Julie Laiskodat: Kita Mau Buat Pengusaha Tenun Ikat Sejahtera

oleh -730 views
Ketua Dekranasda NTT Julie Laiskodat sedang memberi materi dalam pertemuan yang digagas oleh Bakohumas NTT di Aula Papa John's Hotel Kupang

KUPANG, suluhdesa.com Bakohumas Lingkup Provinsi Nusa Tenggara Timur melakukan pertemuan dengan Tema: “Peran Humas NTT Dalam Rangka Sosialisasi Promosi Pengembangan dan Pelestarian Tenun Ikat NTT Menjadi Produk Andalan Ekonomi Kreatif Nusa Tenggara Timur.”

Hadir dalam pertemuan tersebut adalah Kepala Biro Humas Setda Provinsi NTT DR. Marius Ardu Djelamu, Ketua Dekranasda NTT Julie Laiskodat, Ketua Program Studi Teknik Tenun Ikat Undana Kupang, Kasubag Pers dan Pengelolaan Pendapat Umum Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi NTT Valeri Guru, para wartawan, mahasiswa, masyarakat, serta undangan lainnya.

Pertemuan ini secara panel dimoderatori Kepala Biro Humas Setda Provinsi NTT DR. Marius Ardu Djelamu.

Marius dalam pengantarnya menjelaskan jika Pemerintah Provinsi NTT serius memperkenalkan kekayaan alamnya kepada dunia luar. Tidak saja wisata alam tetapi juga budaya serta warisan intelektual seperti tenun ikat,dan lain-lain turut diangkat ke publik internasional. Sehingga NTT semakin dikenal dan banyak turis yang datang mengunjungi NTT.

Pada kesempatan materinya, Ketua Dekranasda NTT Julie Laiskodat mengungkapkan perhatiannya pada berbagai stigma atau pelabelan negatif yang sering dialamatkan kepada masyarakat NTT.

Menurut Julie Laiskodat bahwa sudah akrab ditelinga semua orang NTT kepanjangan dari NTT itu yang artinya Nanti Tuhan Tolong atau NTT itu sama dengan Nasib Tak Tentu.

“Semua pelabelan ini sebenarnya mau membahasakan bahwa orang NTT ini susah atau miskin. Padahal sebaliknya justru NTT itu kaya raya. Itu salah satu alasan mengapa Viktor memilih pulang ke NTT. Kami mau menunjukkan kepada Nasional dan masyarakat NTT sendiri bahwa Nusa Tenggara Timur itu kaya raya!” Tegas Yulia.

Baca Juga:  Di Rajabasa Expo, Wisata Bahari Merupakan Ikon Desa Kunjir

Juliae juga menguraikan bagaimana NTT yang memiliki banyak potensi kekayaan alam dan intelektual akan tetapi tidak dikelola secara maksimal.

Julie mengatakan bahwa Tuhan memberi NTT alam yang kaya dan banyak dari sisi pariwisata misalnya.

“Kita lihat Bali itu hanya ada pantai Kuta tetapi Bali itu dikenal dunia. Sementara NTT punya Danau Kelimutu dengan tiga warnanya dan Pulau Komodo dengan Komodonya yang di dunia lain tidak miliki. Tapi mengapa NTT lebih akrab dengan label Nasib Tidak Tentu atau Nanti Tuhan Tolong,” tukas Julie.

Lanjut Julie, NTT mempunyai tanah yang subur. Menanam apapun hasilnya baik dan jadi yang terbaik. Tetapi justru masyarakat tidak kelola dan memanfaatkan secara baik tanah dan alamnya. NTT bahkan terkenal dengan kualitas jagung yang baik tetapi NTT tidak benar-benar jadi Provinsi Jagung. Sebaliknya Provinsi Gorontalo yang justru mengambil alih gelar itu dari NTT. Orang Gorontalo datang membeli jagung dari NTT lalu sesampainya di Gorontalo dijual dengan harga tinggi karena memiliki label Gorontalo.

Dalam penjelasan itu Julie pun menjelaskan jika selain potensi tanah subur dan produk pertanian berkualitas, NTT juga memiliki banyak potensi pariwisata dan produknya di setiap Kabupaten.

Ada tarian Tibalai di Rote, Likurai di Belu, Jai di Ngada, Gawi di Ende, Gemufamire di Sika Maumere, Caci di Manggarai, dan lain-lain.

Ada tenun ikat di semua Daerah di NTT dengan motif beragam berdasarkan kekhasan kultur Daerah di NTT. Apa saja produk tenunan maupun produk lain seperti pangan lokal dan termasuk pariwisata NTT yang dibawa ke Nasional dan Internasional selalu terkenal dan laku terjual.

