Memori di Kampung Watu

oleh -181 views
Beberapa rumah tradisional di Kampung Watu. Sebuah kampung tradisional yang berdiri ratusan tahun di bawah kaki gunung Inerie. Foto ini milik Marselino Toa

SASTRA, suluhdesa.com – Sajak ini ditulis dan dikirim oleh Agust G Thuru. Tulisan ini merupakan sebuah refleksi budaya yang berlatarkan Kampung Watu di kaki gunung Inerie, Ngada. Sebuah perkampungan yang berdiri ratusan tahun. Ayo pembaca Media suluhdesa.com dan penikmat sastra, selamat menikmati. Salam.

Watu adalah batu hitam berlumut
Terus bersujud pada segala waktu
Pada siang dan malam penuh setia
Berbaring pada mesbah sembahan
Merayu leluhur bercinta dengan seteguk moke
Bertapa pada ture (megalith) bernama sakral
Yang dibabtis dengan darah kerbau korban

Watu berjejer depan rumah adat
Mengusung bheja mo’a (bagian luar rumah adat) tempat para ibu bercanda
Menginang sirih dan pinang
Dan merecik batu leluhur dengan ludah merah
Untuk menguatkan persaudaraan

Baca Juga:  Nilai Tukar Petani (NTP) Oktober 2019 sebesar 107,12

Watu berbaring di kuburan leluhur
Mengisahkan jiwa-jiwa yang lama berpulang
Meski nama terwariskan turun temurun

Watu adalah kisah di sebuah malam
Pada dentuman syair O Uwi (tandak dan nyanyian saat pesta Reba)
Dan kita berikrar untuk mulai belajar
Bagaimana saling jatuh cinta

Watu adalah batu-batu di kampung Watu
Yang setia menunggu para perantau
Untuk membasuhnya dengan menebus rindu
Setelah lama melupakan Ine Ebu (Leluhur)

Baca Juga:  Meski Zona Hijau, Marius Akui NTT Masih Banyak OTG dan ODP

Watu adalah kampung di lereng gunung
Tempat suatu malam purnama
Pada sebuah pesta orang muda
Kita berdansa dan meliukkan jiwa
Seperti engkau terbang ke langit
Saat aku bilang: Aku mencintaimu!
Adakah engkau ingat itu
Hai nona di rumah adat bhisu ulu nua? (Sudut kampung paling utama)
Yah…kita telah melewati puluhan tahun
Dan sama-sama telah menjadi tua. (*)

Baca Juga:  Perempuan Itu Candu

Oleh; Agust G Thuru

DENPASAR, 16 September 2019