Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (2); Misi Pertama di Ngada Selatan

oleh -687 views
Lokasi Kampung Maghilewa (Foto Milik Frids W Lado)

BUDAYA, suluhdesa.com – Dalam buku  Ziarah Pastoral Paroki St. Martinus Ruto dari Masa ke Masa buah karya dari bapak Titus Godho dan Tim Penyusun, tertulis di halaman 2 di bawah judul: Misi Pertama di Wilayah Ngada Selatan bahwa sekitar  hampir seratus tahun lalu berbarengan dengan  berdirinya SR (Sekolah Rakyat) 3 tahun di Maghilewa oleh para misionaris awam dari Flores Timur yang menjadi guru, berhasil membawa terang dan angin segar baru berdasarkan Injil Kristus. Puluhan katekumen telah dibaptis dan sempat dibukukan dalam Stanboek Bajawa.

Menurut catatan  Sekretariat DPP St. Martinus Ruto, ringkasan Sejarah Gereja Santo  Martinus Ruto  secara resmi Stasi Maghilewa yang merupakan  bagian dari Paroki Mater Boni Consili Bajawa   berdiri pada tahun 1920. Gereja baru didirikan sekitar tahun  1926. Gereja itu kemudian diperluas  dengan bahan lokal dan non lokal sekitar tahun 1929 – 1930.

Pada tahun 1936 gereja yang dibangun bercorak gotik rampung dibangun. Bangunan gereja itu bertiang  kayu eukaliptus (pohon Lui)  dan berdinding  papan dari sejenis pohon yang  oleh masyarakat  lokal menyebutnya Pu’u Paka.  Gereja ini  roboh  diterjang  angin  pada tahun  1973 silam kemudian  dibangun kembali gereja yang sekarang ini berdiri dibekas bangunan gereja yang sudah roboh itu. Di atas bekas bangunan gereja yang roboh itu  para misionaris SVD pernah memijakkan kakinya untuk mewartakan Injil kepada masyarakat  di Pantai Selatan yang  pada waktu itu masih menganut  animisme.

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/09/15/satu-abad-sdk-inerie-malapedho-1-jejak-misionaris-svd-di-maghilewa/

Kekatolikan di Ngada Selatan ini berawal dari peristiwa yang mungkin sederhana tetapi berdampak besar yakni peristiwa pembaptisan. Pada 17 Oktober 1915  Mgr. Petrus Noyen, SVD membaptis  seorang perempuan bernama Elisabeth Fernandez di Aimere. Dia adalah putri pasangan  Agoes Fernandez dan Katharina yang lahir di Aimere pada 25  September  1914 dan dibaptis pada 17 Oktober 1915  oleh Mgr. Petrus Noyen, SVD. Wali baptisnya adalah  Yohanes Patipelohi  dan Diaz. Pater Lambertus Lame Uran SVD dalam bukunya: Sejarah Perkembangan Misi Dioses Agung Ende hal. 145 menulis: Puji Tuhan betapa karya agung keselamatan-Nya  telah dimulai di tempat ini.

Baca Juga:  Komisi Kitab Suci KAK Lakukan Sharing Kitab Suci Bersama OMK Nasipanaf

Pater Lambertus Lame Uran benar, karena setelah pembaptisan bayi Elisabeth Fernandez, Pater  Yosef Ettel, SVD, misionaris asal Jerman  pada 20 April 1920 berkunjung ke Stasi Maghilewa dan membaptis 31 putra-putri  umat awal. Berdasarkan Stanboek I Ruto, Pater Yosef Ettel, SVD membaptis 17 orang umat di Maghilewa  dan Jere yakni: Fransiskus Milo Beo, Hermanus Niu Mai, Mathias Rengo Walu, Yoseph Keli Moi, Mathias Sebo Deru, Bruno Ladja Mola, Albertus Wele Itu, Aloysius Deru Riku, Gabriel Bhoga Bhoki, Johanes Ruba Moi, Antonius Djawa Waso, Paulus Dua Walu, Fabianus Wika Waso, Eduardus Wue Tai, Feliks Ngewi Bai, Agustinus Raga Kedhi dan Joel Leba Kadu.

Ia  juga membaptis 7 umat di Pali  yakni Yoakhim Raga Rawi, Petrus Ria Bai, Viktor Gelu Waja, Yakobus Ture Eda, Gregorius Sadi Nage, Rafael Kadha Bate dan Wihelmus Langa Rani. Ia juga membatis 5 orang di Ruto yakni Thomas Nay Lengu, Andreas Wuli Lena, Fidelis Kadha Beo, Simeon Resi Bero dan Leonardus Uwa Moa. Dua orang dari Kelitey juga dibaptis yakni Pius Delo Tuga dan Mikhael  Senge Bogo.

Sejak 1920 itu  para misionaris  Serikat Sabda Allah  silih berganti mengunjungi Stasi Santa Familia Maghilewa. Mereka antara lain  Pater G. Schoorlemmer, SVD, Pater Leo van Beyer, SVD, Pater A. George, SVD, Pater A. Mommersteeg, SVD, Pater Paul Arndt, SVD, Pater L. Fogt, SVD, Pater J. Koberi, SVD, Pater H. Hellange, SVD, Pater M. Boots, SVD, Pater H. Bader, SVD, Pater  Molenaar, SVD, Pater A. Nisser, SVD, Pater C. Does, SVD dan Pater Viekerman, SVD.

