Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (3); Jejak Sekolah Rakyat Maghilewa

oleh -638 views
Lokasi Kampung Maghilewa (Foto Milik Frids W Lado)

BUDAYA, suluhdesa.com – Sejarah pendidikan  di Kabupaten Ngada dan Nagekeo  dimulai pada 1 Agustus 1912  yang ditandai dengan berdirinya Sekolah Rakyat Katolik (SRK)  Bajawa  yang saat ini dikenal sebagai SDK Tanalodu dan  1 Agustus 1913  berdiri SRK Boawae yang kini masuk wilayah Kabupaten Nagekeo.

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/09/15/satu-abad-sdk-inerie-malapedho-1-jejak-misionaris-svd-di-maghilewa/

Pendidikan anak pribumi mulai mendapat perhatian  setelah pelaksanaan cultuurstelsel atau tanam paksa (1830)  yang sangat menyengsarakan rakyat dan mengundang kecaman  dari sebagian kalangan bangsa Belanda sendiri.

Dalam buku kenangan satu abad Persekolahan Katolik Menjadi  Garam dan Terang yang editornya  Rm. Daniel Y Aka, Pr dan Drs. Domi Mere Wea halaman 25  tertulis: Pada tahun 1899 Caanrad van Deventer  menulis dalam majalah “de Gids” artikel Eeen Eere Schuld atau Hutang Budi yang menggambarkan bagaimana sesungguhnya bangsa Belanda berhutang budi kepada rakyat pribumi akibat tanam paksa dan  secara etis pemerintah Belanda  berkewajiban  membalasnya  dengan memajukan pertanian rakyat, transmigrasi dan pendidikan rakyat pribumi yang dikenal dengan Trias van Deventer.

Gagasan ini kemudian menjadi kebijakan resmi Pemerintah Belanda yang dikenal dengan Politik Etis.

Gubernur Jenderal J. B. van Heutz (1904-1909) memberikan perhatian pada peningkatan pendidikan rakyat pribumi dengan memperkenalkan Desaschool atau Sekolah Desa (Volkschool)  atau Sekolah Rakyat 3 tahun.

Sekolah pertama pun didirikan di wilayah  Orderafdeling Ngada yang meliputi  Ngada, Nage, Keo dan Riung yakni SRK Bajawa pada 1 Agustus 1912. Menyusul pada 1 Agustus 1913 berdiri SRK Boawae. Tanggal 1 Agustus 1914 berdiri SRK  Kotakeo. Lalu pada 1 Agustus 1919  berdiri dua SRK yakni SRK Maghilewa dan SRK Soa.

SRK Maghilewa yang berdiri pada 1 Agustus 1919 itu  berkembang menjadi SRK Inerie  pada tahun 1954 dan kini dikenal sebagai SDK Malapedho. Berdasarkan  catatan sejarah SDK Malapedho  pernah menapaki  perjalanan  sejarahnya  mulai dari lereng gunung Inerie  sampai di tepi pantai Malapedho. Sekolah Rakyat  ini merupakan sekolah pertama di wilayah Ngada selatan khususnya  wilayah  dari Delawawi/Sewowoto  sampai wilayah Combos/Teni-Lopijo.

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/09/18/satu-abad-sdk-inerie-malapedho-2-misi-pertama-di-ngada-selatan/

Sejarah mencatat pada 1 Agustus 1919 berdiri sebuah Sekolah Rakyat Katolik (SRK) 3 tahun di Maghilewa. Budayawan Ngada Yoseph Rawi, BA yang juga  alumni SRK Maghilewa angkatan 1944  dalam  catatannya  tentang “Sekolah Desa Maghilewa” menyebutkan bahwa  salah satu murid pertama SRK Maghilewa  antara lain  Bartolomeus Pati Rawi yang di masa hidupnya pernah mewariskan kisahnya kepada anaknya yakni Yoseph Rawi itu sendiri.

Yoseph Rawi  menulis dalam catatannya itu: Sekolah ini didirikan oleh pastor-pastor Belanda  serta  mendirikan gedung  gereja dalam rangka menyebarkan  agama katolik. Tukang-tukang yang membangun gereja berasal dari Maumere. Mereka juga membangun gedung sekolah. Gedung  sekolah itu menampung  para murid  dari Maghilewa, Jere, Bonio, Watu, Leke, Paupaga, Nagepulu, Pali, Ruto dan Foa.

Pada awal mula berdiri, SRK Maghilewa  tidak dimaksudkan untuk  anak 7 atau 8 tahun melainkan untuk orang-orang muda.  Bartolomeus Pati Rawi di masa hidupnya pernah menuturkan, murid-murid yang berasal dari Watu, Jere dan Foa  datang ke sekolah  setelah menyadap moke. Jadi pelajaran dimulai kira-kira jam 09.00 pagi atau jam 10.00 pagi.

