Satu Abad SDK Inerie-Malapedho (1); Jejak Misionaris SVD di Maghilewa

oleh -695 views
Lokasi Kampung Maghilewa (Foto Milik Frids W Lado)

BUDAYA, suluhdesa.com, – Catatan Penulis: Inerie adalah nama sebuah gunung di Kabupaten Ngada. Di lereng gunung bagian selatan terdapat kampung- kampung tradisional  yakni Maghilewa, Jere, Watu dan Leke. Di lereng gunung inilah pada 1 Agstus 1919 para misionaris SVD mendirikan SRK Maghilewa yang berkembang menjadi SDK Inerie dan saat ini dikenal dengan SDK Malapedho.

Ketika diminta memberikan sambutan pada penerbitan buku  “Ziarah Pastoral Paroki Santo Martinus Ruto  Dari Masa ke Masa” dalam rangka Pesta Emas 50 Tahun Paroki Santo Martinus Ruto   30 Agustus 2017  lalu, Yang Mulia Bapa Uskup Agung Ende Mgr. Vinsensius Sensi Potokota  menulis begini: Di tahun 2014 persisnya pada 26 Desember saya merasa amat terberkati karena boleh menginjakkan kaki dan menimba aura jejak-jejak kaki  para misionaris SVD, pada sisa puing-puing suatu pusat pelayanan misi rintisan yang spektakuler yang dikenal dengan Stasi Maghilewa. Ia bertengger memesona di lereng gunung Inerie, dengan struktur kampung tradisional yang amat indah dan membangkitkan cita rasa sakral bagi pengunjung dengan naluri pengamat dan pencari nilai-nilai hidup yang sejati.

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/09/06/hut-satu-abad-sdk-inerie-malapedho-alumni-diminta-beri-perhatian/

Ternyata dari ketinggian Stasi Maghilewa inilah mata elang para misionaris telah melototi dan membidik serta merancang langkah-langkah  misioner ke seluruh kawasan pelayanan baru. Narasi sejarah misi menyebut suatu wilayah yang terbentang dari Delawawi/Sewowoto di bagian timur sampai Combos/Teni-Lopijo di bagian barat adalah kawasan potensial dengan tuaian yang melimpah.

Baca Juga:  Satgas Pamtas RI-RDTL Bagikan Pohon Natal Untuk Masyarakat di Perbatasan

Bapa Uskup tentu tidak asal mengungkapkan perasaan mendalam  saat berada di Maghilewa dimana  sesungguhnya bertebaran jejak kaki dan harum nafas para misionaris Serikat Sabda Allah (SVD).  Sebab Bapa Uskup mengakui  bahwa ternyata dari ketinggian Stasi Maghilewa inilah mata  elang para misionaris telah memelototi dan membidik serta merancang langkah-langkah misioner ke seluruh kawasan  pelayanan baru.

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/09/07/yoseph-madha-satu-abad-sdk-inerie-malapedho-menatap-penuh-harapan/

 Apa yang diungkapkan Yang Mulia Bapa Uskup Vinsensius Sensi Potokota tentu memiliki makna yang sangat mendalam, sekaligus  sebagai pengakuan dari pemimpin Gereja Lokal  Keuskupan Agung Ende  bahwa  Maghilewa yang berada di  lereng gunung Inerie ini adalah titik awal berkembangnya  Gereja  di wilayah pantai selatan Ngada, khususnya  dari Delawawi sampai  Lopijo. Maghilewa  dimana  pernah menjadi pusat Paroki Santa Familia dan saat ini menjadi sebuah Stasi dari Paroki Santo Martinus memiliki  jejak sejarah gereja yang  yang tak boleh dilupakan. Bahkan dengan mata batin, kita  bisa menemukan lagi jejak-jejak kaki para misionaris  Serikat Sabda Allah yang pernah datang  ke tempat ini  sejak tahun  1910  silam.

Saat ini memang terkesan Maghilewa, Jere, Watu dan Leke ditinggal sepi. Tetapi seperti diakui Bapa Uskup Vinsensius, sesungguhnya dari sisa-sisa puing misi pelayanan bersejarah  di ketinggian lereng Inerie itulah awal bagi makna usia emas  Paroki Ruto.

