Wisatawan Asal Perancis dan Swiss Belajar Menganyam Di Kurubhoko

oleh -613 views
Wisatawan belajar menganyam di komunitas Budaya Tanawolo, Kurubhoko, Ngada

BAJAWA, sukuhdesa.com – Dua dari tiga tamu Yayasan Puge Figo dari Prancis dan Swis di di sela-sela liburan mereka,  belajar menganyam di Komunitas Budaya Tanawolo (KBT) Kurubhoko, Desa Nginamanu, Kecamatan Wolomeze, Kabupaten Ngada, Minggu (15/09/2019).

Dua wisatawan masing-masing bernama Jane (Perancis) dan Susan (Swiss) itu dipandu oleh Waldetrudis  belajar menganyan untuk mengisi waktu liburan selama sepekan di Kurubhoko sebelum kembali ke negaranya.

Di komunitas ini ada sanggar menganyam. Seni menganyam merupakan kegiatan yang dilakukan para ibu rumah tangga di desa ini. Kebanyakan mereka menganyam dari bahan bambu.

Susan dan Jane datang ke Indonesia untuk berlibur sekaligus mengunjungi Yayasan Puge Figo yang selama ini fokus pada konservasi, pemberdayaan masyarakat dan pendidikan ekologi. Keduanya termasuk di antara para wisatawan yang secara rutin sudah mengunjungi yayasan dengan pusat kegiatan di Kurubhoko ini.

Mereka tertarik dengan topi anyaman dari bahan nyiur di rumah penginpan Puge Figo. Menurut Waldetrudis, Keduanya minta belajar menganyam. Di komunitas Budaya Tanawolo keduanya belajar anyaman topi berbahan nyiur dari salah seorang pengrajin, Rafael. 

Baca Juga:  Cegah Corona, Puluhan Orang Muda Kampung Bosiko Semprot Disinfektan di Rumah Warga

Pada kesempatan itu Jane dan Susan langsung minta petunjuk untuk menganyam. Sehelai demi helai daun nyiur mulai disilang sambil melirik ke arah pengrajin daun nyiur. Perlahan terus berproses sambil sesekali minta petunjuk bila keliru. Akhirnya dua topi dari daun nyiur itu selesai. Keduanya langsung mengenakan di kepala masing-masing. 

Setelah mengenakan topi nyiur, keduanya tampak senang  lalu minta foto bersama. Menurut Jane topi itu akan jadi oleh-oleh dibawa pulang ke negaranya, Prancis.

Sharing Pengalaman

Sebelumnya, Mr. John, suami Jane juga sempat sharing pengalaman dengan para pencari madu hutan dari Komunitas madu asli Tanawolo bertempat di Pastorn Kurubhoko. John yang juga penghobi ternak lebah dari Prancis membagi pengalaman teknik mengambil madu lebah di hutan kepada belasan anggota komunitas pencari madu.

Kegiatan sharing pengalaman dipandu Ketua KBT Emanuel Djomba dan hadir pada saat itu Pastor Paroki Kurubhoko Thobias Harman, OFM dan Pembina Yayasan Puge Figo Nao Remond. Pater Thoby memberi apresiasi kepada komunitas yang sudah memfasilitasi sharing. Dia berharap sharing pengalaman membawa manfaat bagi para pencari madu seperti teknik yang mudah mengambil madu di hutan.

Baca Juga:  90 Tahun Seminari Mataloko, Pemprov NTT Bantu Dana

Menurut John, secara umum para pencari madu mulai menggunakan teknik yang lebih mudah untuk mengambil madu lebah, namun tetap harus ramah lingkungan seperti tidak menimbulkan kebakaran hutan. 

Itu juga diakui salah seorang pencari madu Jos Jawa. “Kami sudah menggunakan teknik pengasapan dari bahan yang tidak rentan terhadap kebakaran hutan. Pengasapan tidak meninggalkan arang yang jika tidak waspada bisa membakar hutan sekitar,” paparnya.

Sementara Nao Remon mengatakan, selain keuntungan ekonomi, ada hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan ambil madu, yaitu harus ramah lingkunangan. Jika lingkungan cukup nyaman akan membuat lebah madu membuat sarang. Tapi kalau hutan dibakar, lebah akan pergi. Jadi perlu jaga keseimbangan alam supaya ada juga  keseimbangan secara ekonomi.

Atraksi Wisata

Ketua Komunitas Budaya Tanawolo Emanuel Djomba memberi apresiasi kepada para Tamu Yayasan Puge Figo itu yang sudah mengisi liburan dengan kunjungi KBT. Menurut dia, kegiatan semacam ini bisa menjadi atraksi wisata yang dipadukan dengan perjalanan wisata lainnya.

Baca Juga:  Kampung Watu; Rumah Saya

Letak Kurubhoko yang berada di jalur wisata sebenarnya sangat strategis menjadi daya tarik. Dan selama ini tamu asing yang mengunjungi desa ini sudah banyak. Mereka diantaranya tamu Yayasan Puge Figo yang datang secara rutin. Ada juga volunteer yayasan yang secara berkala datang dan tinggal satu sampai dua tahun di sini. Ini sangat menguntungkan desa yang kini sedang promosi beberapa potensi wisata seperti wisata tracking, ekologi, wisata rohani, situs gereja tua, ekopastoral, wisata budaya, dan juga menawarkan atraksi wisata menganyam dan produknya serta paket belanja obat dan kosmetik herbal lokal.

Menurut Emanuel, kawasan Kurubhoko punya potensi yang dapat dikembangkan sebagai obyek wisata, termasuk.menyaksikan panorama cekungan soa dan barisan bukit sekitarnya dari ketinggian Wolonelu di kawasan Namgge Mba’a. Rahasia ini belum  disingkap banyak orang. Titik-titik ini menambah kazanah wisata di sekitar Air Panas Mengeruda. (emanuel djomba/emanuel)