Dikisahkan Pati Rawi kepada Yoseph Rawi, bahwa beberapa murid yang gemar berjudi  setelah selesai sekolah  mereka bermain judi bersama guru. Begitulah murid-murid itu dimanjakan  agar minat bersekolah  tidak kendur. Sedangkan mereka yang tidak bersekolah sampai pada usia setengah tua belajar agama katolik setiap hari Sabtu di depan Gereja Maghilewa.

Baca Juga:  Uskup Larantuka Tahbiskan Tujuh Imam SVD: Melayani Umat adalah Kewajiban

Siapa yang mendirikan bangunan SRK Maghilewa?  Budayawan Ngada Yoseph Rawi menulis dalam catatan “Awal Berdirinya Sekolah Desa Maghilewa” bahwa  Sekolah Desa atau Sekolah Rakyat  Maghilewa mula-mula didirikan pastor-pastor Belanda dengan maksud utama mereka adalah menyebarkan agama katolik  sehingga selain mendirikan bangunan sekolah mereka juga membangun gedung Gereja Maghilewa. Dari sekolah itulah sesungguhnya pewartaan Injil bertumbuh dan agama Katholik mulai berkembang di Maghilewa, Jere, Bo Nio, Watu, Leke, Paupaga, Nagepulu, Ruto, Pali, Kelitei bahkan sampai Foa. Juga Delawawi dan Combos Lopijo.

Tukang-tukang yang mendirikan gedung sekolah dua ruang kelas serta dua rumah guru dan gereja adalah tukang-tukang yang berasal dari Maumere. Setelah gedung sekolah dan rumah guru serta gedung gereja  selesai dibangun dua orang tukang yang telah menamatkan  kelas V Sekolah Desa di Lela  langsung diangkat menjadi guru  di Sekolah Rakyat Maghilewa.

Jaman itu Sekolah Rakyat belum ada kelas IV sampai VI. Yang menjadi Kepala Sekolah SRK Maghilewa  adalah  guru Mbia Parera. Antonia Bhoki mengatakan seorang guru bantu  adalah Y. Besenti yang kemudian menggantikan guru Mbia Parera  sebagai kepala sekolah. Penuturan Antonia Bhoki mendekati kebenaran karena antara 1928-1932 saat  Pater Leo van Well, SVD melayani umat Stasi Santa Familia Maghilewa ia selalu dibantu oleh para guru antara lain guru Y.Besenti, guru Aloysius Roja dan sejumlah rasul awam lainnya.

Dari penuturan ini  dapatlah  diketahui jejak sejarah bahwa Sekolah Rakyat Maghilewa  didirikan oleh misonaris SVD sedangkan bangunan sekolah  dibangun oleh  tukang-tukang dari Maumere. Sedangkan kepala sekolah pertama  SRK Maghilewa adalah guru Mbia Parera.

Bangunan gedung SRK yang  dibangun tahun 1919  bertahan  sampai  sekolah ini pindah ke Malapedho secara efektif pada tahun pelajaran 1976/1977. Struktur bangunan sekolah itu  terdiri dari tiang-tiang dari pohon lontar, dinding dari gedek dan pelupu  sedangkan atapnya dari alang-alang. Lantai tanah  yang berdebu.

Bahan pelajaran yang diajarkan di SRK Maghilewa  waktu itu adalah Bahasa Melayu yang kemudian menjadi Bahasa Indonesia, membaca, menulis dan berhitung. Sedangkan yang paling penting  adalah  pelajaran agama Katolik seperti doa-doa Bapa Kami, Salam Maria, Doa Tobat, Doa Malam, Doa Pagi dan doa-doa misa serta lagu-lagu gereja. Pastor-pastor Belanda sangat cepat menguasai Bahasa Ngadha atau Bahasa Bajawa sehingga dengan cepat  pula doa-doa dan lagu-lagu gereja digubah menjadi doa-doa dan lagu-lagu dalam Bahasa  Ngadha. Buku Sura Ngasi dan Sura Mebho adalah himpunan  doa dan lagu dalam Bahasa daerah Bajawa yang mampu menggugah umat untuk menghayati Injil.