Baca Juga:  Komunitas Pastoran St. Kristoforus Ba’a Isi Kerja Dari Rumah Dengan Membuat Pot Bunga

Baca Juga; https://suluhdesa.com/2019/09/08/100-tahun-sdk-inerie-malapedho-pendidikan-sebagai-panggilan/

Kehadiran para misionaris SVD di lereng gunung itu sekaligus menjadi titik awal meretas kebodohan dan mengubah  keyakinan dari  yang masih animisme ke yang beriman kepada Firman Tuhan. Sebab pada 1 Agustus 1919  tonggak sejarah pendidikan ditancapkan. Berdirinya SRK 3 tahun di Maghilewa  telah menjadi “pintu masuk” kepada pewartaan  yang menumbuhkan iman  dan meretas kebodohan  masyarakat. Deus incrementum dedit, Allah yang memberikan pertumbuhan.

Hadirnya SRK Maghilewa pada tahun 1919  dengan tampilan guru-guru yang sederhana telah membawa para murid dari kampung Maghilewa, Jere, Watu, Leke dan kampung-kampung sekitarnya mengalami lonjakan cara berpikir, memiliki skil dan mampu menampilkan karakter  dan spiritualitas yang sungguh menghayati iman katolik.

Dalam tulis

Dalam catatannya  berjudul Sang Guru Mayjen Herman Musakabe  seperti termuat dalam buku: “Persekolahan Umat Katolik Menjadi Garam dan Terang, Kenangan 1 Abad Pendidikan dan Persekolahan  Katolik di Ngada dan Nagekeo” hal. 322-323 menulis: Di balik kesederhanaan  dan didikan  yang keras  dan spartan itu  sebenarnya ada beberapa tujuan pendidikan  yang berhasil diterapkan oleh Sang Guru  yaitu melatih dimensi  kognitif (Training of the Head), olah tangan (Training of the Hand) dan olah hati (Training  of the Heart). Itu justru diperlukan  ketika kita masih di pendidikan dasar karena  masih lentur dan mudah menerima masukan  dari luar atau dari lingkungan.

Baca Juga:  Jamu Menko Polhukam dan Mendagri, Mgr. Domi Saku: Kita Saudara

Itu pula dampak yang dirasakan oleh kehadiran SRK Maghilewa  yang kemudian berkembang menjadi SDK Inerie dan akhirnya saat ini dikenal sebagai SDK Malapedho. Para Sang Guru dari waktu ke waktu telah berhasil  membangun dimensi kognitif yaitu rasionalitas, pola pikir, knowledge, understanding, mindset, teori-teori dan prinsip dalam pikiran para murid.

Para guru juga telah berhasil  membangun dimensi psikomotorik yaitu kapabilitas, kompetensi, skills, habits, kemahiran  dan keahlian. Dan para guru juga berhasil membangun dimensi afektif  yaitu emosionalitas, spiritualitas, semangat, perasaan, motivasi, antusias, attitude dan karakter.

Maka sebaris rasul awam yang pernah mengabdikan diri di SRK Maghilewa, SDK Inerie dan SDK Malapedho sejak tahun 1919 sampai saat ini adalah mereka-mereka yang telah membangun dimensi  kognitif (Training of the Head), olah tangan (Training of the Hand) dan olah hati (Training  of the Heart).

Bersyukur untuk sebuah peristiwa besar bukanlah tanpa makna. Peringatan Satu Abad SRK Maghilewa yang  terus berkembang menjadi SDK Inerie dan kini SDK Malapedho adalah  bentuk dari ungkapan syukur  sekaligus  melambungkan doa dan pujian  bagi para guru pengabdi yang telah mencurahkan  hati dan pikiran, bahkan harus dengan penuh pengorbanan tinggal di sebuah lereng gunung yang terisolir.*** (Bersambung……)

Oleh: Agust G Thuru

Alumni SDK Inerie 1963-1969