Kampung Watu; Rumah Saya

oleh -258 views
Beberapa rumah tradisional di Kampung Watu. Sebuah kampung tradisional yang berdiri ratusan tahun di bawah kaki gunung Inerie. Foto ini milik Marselino Toa

SASTRA, suluhdesa.com – Sajak ini adalah tulisan milik Frids Wawo Lado. Putera asli Kampung Watu, Kecamatan Inerie, Ngada, NTT yang saat ini merantau dan menjadi tukang ojek, pengamen, dan bekerja serabutan lainnya supaya bisa makan dan minum. Selamat membaca….

Buatmu yang terindu

Tempat darahku pertama kali dibentuk

Membungkus kehidupan pada kerasnya Watu

Baca Juga:  Politikus Bukan Binatang

Ruang awalku tercipta oleh pejuan kehidupan

Yang selaksa peristiwa terbungkus di Watu

Di Watu ada banyak cerita-cerita menarik

Tiadakan pernah pudar termakan masa

Kala aku pertama menyusu dari puting susunya

Sampai aku berkarat pada ruang-ruang rindu

Banyak menyimpan rasa-rasa

Ketika tangisan-tangisan bocah lugu didengungkan

Dan didengar oleh oka koa-oka koa* (burung philemon buceroides) di pucuk kapuk

Baca Juga:  Kaukus Perempuan Politik Indonesia Gelar Musda: Jangan Mengeluh

Berbalut kumandang-kumandang batuk pine-ine* (tanta-tanta dan ibu-ibu)

Tercampur dahak di muntahan air sirih

Lalu dihembus ema pame* (Om-om dan bapak-bapak) lewat selinting dua linting

Bako maghi* (rokok dari daun lontar) di jemari kasar

Aduhai Watuku

Tempat rahimku berbasah air mata

Selalu diseka dengan tawa-tawa

Tiada dipoles suatu peradaban

Tak akan pernah lupa di lupa (*)

Baca Juga:  Kepada Roh Leluhur

Oleh; Frids W Lado

Maronggela, 21 Agustus 2009