Banyak tamatan SRK Maghilewa 3 Tahun angkatan pertama diangkat menjadi guru-guru agama di kampung-kampung di Maghilewa, Jere, Watu, Leke, Ruto, Pali, Kelitei dan Foa. Bahkan  ada tamatan  yang dipandang pandai diutus ke kampung lain untuk menjadi guru agama. Misalnya Wea Lado yang adalah ayah dari Drs. Kornelis Dopo menjadi guru agama di kampung Boua dan kemudian dipindahkan ke kampung Gurusina, Jerebuu. Kornelis Ngamo Nua ayah dari guru Paulus Sebo dan nenek dari  Pater Hironimus Bengu, SVD (almarhum)  diangkat menjadi guru agama di Kampung Watu lalu dipindahkan ke kampung Kelitei. Ia pun menikah dengan perempuan dari Kelitei. Di masa tua ia kembali  tinggal di kampung Watu. Karena itu Pater Hironimus Bengu, SVD  juga mengadakan misa di Kampung Watu setelah ia ditahbiskan  menjadi imam pada 21 Juli 1984 dari tangan Mgr. Donatus Djagom,SVD.

Baca Juga:  Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (1); Jejak Misionaris SVD di Maghilewa

Di masa awal perkenalan agama Katolik oleh para misionaris SVD  pelajaran agama Katolik  dilaksanakan setiap hari Sabtu di depan Gereja Santa Familia Maghilewa. Namun setelah  SRK Maghilewa menghasilkan  sumber daya manusia  angkatan pertama, para misionaris pun memikirkan untuk membangun  rumah agama di kampung-kampung. Di rumah agama itulah pelajaran agama Katolik  dilangsungkan. Dengan demikian di kampung-kampung  selain terdapat monumen adat seperti Ngadhu dan Bhaga, Peo, watu lanu (menhir) dan nabe (dolmen) juga terdapat bangunan rumah agama. Keberadaan rumah agama ini  bahkan bertahan sampai tahun 1970-an  sebelum  masyarakat kampung melakukan exodus besar-besaran ke tepi pantai di Malapedho, Kowabuu, Nagepulu dan Paupaga.

Jika dihitung dari 1 Agustus 1919 sampai 1955  sebelum SRK Maghilewa  berubah nama menjadi Sekolah Rakyat Katolik Inerie  6 Tahun, SRK Maghilewa telah  mendidik 37 angkatan. Kepala sekolah pertama adalah guru Mbia Parera yang mengabdikan diri di SRK Maghilewa sejak 1 Agustus  1919.

Tidak ada sumber  atau referensi  yang bisa menjelaskan  bahwa Guru Mbia Parera  mengabdikan diri  di SRK Maghilewa  selama berapa tahun. Saksi sejarah yang secara langsung mengalami pendidikan SRK Maghilewa antara tahun 1919  sampai 1930 telah meninggal dunia. Namun menurut Antonia Bhoki, yang menggantikan Guru Mbia Parera  sebagai kepala sekolah adalah guru Y. Besenti. Pada tahun 1936 disebutkan bahwa beberapa guru sangat berperan dalam pewartaan Injil yakni Kristianus Nau, Yohanes Maksi, Petrus Pedro, Guru Sama, Bruno Nua dan Maks Nua.

Menurut Antonia Bhoki dirinya masuk Sekolah Rakyat Katolik Maghilewa pada tahun 1934  sampai 1937 selama tiga tahun. Ia ingat betul bahwa saat itu kepala sekolah adalah Guru Besenti  asal Maumere sedangkan guru  bantu adalah guru Kristianus Nau dan guru Aloysius Ade. Guru Besenti meggantikan Guru Mbia Parera yang juga dari Maumere.

Menurut Lukas Ngoe, saat ia duduk di kelas III SRK Maghilewa pada tahun 1942 , saat itu Jepang masuk. Jadi ia masuk kelas I pada tahun 1939. Saat itu Kepala Sekolah SRK Maghilewa  adalah guru Aloysius Roja sedangkan guru bantu adalah  guru Hendrikus Ria dan guru Aloysius Ade. Martina Moi  menjelaskan bahwa  dirinya  masuk di kelas I SRK Maghilewa pada tahun 1947  sampai 1950. Saat itu kepala sekolahnya adalah Hendrikus Ria  sedangkan guru bantu  adalah guru Andreas Rato dan guru Yoseph Dou.

Bapak Nikolaus Beo menjelaskan  dirinya masuk SRK Maghilewa pada tahun 1941 dan kepala sekolahnya adalah guru Aloysius Roja. Tahun 1942  guru Aloysius Roja pindah ke Langa  dan ia digantikan oleh guru Hendrikus Ria sebagai kepala sekolah.

Menurut Kobus Nongo dirinya masuk kelas I SRK Maghilewa pada tahun 1941. Ia ingat bahwa yang mengajar di kelas I adalah guru Kristianus Nau yang saat itu menjabat Kepala Sekolah, mengajar di kelas II guru Aloysius Roja dan mengajar di kelas III guru Aloysius Ade. Tahun 1941  juga Guru Kristianus Nau pindah ke Langa dan  guru Aloysius  Roja  diangkat menjadi Kepala Sekolah.