Pada Desember 1920  Pater G. Schoorlemmer, SVD mempermandikan sejumlah besar umat Stasi Maghilewa yang meliputi Hamente Combos dan Inerie II. Guru awam  adalah Paulus de Ornai dan Y.B. da Gomez. Pada tahun 1928-1932  Pater Leo van Well, SVD melayani umat Stasi Santa Familia Maghilewa. Ia juga sering dibantu oleh  Pater M.Bocs, SVD dan Pater Herman Bader, SVD.

Baca Juga:  Uskup Silvester San: Beriman Jangan Seperti Penyu

Para katekis yang membantu di masa itu antara lain P. Rengo, Mikhael Mangu, Frans da Silva, Yohanes Wuda, Paulus Tuga, Gabriel Dua, Niko Delo, Y. Basenti, Andreas Rawi, Alo Roja, H. Sue dan Yohanes Patipelohi.

Pada tahun 1933 – 1936 Pater W. Beyer, SVD menjadi Pastor Stasi Santa Familia Maghilewa. Gereja St. Familia yang dibangun kemudian diberkati oleh Mgr. Hendrikus Leven, SVD pada 25 Juli 1936. Para guru yang berperan saat itu adalah Kristianus Nau, Yohanes Maksi, Petrus Pedro, Guru Sama, Bruno Nua dan Maks Nua.

Pada tahun 1937-1942 menjelang Perang Dunia II para imam silih berganti melayani umat Stasi Familia Maghilewa. Mereka  adalah Pater A. George, SVD, Pater Leo van Well, SVD, Pater A. Visser, SVD dan Pater A.Mommesteeg, SVD.

Pada tahun 1940 berdiri secara resmi Paroki Santa Familia Maghilewa. Di saat  bersamaan para imam misionaris Belanda  diinternir ke Sulawesi dan ke Mataloko  pada tahun 1945.

Pada tahun 1942-1947 Pater A. Suntrup, SVD, Pater Frans Cornelissen, SVD (1942), Romo A. Ding (1945), Pater Lambert Lame Uran, SVD (1946), Pater A. Visser, SVD, Pater Beltjens, SVD, Pater Kerstjens, SVD, Pater van Der Mollen, SVD (1946-1947) silih berganti melayani umat Stasi Maghilewa.

Tahun 1948-1954 Pater A. George, SVD  menjadi Pastor Paroki Santa Familia Maghilewa dan merangkap dengan Paroki Santo Paulus Jerebuu. Ia  dibantu Pater Kerstjens, SVD (1952), Pater Wiliam Popp, SVD (1953) dan Pater A. Mommersteeg, SVD (1954).

Tahun 1954-1960 Pater W. Wiertzs, SVD dipercayakan sebagai Pastor Paroki Santa Familia Maghilewa. Ia sering dibantu oleh Pater H.van Balkom, SVD, Pater  Scholte, SVD dan Pater A. Mommersteeg, SVD. Tahun 1960 Pastor Paroki Santa Familia Maghilewa  dipercayakan kepada Pater C. Classens, SVD.

Baca Juga:  RD Sipri Senda Ajak Mahasiswa STIPAS Kupang Menggali Kekayaan Sabda Tuhan

Mata elang seorang misionaris dalam pribadi Pater Coen Classens,SVD  sangat tajam karena ia melihat masa depan Gereja Paroki St. Familia bukan satu atau dua tahun tetapi untuk rentang waktu yang tak bisa ditentukan.  Maka pada rentang waktu 1962 – 1965  Pater Coen Classens, SVD menggalang  dana melalui keluarga dan para donatur  di negeri Belanda. Umat Pali, Ruto, Kelitei dan Malapedho dikerahkan untuk mngumpulkan batu dan pasir.

Tercatat  sebuah peristiwa duka terkait dengan pembangunan Gereja Santo Martinus Ruto. Pada Jumat puasa  menjelang Minggu Sengsara  Maret 1963  enam nyawa gadis  yakni Magdalena Meo Ega dari Ruto, Katarina Nari Ngora dari Pali, Rofina Sigi Deru dari Pali, Maria Dopo Ngene dari  Pali dan Rufina  Bupu Laka  dari Pomasule meninggal dunia karena tertindis bongkahan pasir yang runtuh. Darah mereka menyuburkan iman  seluruh umat di paroki ini.

Peristiwa itu mengulang peristiwa yang terjadi pada  Jumat Puasa  pertama tahun 1956. Mama Martina Anu Du’a dan mama Sesilia Uma Dolu meninggal dunia ditindis bongkahan pasir dalam rangka mendirikan kapel Ruto pada masa Pater W. Wierts, SVD.

Peletakan batu pertama  (terelengi) Gereja Santo Martinus Ruto terjadi  pada tahun 1965. Tahun 1967 gereja ini rampung dibangun  dan pada 30 Agustus 1967 ditahbiskan oleh Yang Mulia Bapa Uskup Agung Ende Mgr. Gabriel Manek, SVD dengan Santo Pelindung yakni Santo Martinus.

Berdirinya Gereja St. Martinus Ruto sekaligus mengukuhkan Paroki Santo Martinus Ruto dan mengubah status Paroki Santa Familia Maghilewa  menjadi Stasi Santa Familia Maghilewa sampai dengan saat ini.*** Bersambung…..

Oleh: Agust G Thuru ( Alumni SDK Inerie 1963-1969)