Baca Juga:  Gubernur NTT: Gedung Sasando Bisa Digunakan Orang Muda Untuk Kreasi Musik

“Hanya saja bahwa masyarakat kita masih menghadapi kendala. Tenun ikat misalnya, penenun yang mengeluh kekurangan modal seperti benang maupun pewarna. Setelah melakukan produksi mereka masih bingung pasarkan ke siapa dan ke mana,” ungkap Julie.

Sebagai Ketua Dekranasda NTT, Julie memberikan solusi dan hal ini pun telah dilakukannya kepada para penenun NTT yang dibinanya, yakni; di setiap Kabupaten dibuat Desa Model Tenun Ikat. Di setiap Kabupaten itu Dekranasda mengorganisir adanya satu kelompok penenun. Mereka diberikan benang dan pewarna gratis guna menghasilkan produk tenunan yang sesuai pangsa pasar agar produksi lancar dan pasar juga lancar. Lancarnya produksi dan pemasaran tenun ikat tentu sesuai kebutuhan atau selera konsumen.

“Orang Eropa suka tenunan dengan warna alam. Sedangkan Amerika Latin suka warna tenunan yang menyolok. Dalam kaitan dengan ini sesuai pengalaman kami, produk tenunan NTT kadang kurang sesuai dengan kebutuhan konsumen Eropa maupun Amerika. Misalnya seperti Motif Timor yang umumnya memiliki warna mencolok dan motif Flores memiliki warna gelap. Kita perlu sesuaikan dengan kebutuhan pasar/konsumen tanpa sedikit pun merubah motifnya,” cerita Julie.

Persoalan lain tenun ikat yakni; dosis pewarnaan yang belum lengkap sehingga menghasilkan warna yang kurang bagus, hak cipta tenun ikat dari NTT selalu dicuri orang, dan soal ketidakberlanjutan produksi untuk menunjang keberlanjutan pasar.

“Coba lihat Orang Jawa mereka itu cekatan dalam meniru. Mereka memiliki etos kerja mereka baik. Sementara masyarakat kita sendiri di NTT, khususnya penenun memiliki mental santai. Etos kerja seperti ini yang  harus dirubah kalau kita ingin berubah,” ajak Julie.

Baca Juga:  Gubernur NTT: ASN Wajib Berkontribusi Dalam Pembangunan

Julie di hadapan peserta berkata kalau ke depan Dekranasda NTT memiliki agenda atau rencana seperti melatih orang remaja dan muda untuk menenun. Dekranasda akan memberikan modal seperti  benang dan pewarna, dan sebagainya. Hasil tenunan dijual dan hasilnya dibagi.

Julie Laiskodat mempunyai cita-cita suatu ketika di NTT pelaku tenun ikat sukses karena menjadikan tenun ikat sebagai kerja utama.

“Kita mau tunjukan bahwa PNS bukan satu-satunya pekerjaan di NTT. Kita mau suatu ketika PNS angkat tangan hormat pengusaha tenun ikat. Di Jawa PNS hormat pengusaha. Tetapi di NTT sebaliknya orang hormat PNS. Para penenun ini harus sejahtera dan kami sedang berjuang untuk itu” Tutup Julie.

Sedangkan Ketua Program Studi Teknik Tenun Ikat Universitas Nusa Cendana Kupang dalam materinya mengatakan bahwa sebagai bentuk mendukung Pemerintah Provinsi NTT dalam mengembangkan potensi wisata, menciptakan lapangan kerja, serta melestarikan kekayaan intelektual daerah NTT maka Undana membuka Program Studi Teknik Tenun Ikat yang sudah berjalan dua tahun sejak tahun 2017.

“Tujuan Undana membuka ini juga adalah menjaga eksistensi tenun ikat NTT sebagai warisan budaya, meningkatkan mutu tenun ikat sesuai tuntutan jaman, dan membuka lapangan kerja strategis,” katanya.

Menurutnya pula kehadiran Program Studi Teknik Tenun Ikat Undana ini selalu mengkaji tenun ikat dari sisi ilmu pengetahuan dan ilmiah.

“ini sebagai bentuk apresiasi akan kekayaan intelektual seperti motif-motif tenun ikat yang telah diciptakan nenek moyang kita di setiap daerah di NTT,” tutupnya.

Hadir juga dalam kesempatan tersebut Puteri Pariwisata Indonesia 2019 asal NTT Clarita Mawarni Salem dan Miss Grand Indonesia 2019 yang juga asal NTT Sarline Jones.

Mawarni salem akan mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi Puteri Pariwisata Internasional tahun 2020 di Malaysia. Sedangkan sarline Jones akan mewakili Indonesia ke Venezuela. (fil/fil)