Baca Juga:  Viktor dan Jos; STFK Ledalero Harus Menjadikan SDM Orang NTT Berkarakter

Paulus Bhara, mantan Kepala Desa Inerie 1978-1986  mengaku dirinya masuk kelas I SRK Maghilewa  pada tahun 1945 dan tamat tahun 1948. Di masa itu yang menjadi kepala sekolah adalah guru Aloysius Roja  dengan guru bantu adalah guru  Aloysius Ade.

Menurut Nikolus Gapi, putra Maghilewa  yang mengenyam pendidikan  di SRK Maghilewa  angkatan 1941 bahwa yang pernah menjadi kepala sekolah SRK Maghilewa adalah guru Kristianus Nau lalu digantikan oleh guru Aloysius Roja. Sedangkan guru bantu guru Aloysius Ade. Sedangkan Niko Gapi mengaku berteman kelas dengan Kobus Nongo, Lukas Ngoe, Elisabet Ega  yang masih hidup saat ini. Seingat Niko,  sebagian besar teman kelas satu angkatan telah meninggal dunia.

Menurut Yoseph Rawi,BA, alumni SRK Maghilewa  masuk kelas I tahun 1944  saat  itu yang menjabat sebagai kepala sekolah adalah guru Aloysius Roja  dengan guru bantunya  guru Moses Wedho.

Dari penelusuran terhadap saksi sejarah yang masih hidup serta mencermati kesaksian yang mereka  berikan  maka dapat disimpulkan  bahwa  kepala sekolah SRK Maghilewa 3 Tahun  adalah guru Mbia Parera  kemudian digantikan oleh guru Besenti.

Guru Besenti digantikan oleh guru Kristianus Nau dan setelah ia pindah ke Langa digantikan oleh guru Aloysius Roja. Aloysius Roja lalu digantikan oleh guru Hendrikus Ria atau yang lebih popular dengan nama Guru Ria. Guru Hendrikus Ria  mulai mengajar di SRK Maghilewa pada tahun 1941  dan setelah guru Aloysius Roja pindah ke Langa pada tahun 1942  ia diangkat menjadi kepala sekolah. Jabatan kepala sekolah itu  dipangku sampai tahun 1965. Jadi Hendrikus Ria  mengabdikan diri di SRK Maghilewa selama 23 tahun.

Yoseph Rawi, BA memberikan kesaksian bahwa nama  pada masa awal berdiri nama sekolah adalah Sekolah Desa Maghilewa kemudian  diganti menjadi Sekolah Rakyat Maghilewa. Ketika itu di tempat-tempat lain di Ngada  dibuka pula sekolah rakyat  tiga tahun. Sekolah yang mempunyai kelas IV dan V hanya di Mataloko. Wakttu itu tidak ada kelas VI.

Pada masa pendudukan Jepang para murid diajarkan juga Bahasa Jepang. Setiap pagi setelah senam Tayso semua murid dan semua guru harus tunduk sampai ke lutut  sampai selesai lagu kebangsaan jepang yang berjudul “O Miu Kaba” . Semua harus tunduk menyembah matahari.

Setelah Indonesia berdaulat dari pemerintahan Belanda tahun 1949  maka sesuai dengan instruksi Pemerintah Indonesia  nama sekolah rakyat diubah menjadi Sekolah Dasar. Sekolah Rakyat Maghilewa pun diubah menjadi Sekolah Dasar Maghilewa. Lalu diubah menjadi Sekolah Dasar Katolik Inerie  atau SDK Inerie.

Di Ruto pada tahun 1926 berdiri SRK Ruto 3 Tahun. Menurut Petrus Gori, ia setelah menyelesaikan pendidikn di SRK Maghilewa tahun  1954  melanjutkan ke SRK Ruto yang telah berubah nama menjadi SDK Ruto masuk di kelas IV  sampai kelas VI. Jadi  sampai dengan tahun 1954  SRK Mghilewa  masih tiga tahun  sedangkan SRK Ruto sudah enam tahun.

Di masa status sekolah  sebagai SRK Maghilewa tiga tahun  banyak yang melajutkan ke kelas IV  sampai VI  di Mataloko dan setelah SRK Ruto membuka kelas IV sampai VI para murid melanjutkan ke SRK Ruto. Para murid juga melanjutkan kelas IV  di sekolah  lainnya yang telah ada Kelas IV sampai kelas VI yang dikenal dengan nama Standardschool. Bersambung………..

Oleh; Agust G Thuru ( Alumni SDK Inerie 1963-1969)