian.

Oleh; Yohan Lejap (seorang eks Frater yang selalu merindukan Tuhan)