BPTP NTT Gelar Sosialisasi Jagung Varietas Unggul Kepada Petani

oleh -528 views
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT, Dinas Pertanian Provinsi NTT dan PRISMA mengadakan kegiatan Sosialisasi Varietas Unggul baru Badan Litbang Pertanian dan Pelatihan pertemuan kelompok penangkar jagung yang berlangsung selama dua hari(10-11/9/2019 di aula BPTP NTT Desa Naibonat, Kabupaten Kupang

NAIBONAT, suluhdesa.com – Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT, Dinas Pertanian Provinsi NTT, dan PRISMA mengadakan kegiatan Sosialisasi Varietas Unggul baru Badan Litbang Pertanian dan Pelatihan pertemuan kelompok penangkar jagung yang berlangsung selama dua hari(10-11/9/20190 di aula BPTP NTT Naibonat, Kabupaten Kupang.

Ir. Tony Basuki mengatakan kolaborasi BTPT, Dinas Pertanian dan PRISMA untuk menemukan, menerima masukan dan  menghasilkan petani  penangkar jagung yang berkualitas dan berintegritas.

“Kehadiran PRISMA adalah support untuk NTT. Saling support untuk mencapai satu titik bagi petani penangkar jagung supaya lebih sejahtera,” ucap Tony.

Menurut Tony Basuki, rendahnya produktivitas jagung di NTT disebabkan oleh berbagai faktor dan salah satunya adalah terbatas dan sulitnya akses terhadap benih unggul jagung serta petani masih cenderung menggunakan benih jagung lokal (retained seed).

Dikatakan pula rendahnya produksi jagung di NTT rata-rata  2,6 ton/Ha (BPS NTT, 2015) belum mampu menjawab kebutuhan konsumen. Sehingga Sebagian besar pedagang masih mengimport jagung dari Jawa, NTB dan Sulawesi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi atau pakan.

Untuk mengatasi persoalan ketersediaan benih jagung berkualitas, BPTP NTT, Dinas Pertanian Provinsi NTT dan PRISMA mengadakan sosialisasi untuk mendukung sejumlah petani penangkar benih jagung untuk memproduksi benih jagung komposit.

Baca Juga:  Bupati Lumajang Canangkan Pengembangan Padi Organik di Desa Sumbermujur

“Teknologi yang diterapkan adalah teknologi budidaya dengan penggunaan benih Varietas Unggul Baru (VUB), yaitu Varietas Bisma dan Lamuru. Kedua varietas tersebut  merupakan jagung komposit, yang biasa juga disebut jagung bersari bebas,” jelas Tony

Sementara itu Head Of Portfolio PRISMA, Suandi Darmawan  menjelaskan PRISMA sebagai fasilitator untuk bagaimana mengembangkan kapasitas jagung komposit agar bisa diproduksi lebih besar dan bisa dipasarkan benih jagung komposit ke para petani.

Peserta sosialisasi

“Kami tidak memberikan pelatihan langsung kepada para petani penangkar jagung tetapi kami memfasilitasi mitra swasta untuk memaksimalkan fungsi mereka. Petani bisa berkembang kalau mendapat pelayanan teknologi, informasi, inovasi dari para pelaku bisnis,” urai Darmawan.

Di tingkat petani, benih jagung yang beredar selain komposit adalah benih jagung hibrida. 

Jagung komposit dan hibrida dibedakan dari sumber asal benih. Jagung komposit merupakan hasil persilangan tunggal dari varietas berproduksi tinggi, sedangkan jagung hibrida merupakan  keturunan langsung (generasi F1) dari persilangan antara dua galur atau lebih yang memiliki keunggulan masing-masing.

Baca Juga:  Hasil Jagung, Petani NTT Bisa Terima Bersih 10 Juta Rupiah Per Bulan

Perbedaan lainnya antara benih jagung hibrida dan komposit adalah: jagung komposit dapat diproduksi untuk benih berikutnya, sedangkan benih jagung hibrida tidak dapat dijadikan benih berikutnya.

Karena itu, mitra penangkar dan PPL terus didorong untuk semakin proaktif mempromosikan kelebihan dan manfaat penggunaan benih jagung komposit agar petani dapat teryakini dan mau beralih dari penggunaan benih jagung lokal ke benih jagung komposit.

Pada kesempatan itu juga peneliti dan ketua pelaksana kegiatan, Ir. Evert Y. Hosang,M.Si P.Hd yang menyampaikan jika untuk mendapatkan produksi yang baik harus pula mendapat benih yang baik.

“PRISMA  membantu mempercepat perbenihan di NTT. Kolaborasi ini  bertujuan untuk meningkatkan kapasitas peserta dalam memproduksi dan mengelola hasil panen benih jagung di NTT, memperkuat penangkar jagung di 9 kabupaten, Meningkatkan kapasitas para produsen benih jagung dalam memasarkan benih ke pasar bebas, menyusun rencana kerja produksi jagung oleh masing-masing penangkar,” tukas Hosang.

Pelatih berasal dari BPTP NTT dan Narasumber dari PT. Tunas Widji Inti Nayottama (Kediri). Selain itu, tim narasumber berasal dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT dan UPT PSB.

Baca Juga:  60 Unit Traktor Milik Pemkab Malaka Diperbaiki

Peserta pelatihan adalah para penangkar jagung di 9 Kabupaten sebanyak 18 orang dan Petugas Balai Benih Tanaman Pangan UPT Perbenihan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT sebanyak 12 orang.

Agustinus Bria salah satu penangkar jagung dari kabupaten TTU ketika dimintai keterangan, menyampaikan kepada SULUHDESA.COM, bahwa setelah kegiatan ini mereka akan menindaklanjuti semua hal yang didapat dan ia berkomitmen untuk memperluas area produksi,memperbaiki mutu benih, memperbaiki sistem budidaya, mengembangkan jagung komposit yaitu lamuru dan srikandi putih.

“Selama ini produksi memuaskan 1 ha bisa produksi benih 2 ton karena teknik budidaya bagus, benih didapat dari lembaga terpercaya seperti: BPTP, Maros, benih dijual ke pasar umum dengan kisaran harga Rp.12.000-15.000. Untuk pembelian benih melalui anggaran dana desa.” kata Agustinus mengakui.

Agustinus juga berharap supaya kegiatan ini berlanjut  dan melalui kegiatan ini sesama penangkar saling kenal, bertukar informasi, kemampuan /wawasan penangkar  meningkat dan bisa membuat satu perkumpulan penangkar benih.

“Kendala-kendala yang terjadi di lapangan adalah perubahan iklim, petani belum trampil, serta hama sitovilus,” tutup Agustinus. (vrg/vrg)